Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, ce...


Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, cemburu yang suci, cemburu yang wajar dirasakan para pecinta saat apa yang mereka cinta dihina dan dicela begitu saja. 

Hari ini tubuhku menjadi saksi atas wujudan kasih dari luapan manusia yang hatinya penuh dengan rasa rindu. Rindu akan persahabatan yang sejati, persaudaraan yang abadi, dan persatuan yang hakiki. Rindu yang tersampaikan tatkala mereka bersama merapatkan barisan, mepertemukan ujung kaki, dan menyatukan hati dalam seruan doa pada Ilahi.

Hari ini ragaku menjadi saksi atas kebesaran hati dan kekuatan jiwa sebuah umat yang sedang banyak dirundung uji. Umat yang sebagiannya dilaku dzalim dan lalim di ujung-ujung bumi, bahkan di tanah air mereka sendiri. Umat yang kini sebagiannya sedang terbangun, yang kau tahu, saat terbangun sudah tiada lagi yang dapat menakut-nakuti, pun bahkan ancaman mati.

Hari ini aku gembira luar biasa, sebab aku boleh berharap bahwa nanti aku tak akan berakhir hanya sebagai sebuah benda mati, tetapi tubuhku dibangkitkan, ragaku diberi lisan, dan badanku berkekuatan. Aku akan berlari bersama sahabat-sahabatku menuju mereka, menguatkan hujjah mereka di persidangan maha agung, dan menjadi saksi untuk mereka di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil. Pada saat itu, ketika lisan mereka terkunci, aku berharap, pasir-pasir yang menyusunku, batu-batu yang membentukku, dan tiang-tiang pancang yang meninggikanku dapat bercerita penuh haru akan sebuah peristiwa di masa lalu.

Jumat, 2 Desember 2016

Aku, bangunan kuno kebanggaan bangsa
Sebuah lambang perjuangan kemerdekaan
Monumen Nasional.

Bagi saya, setiap orang punya kisahnya sendiri, setiap tempat punya sejarahnya sendiri, dan setiap waktu punya kenangannya sendiri...


Bagi saya, setiap orang punya kisahnya sendiri, setiap tempat punya sejarahnya sendiri, dan setiap waktu punya kenangannya sendiri. Menghargai kenangan adalah sebuah cara untuk memaknai kehidupan. Membaca kembali serpih-serpih kenangan ibarat sebuah rekreasi hati; mengalunkan kembali nada-nada yang pernah terlantun, membangun kembali ruang-ruang yang pernah tersinggah, dan memutar kembali detik-detik yang pernah terlewat.

Kata Gobel, membaca kenangan merupakan sebentuk katarsis yang tak hanya mengekalkan kejadian bahwa “saya pernah ada disana, di suatu tempat, disuatu waktu” namun juga bagaikan merasakan kembali sensasi keindahan (juga mungkin ke-“tidak-indah”-an) saat melaluinya dulu. Membaca kenangan membuat saya semakin sadar, bahwa kehidupan yang saya jalani diwaktu silam, kini dan nanti, layak disyukuri serta dihargai.

Pada akhirnya, di suatu senja kehidupan nanti, saat saya berpulang ke kampung halaman yang sebenarnya, saya berharap, saya dihargai sebagai sepotong kenangan yang manis untuk dikenang oleh mereka yang cinta saya dan mereka yang saya cinta.

tengah malam menjelang hari Ahad

"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augus...


"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augustine

Siang kemarin, ditemani oleh seorang kawan, M. Reza Affandi, saya mencoba membaca satu halaman lain dari sebuah bab buku besar berjudul 'Bumi', yang bertajuk 'Surabaya'.

Halaman yang saya baca kali ini mungkin hanya diminiati satu dua orang saja, sedang yang lain melewatinya, atau bahkan tak pernah mengira bahwa halaman ini pernah ada. Pada halaman ganjil ini ada satu subbab kecil dengan huruf dicetak tebal terbaca "Pemakaman Kembang Kuning" dan satu sub dari subbab kecil itu tertulis miring "Bakti Seorang Yahudi kepada Indonesia".

Kompleks makam orang-orang Yahudi di Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya

Hal yang membuat saya tertarik membaca halaman ini adalah kisah di halaman-halaman sebelumnya yang bercerita tentang sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan yang begitu kompleks antara saya dan saudara-saudara saya, anak cucu spiritual Ismail, dengan mereka, anak-cucu Israil. Hal lain yang membuat saya tertarik membacanya adalah sudah tentu, rasa ingin tahu saya tentang sejarah negeri ini.

