"Kapanpun kamu ingin membaca Taurat, Injil, Suhuf Ibrahim, Musa, Shalih, atau nabi dan rasul yang lain, lalu bacalah Al Quran. ...


"Kapanpun kamu ingin membaca