Mari akan saya ceritakan sedikit tentang subbab kecil ini.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan juga konflik antara Israel dan Palestina, orang-orang Yahudi telah datang ke Indonesia. Meskipun tidak ada catatan resmi mengenai komunitas Yahudi yang datang sebelum orang-orang Eropa, tetapi menurut sebuah catatan dari abad pertengahan, orang-orang Yahudi telah berdatangan di pulau Sumatra untuk tujuan perdagangan. Salah satunya adalah berasal dari Fustat, Mesir, yang kemudian meninggal di Barus, Sumatra pada tahun 1290. 

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/ba/Selamat_Datang_Di_Kota_Barus_Kota_Bertuah.JPG

Pada kemudian hari, orang-orang Yahudi banyak berdatangan ke Indonesia bersama orang-orang Portugis, Belanda dan Eropa lainnya. Mereka utamanya adalah Yahudi Askhenazi dan beberapa Sefardi.

Tetapi, bukan soal itu yang hendak diceritakan halaman ini. Sub dari subab kecil ini bercerita tentang sosok Yahudi Mizrahi yang pernah memiliki sebuah peran dalam salah satu babak sejarah Indonesia, dia adalah Charles Mussry.

Charles Mussry adalah seorang Yahudi keturunan Iraq, sehingga disebut dengan Yahudi Mizrahi. Beliau adalah putra dari Jacob Mussry. Peran yang membuat beliau berbeda dan kemudian diceritakan pada halaman ini adalah keikutsertaan beliau menyumbang pada dapur umum selama pertempuran Surabaya tertanggal 27 Oktober-20 November 1945.

Yahudi Iraq Surabaya (jewsofjava.com)

Peran semacam itu sangat wajar dilakoni oleh beliau. Beliau adalah seorang pengusaha kaya di Surabaya. Pada masa itu, beliau memiliki bengkel mobil yang terletak di sebelah Rumah Sakit Simpang. Dan selain sangat berkecukupan, istri beliau, Jujuk, adalah seorang pejuang. Beliau memasok makanan untuk para pejuang di medan tempur, termasuk menyelundupkan senjata. Jujuk, yang berasal dari Madiun, sangat dikenal di kalangan pejuang Surabaya. Beliau tergabung dalam Corps Wanita Pejuang.

Perayaan Bar Mitzvah di rumah Charles Mussry (jewsofjava.com)

Aneh? Saya rasa tidak. Setiap orang memiliki rasa kemanusiaan yang universal. Hanya saja pertanyaannya maukah ia mewujudkannya? Dan beliau, Charles Mussry, mau mewujudkannya.

Berbeda dengan sebagian besar komunitas Yahudi yang memilih meninggalkan Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia, keluarga beliau memilih tetap tinggal di Surabaya. Pada batu nisannya yang beraksara Ibrani, tertulis beliau lahir pada 9 Oktober 1919 dan wafat pada 23 Agustus 1971.

Sebuah surat yang beliau ketik untuk Gabriel Dwek yang memilih meninggalkan Indonesia (jewsofjava.com)
Batu Nisan Charles Mussry

Rumah dan bengkel mobil milik beliau kini tinggal kenangan setelah dijual pada kisaran tahun 1960-an. Bersama Rumah Sakit Simpang, saat ini tempat itu telah disulap menjadi pusat perbelanjaan Delta Plaza atau Plaza Surabaya.

Selain rumah dan bengkel, Sinagoge di Jalan Kayun yang dulu pernah beliau bina kini juga tinggal kenangan. Melalui serangkaian peristiwa hukum, hak milik atas tanah dan bangunan rumah ibadah itu berpindah tangan. Tahun 2013, sinagoge yang berstatus sebagai bagunan warisan cagar budaya itu diratakan dengan tanah.

Sinagoge Kayun (jewsofjava.com)

Tulisan di halaman ini tampaknya berhubungan dengan tulisan di halaman yang lain. Ada ekspatriat-ekspatriat lain yang karena kecintaan dan kepeduliannya pada negeri yang indah ini pernah mengorbankan waktu, kesempatan, fikiran, harta dan bahkan nyawa mereka. Membaca halaman ini membuat saya semakin faham tentang makna nasionalisme, merdeka, dan cinta.

Sedang tentang 'sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan' yang sempat saya sebut diatas, sebelumnya saya berharap bahwa dengan membaca halaman ganjil ini saya  semakin faham akan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kini, semoga pada kau pula. Setidaknya pada kemudian hari (dan mungkin kini) kita tidak lagi serta merta dan dengan membabi buta menyalahan, menebar kebencian dan berlaku tidak adil pada yang satu karena yang tiga dari mereka menzalimi yang satu dari kita. Berlakulah adil! Begitu tulis Penulis dan sabda Penutur buku ini.

Baru sedikit yang saya baca dari buku super tebal ini, dan bahkan mungkin tak akan pernah selesai hingga kepulangan saya nanti. Semoga berkesempatan membacanya kembali. Sampai jumpa!

ditulis di malam menjelang Hari Kemerdekaan ke 71
Selamat HUT RI! Barakallah fi umrik, Indonesiaku

Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu univer...

Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu universitas negeri ternama di Indonesia. Dia adalah Muzammil Hasballah, mahasiwa Fakultas Arsiktektur, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2011. Suara Muzammil bahkan digadang-gadang mirip dengan suara imam-imam haramain.


Kemerduan suaranya menjadi magnet tersendiri bagi umat Islam. Hingga beberapa masjid di luar kota Bandung sempat mendatangkannya untuk menjadi imam shalat tarawih di masjid mereka. Tak heran memang, mengaminkan hadits-hadits Rasulullah bahwa para ahli Quran adalah orang-orang yang mulia, umat Islam sangat menghargai para qari' yang dapat mendaraskan al Quran dengan indah dan menyentuh hati.

Adalah Daud alayhis salam, seorang nabi yang diturunkan padanya kitab Zabur yang berisi syair-syair pujian kepada Allah, memiliki suara yang terkenal indah. Hingga semesta menjadi khidmat menyimak saat beliau mendaraskan firman Allah dan bertasbih dengan suaranya yang indah (Ash Shad: 7-20).

Ada yang menarik pada narasi tentang suara merdu beliau, kita dapat mengira dan menafsirkan bahwa tradisi mendaraskan kitab suci telah ada sejak zaman para nabi terdahulu dan dilanjutkan oleh umat-umatnya.

Rasa penasaran akan hal ini menuntun saya untuk mencari lebih lanjut. Dan pada posting kali ini, saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik. Setidaknya semoga posting ini dapat menambah khazanah bagi kita semua agar tidak mudah berpersangka buruk terhadap 'penghuni lapak sebelah', atau untuk manfaat yang lebih besar, yakni membuka peluang dialog-dialog terbuka antar kita untuk dunia yang lebih baik :) , selamat menyimak.

Sedikit mengulas fenomena yang sempat saya singgung diatas, para qari', seperti Muzammil dan qari-qari yang lain, memiliki kekhasan dalam membaca Al Qur'an. Kekhasan ini ada karena penggunaan gaya baca yang berbeda-beda. Gaya baca ini diantaranya merupakan hasil paduan dari tempo dan maqam yang digunakan. Tempo yang dipakai oleh Muzammil misalnya, adalah tartil.

Tartil adalah salah satu tingkatan tempo membaca al Quran yang telah disepakati oleh para ahli tajwid. Tempo yang dimaksud dengan tartil adalah perlahan, tidak terburu-buru. Disamping tartil, ada juga tahqiq atau perlahan (saat pembelajaran), tadwir atau sedang, dan hadr atau cepat [1]. Meskipun ada perbedaan tempo, ketiga tempo baca ini tetap harus mengikuti satu set kaidah hukum bacaan yang disebut ilmu tajwid.

Tajwid adalah ilmu tentang hukum-hukum bacaan dalam Al Quran. Hal ini meliputi pelafalan dan sifat-sifat huruf atau makharijul huruf, panjang pendek bacaaan atau mad, penjedaan atau waqaf, hingga hukum-hukum bacaan khusus seperti idzhar, idgham, iqlab, ikhfa', dsb (baca lanjut disini). Tujuan adanya ilmu tajwid adalah agar makna masing-masing kalimah dan ayat terjaga saat membaca Al Quran. Hal ini misalnya, maliki dengan a pendek berarti raja, sedang maaliki dengan aa panjang berarti pemilik.

Akan tetapi, dalam pembacaan Al Quran dikenal beberapa dialek pembacaan atau yang dikenal dengan qiraat. Ada 7 Imam qiraat yang masyhur, dan masing-masing imam memilik 2 perawi. Sehingga ada 14 riwayat qiraat yang mutawattir. Qiraat-qiraat ini adalah cara pembacaan Al Quran yang memiliki rantai transmisi hingga Rasulullah. Perbedaan pada masing-masing qiraat tidaklah merubah makna utama Al Quran [2]. Contoh perbedaannya adalah maaliki dan maliki, kufuan da kufwan, dsb.



Pada beberapa hadits disebut akan sunnah untuk membaca al Quran dengan irama indah. Hingga kemudian dikenal langgam atau maqam yang umum dipakai dalam membaca al Quran.

Maqam adalah tangga nada pada kebudayaan Arab. Pada perkembangannya, beberapa maqam digunakan dalam pendarasan al Quran. Beberapa maqam tersebut diantaranya adalah bayati, shaba, nahawand, hijaz, rast, sika, dan jiharka. Setiap maqam memiliki kekhasannya masing-masing. Maqam bayati misalnya membawa suasana bahagia, sedang maqam shaba memunculkan suasana sedih, dst. Video dibawah adalah paduan maqamat dalam satu mawal:


Namun pada dasarnya seseorang dapat membaca al Quran tanpa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam tersebut, bahkan pada beberapa fatwa dapat dijumpai keterangan bahwa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam khusus adalah sebaiknya dihindari [3]. Sebab itu tak jarang kemudian muncul langgam-langgam lokal yang merupakan hasil alami perpaduan keunikan seseorang dan budayanya yang termunculkan saat ia membaca Al Quran. Hal inilah yang tampaknya menjadi 'akar masalah' dari fenomena pembacaan Al Quran dengan langgam jawa pada pelakasanaan peringatan Isra' Mi'raj di Istana Negara beberapa waktu yang lalu: "apakah pembacaan dengan langgam tersebut dipaksakan atau muncul secara alami?" [4].

Seperti yang saya janjikan di atas, bahwa saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik, mari kita mulai pembahasannya. Setelah merujuk pada beberapa sumber, saya jumpai tradisi unik yang bahkan diantaranya mirip di antara kalangan penganut agama-agama Abrahamik.


Pada kitab suci agama Yahudi, baik itu Taurat, Neviim, atau Ketuvim (biasa disingkat dengan akronim TaNaKh) terdapat beberapa jenis tanda baca.


Pertama adalah tanda baca huruf, yakni untuk membedakan pelafalan huruf-huruf tertentu (BeGaD KePaT misalnya). Kedua adalah tanda baca vokal yang sejajar dengan harakat dalam bahasa arab (niqqud). Ketiga adalah tanda baca aksen. Keempat adalah tanda baca pendarasan yang disebut dengan te'amim atau teamey hamiqra. Pendarasan lengkap (dengan teamim, biasanya dilakukan saat prosesi keagamaan seperti bar mitzvah ataupun aliyah).


Teamim atau teamey ha miqra, yang secara literal bermakna 'rasa pembacaan', adalah satu set tanda baca -konon hampir 50 tanda baca- yang digunakan untuk mendaraskan kitab suci, termasuk diantaranya adalah tanda panjang pendek, aksen, penjeda, penanda hubungan antar kalimat, hingga notasi. Kalau boleh dimisalkan, tanda baca teamim adalah semisal dengan tanda baca dalam ilmu tajwid, meskipun tidak ada -atau saya yang belum menemukannya- pakem ilmu tajwid untuk bacaan seperti idzhar, iqlab, dsb pada tradisi pembacaan kitab suci Yahudi selain bahwa hal-hal tertentu menjadi fitur kebahasaannya. Contohnya adalah bacaan qamets katan, maqqef, ha (artikel mirip alif lam), dsb.

Spoiler QERA: qamets katan atau qamets chatuph adalah tanda baca yang bentuknya sama dengan qamets. Akan tetapi, tidak seperti qamets yang melambangkan bunyi vokal a, qamets katan mewakili bunyi vokal o. Hal ini terjadi pada satu kondisi khusus, yakni: pada kosa kata tertutup (diakhiri huruf mati) yang tidak memiliki aksen.

Bagaimana? Mirip dengan hukum bacaan tajwid 'kan? Nah untuk proses pembelajaran, sering digunakan tabel zarqa yang berisi seluruh tanda teamim yang diperlukan untuk kemudian dilafalkan dan dihafalkan.


Citarasa teamim pada beberapa wilayah memiliki kekhasan tersendiri, sehingga dikenal teamim yerusalem, syria, dsb. Hal ini sudah tentu berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat terutama berkaitan dengan budaya seni musik kawasan tertentu. Hal ini semakin diperkaya oleh adanya dialek-dialek pelafalan huruf Ibrani. Diantaranya ada Sefardi, Askhenazi, dan Temani (atau Yamani). Pada dialek Askhnezi misalnya, huruf tav akan dibaca 's', sedang pada dialek sefardi timur tengah dan mizrahi, huruf vav akan dibaca 'w'. Sementara itu, tanda baca qamats akan dibaca 'o' pada dialek Temani, tidak 'a' seperti pada dialek lain. Dialek ini juga dipakai dalam pembacan kitab suci. Akan tetapi pada umumnya, umat yahudi akan mengambil tradisi baca Sefardi yang konon lebih dekat dengan tradisi terdahulu.


Nah ada yang unik pada poin selanjutnya, yakni pada poin penggunaan langgam. Pada tradisi pembacaan kitab suci di agama Yahudi, terutama Yahudi timur tengah, terdapat tradisi penggunaan langgam yang langgamnya sama dengan langgam / maqam yang juga digunakandalam pembacaan ayat suci Al Quran. Pada tradisi agama Yahudi, kita juga akan mengenal penggunaan maqam rast, bayati, nahawand, dst dalam pendarasaan kitab suci. Akan tetapi, hal yang unik adalah bahwa pada beberapa sinagog atau komunitas tertentu dikenal pakem maqam khusus untuk parasha tertentu yyang berganti setiap shabbatnya (parasha adalah bagian bacaan taurat, mirip dengan hizb al Quran tetapi pembagiannya lebih didasarkan pada konteks cerita, terdapat jadwal bacaan parasha berbeda untuk setiap harinya)

Maqam untuk parasha tertentu disesuaikan dengan kandugan emosi maqam dan isi parasha. Maqam Rast misalnya, digunakan untuk menandai permulaan, seperti pada parasha-parasha pertama tiap-tiap kitab; Hijaz digunakan pada parasha dengan kisah tragis seperti pada parasha Chayei Sarah dan Vayechi; dan Sika digunakan pada bacaan khusus pada hari raya Purim. tetapi yang unik adalah, sementara pada budaya arab maqam Shaba identik dengan kesedihan, pada tradisi Yahudi, maqam Shaba digunakan pada parasha yang memerikan banyak mitzvot seperti Mishpatim, Qedoshim, dsb. [5] (kunjungi lanjut disini)

(audio pembacaan parasha Beresyit, unduh lenngkap disini)

Menarik, bukan? Kemenarikan tradisi ini tidak hanya berhenti sampai disini, bahkan pada beberapa ritual ibadah, kita akan menemukan hal itu sangat-sangat mirip dengan tradisi di kalangan umat Islam sepeti pada puji-pujian atau selichot ini:


Lalu, bagaimana dengan tradisi umat nasrani?

Pada kalangan umat nasrani timur tengah kita dapat menemukan tradisi tilawatil injil atau yang biasa disebut dengan mulahan (مُلَحَّن) injil. Mulahan injil di kawasan timur tengah ini pada umumnya didaraskan dalam bahasa arab atau suryani.



(audio pembacaan injil Yohanes pasal 1, unduh lenngkap disini)

Selain mengikuti kaidah-kaidah dalam bahasa Arab ataupun suryani, saya belum menemukan kaidah-kaidah khusus semacam hukum tajwid ataupun teamim pada tradisi Nasrani. Tradisi mendaraskan ayat-ayat kitab suci dengan notasi atau lagu tertentu jamak dalam tradisi nasrani denominasi apapun. Bahkan pada tradisi ortodoks, hampir semua liturgi dilagukan. Notasinya pada umumnya disesuaikan dengan konteks teks yang dibaca, pada bacaan tentang surga misalnya, suara akan dinyaringkan, sementara pada bacaan tentang neraka akan diturunkan. Pada masa ottoman nada-nadanya juga disesuaikan dengan nada timur tengah [6].


Jadi bagaimana? Apakah kemiripan ini hanya karena budaya? Atau karena memang kita masih pernah sebapa, bapa Abraham -atau Ibrahim dalam lisan Arab- sehingga masih ada benang merah diantara kita? Pertanyaan itu boleh memiliki jawaban yang berbeda pada kita masing-masing. Tapi yang jelas, dari posting ini saya berharap akan munculnya pemahaman baru diantara kita. Terutama ialah untuk menghindari frasa-frasa klise seperti "ibadah atau ritual contekan" atau "upaya pemurtadan terselubung" yang kerap kali dilontarkan beberapa kawan diantara kita. Semoga kedamaian selalu atas kami dan kamu sekalian! Salam!

Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik...

Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian mengklaim bahwa Kabah tidak samawi dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tradisi Abrahamik. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama, Al Qur'an menjelaskan bahwa Kabah adalah bait Allah pertama di muka bumi yang dibangun untuk manusia (QS. Ali Imran: 96 [i]), yang bahkan para nabi Bani Israil diceritakan (derajat keshahihan periwayatannya belum saya dapatkan) pernah menempuh perjalanan untuk mengunjunginya [1].


Untuk menjawab argumen kalangan Ahlu Kitab tersebut, diantaranya terdapat beberapa usulan missing link yang disampaikan oleh para ulama Islam untuk menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik yang tidak diketahui atau mungkin ditutup-tutupi oleh kalangan tertentu. Diantaranya yang kerap kali disebutkan adalah kisah perjalanan keluarga Ibrahim ke selatan Mesir (Tanah Negev) [2], kemunculan kata Bakkah dalam Mazmur [3], kisah Fathu Makkah [4], tanah Paran [5], ayat-ayat nubuat dalam Alkitab (misal dalam Yesaya [6]), kisah penemuan tulisan berbahasa Suryani  [7], dsb.

Tidak hanya dari kalangan umat Islam sendiri, beberapa missing link tentang Kabah juga disampaikan oleh beberapa ulama Ahlu Kitab seperti oleh Ibn Ezra dalam penjelasan kisah Ismail dan Sumur Zam-Zam dalam tafsir Taurat [8] dan dalam kitab Asatir [9]. Akan tetapi ada sebuah usulan menarik yang disampaikan oleh seorang Rabbi Yahudi Ortodoks, Ben Abrahamson. Melalui fakta historis beliau menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik. Simak penjelasan beliau berikut ini [10]:

Tanya: Rabbi, Anda menyampaikan bahwa "Ka'bah dibangun oleh Onias IV pada tahun 150 SM berdasarkan desain Bait Allah yang dibangun Nabi Sulaiman, namun kemudian digunakan untuk menyembah berhala." Dapatkah Anda mengarahkan saya kepada tulisan Anda tentang hal ini? 
Jawab: Saya sedang menulis sebuah manuskrip berjudul "Bani Quraisy sebagai Keturunan Onias IV." Saya mengusulkan keantikan dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. 
Bukti utama yang saya bawa adalah klaim Josephus bahwa Onias IV membangun Bait di Heliopolis berdasarkan Yesaya 19:19. Ayat ini menyebutkan dua bangunan, satu di Mesir dan satu di perbatasan Mesir. Selama masa Ptolemy VI Philometor, perbatasan Mesir adalah Arabia. Hal ini didukung oleh kemiripan dari segi arsitektur antara Kabah dan bait Onias seperti yang diteliti oleh W.M. Flinders Petrie pada 1906. 
Saya mengusulkan bahwa Quraisy adalah keturunan Imam Tinggi Onias IV. Hal ini didukung oleh pelacakan alternatif pada silsilah Rasulullah, bahwa Adnan adalah Anan (=Hanan, =Onias). Hal ini juga didukung dengan bukti DNA bahwa sejumlah besar dari orang-orang suku Quraisy secara paternal memiliki hubungan dengan Imamat Yahudi. 
Lokasi yang dipilih oleh Onias IV adalah tempat-tempat yang telah diketahui nilai penting keagamaannya. Papirus Elephantine berbicara tentang keantikan luar biasa altar Mesir, dan implikasinya, Onias boleh jadi memilih untuk membangun kembali di Arabia di lokasi yang sebelumnya telah memiliki jejak tradisi Abrahamik. 
At Tabari menyampaikan bahwa pada di masa sebelum Islam, korban juga dilakukan atas nama Allah. Darah hewan yang telah disembelih dituangkan di dinding-dinding Kabah dan dagingnya di gantungkan pada pilar-pilar di ssekitar kabah, dalam keyakinan bahwa Allah memerintahkan pengurbanan darah dan daging hewan. Bahkan Tabari secari spesifik bahwa Hasan Tubba' menghabiskan tahun-tahunnya di altar kurban (mitbachim) di Kabah. 
Setelah mendiskusikan bait Onias, pada Talmud Menuchot 109a ditemukan diskusi mengenai Bait yang lain di "Sungai Yordan" yang telah jatuh dalam paganisme. Hal ini berarti bahwa dalam kurun 150 SM hingga 270 SM, paganisme dipraktikkan di sekitar Kabah. 
Akan tetapi menurut sumber-sumber Islam, sebagian praktik monoteisme kembali dilakukan pada sekitar tahun 275 M, ketika Shamir Yuhar'esh II Tubba', menjadi raja Kerajaan Himyar. Pada sebuah ekspedisi menuju utara Arabia, dia melewati Yatsrib. 
Sebagai bagian dari sebuah sekongkol, dia diberitahu bahwa sebuah harta berharga dipendam di bawah Kabah sehingga ia ingin menghancurkannya (dan mengambil harta tersebut, red.). Yahudi dari Yatsrib mewanti-wantinya untuk tidak meneruskan rencananya sebab Kabah adalah tempat suci. 
Shamir Yuhar'esh II Tubba' bertanya mengenai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di Kabah. Mereka menjawab "Ketika Anda sampai di sana, lakukan seperti yang umat lakukan: bertawaf, memuliakan, dan menghormatinya, lalu cukur kepala Anda saat berada di sana, dan rendahkan diri Anda sampai Anda meninggalkan daerah sekitarnya." Dia bertanya, "Apa yang mencegah Anda [Yahudi] dari melakukan hal tersebut?" Mereka menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya ia adalah bait nenek moyang kita Abraham, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Akan tetapi orang-orang lokal telah membuat batas antara kami dan bait itu, berbagai berhala mereka pasang di sekitarnya dan darah-darah mereka curahkan di sana." Mengacu pada tradisi kesucian para Imam Lewi, mereka menjawab "Mereka adalah pagan yang najis," atau kata-kata senada hal itu. Tubba' mendengar saran dan mengakui kebenaran kata-kata mereka. Kemudian ia bermimpi bahwa ia harus menutupi bait tersebut, sehingga ia menutupinya dengan lembar anyaman daun palem (ini adalah kisah kiswah yang pertama menutupi Kabah, red.). 
Sebuah konfirmasi dari Talmud Megilah 10a tentang tahun ini (275 M). "Rabbi Isaac mengatakan: Saya pernah mendengar bahwa kurban dapat dipersembahkan di bait Onias pada masa kini. Hal ini karena sebuah pendapat bahwa bait Onias tidak lagi sebuah kuil penyembah berhala." Banyak tafsir yang mengasumsikan ini adalah bait Onias Mesir, akan tetapi frasa "pada masa kini" berarti saat Rabbi Isaac hidup (280-330 M). Pada masa tersbeut, bait di Mesir tidak lagi ada, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa pada awal tahun 280 M, beberapa umat yahudi masih beribadah dan mempersembahkan kurban di Kabah.

Kisah mengenai Tubba' dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam / Ibnu Ishaq ini adalah khazanah yang sudah banyak diketahui oleh Umat Islam [11]. Akan tetapi salah satu hal yang perlu dicermati pada penjelasan beliau adalah crosscheck pada sumber-sumber Yahudi yang semakin menguatkan bahwa kisah Tubba' dalam khazanah Islam ini bukan hanya klaim sepihak, tetapi juga dikuatkan dari sumber Ahlu Kitab.

Semoga artikel ini semakin menambah keyakinan kita atas keparipurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Wallahu a'lam bishshowab.

player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio) . . . and the day come! Pada satu hari di bulan Mei tahun itu, 2015, sebuah aca...

player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio)

. . . and the day come!

Pada satu hari di bulan Mei tahun itu, 2015, sebuah acara untuk mengkhidmatkan syukur diwujudkan, Nubir 2015, The Royal May.










Pengkhidmatan ini bukanlah sebuah perayaan atas akhir dari sebuah perjuangan, namun justru adalah sebuah pengkhidmatan untuk kembali mengumpulkan energi semesta dalam memulai sebuah perjuangan baru yang lebih besar.



Jejak-jejak yang lalu bukanlah bekas dari perjalanan yang sebenarnya. Mereka adalah langkah-langkah awal, pondasi-pondasi pertama, dan batu-batu loncatan tempat kami berpijak pertama kali. Mereka adalah kenangan yang akan mengantarkan kami menuju mimpi-mimpi kami: untuk berkarya bagi agama dan bangsa, untuk menjadi manfaat bagi diri sendiri dan sekeliling kami, dan untuk mempersiapkan sejumput bekal buat pulang ke kampung halaman nanti.

Saya rasa patahan kata ini masih relevan:

Dalam perjalanan 3 tahun itu, banyak manusia-manusia berjasa yang dengan segenap tenaga membantu saya menjadi siswa yang lebih luar biasa. Adalah Bpk. Bambang Sumpeno sebagai Kepala SMAN 1 Jember, saya ucapkan terima kasih kepada beliau, yang dengan jasa, pengorbanan waktu, dan usaha beliau, saya bisa menjadi siswa yang memperoleh banyak sekali pengalaman berharga. 
Kemudian saya ucapkan terima kasih kepada Guru Pendidikan Agama Islam, yang mengajarkan saya menjadi hamba Tuhan yang baik. Berikutnya, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh Guru Pendidikan Kewarganegaraan, yang telah mengajarkan saya menjadi seorang warga negara yang baik. Saya ucapkan terima kasih kepada Guru Bahasa Indonesia, yang dengan bantuan dan bimbingan beliau semua saya dapat menulis sepatah kata ini dengan baik. Terima kasih saya kepada seluruh Guru Matematika atas usahanya menjadikan saya calon ilmuan masa depan, aamiin. 
Terima kasih saya kepada seluruh Guru IPA atas ilmunya sehingga saya bisa mengatahui alam indah yang luas ini. Terima kasih saya kepada seluruh Guru IPS, atas pelajaran sosial, geografi, ekonomi dan sejarah sebagai bekal membangun bangsa ini. Terima kasih saya kepada seluruh Guru Bahasa Inggris, yang telah membantu saya bercas-cis-cus untuk mendapatkan segala informasi dari dunia luar. Terima kasih saya kepada seluruh Guru Seni Budaya, yang mengajarkan saya tidak hanya bermusik dan melukis tetapi juga arti keindahan. Terima kasih saya kepada seluruh Guru TIK, untuk seni mengguna digiti yang sangat berguna di era ini. Terima kasih saya kepada seluruh Guru Olah Raga, dengan bantuan beliau saya bisa menjadi manusia yang sehat. Terima kasih saya kepada seluruh Guru Bimbingan Konseling, atas segala solusi untuk masalah saya. 
Terima kasih saya kepada seluruh staff TU, atas bantuannya menyiapkan segala berkas yang saya butuhkan. Terima Kasih saya kepada wali kelas-wali kelas saya atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbakti. Dan terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan, terima kasih kepada kakak-kakak dan adik-adik saya yang telah mau menjadi sahabat saya selama 3 tahun ini dan menemani saya di rumah kedua saya ini. (Mardiansyah, 2009 -dengan penyesuaian-) 
Pun, saya berterima kasih kepada Budhe, mbah dan keluarga yang telah berkenan menjadi orang tua saya selama 3 tahun ini. Semoga Allah membalas kebaikan yang mereka berikan. Mereka, orang-orang yang pernah menandatangani surat keterangan sakit saya, dan kamar kos, kamar kecil yang pernah saya sandingkan dengan kata pulang.

Semua keseruan masa putih abu-abu ini telah usai. Tawa itu, duka itu, keseraman itu, guyonan itu, kecewa itu, marah itu, senang itu, tangis itu, ketakutan itu, kekhawatiran itu, semua tak lagi sama. Yang tertinggal hanyalah sebuah kenangan, untuk dikenang, untuk menjadi penyemangat, untuk menjadi pelajaran, untuk mendorong kami agar terus berjalan, belajar dan berkarya, bukan untuk apa, untuk langkah-langkah pertama kami, untuk senyum orang-orang yang menyayangi kami, dan senyum mereka yang kami sayangi.




Ah, hanya gedung-gedung yang sudah terpugar itu yang akan menjadi saksi bisu saat kami menapakkan langkah-langkah pertama kami. Kami akan meneruskan perjalanan panjang kami, untuk berkarya di tempat persinggahan, untuk kemudian pulang dengan tenang. Sampai jumpa ...

diselesaikan di negeri orang, Kota Para Pahlawan
kala rembulan penuh masih meratapi kepergian kasih.

.

.

.

.

.


sementara itu, awal mei yang lalu ...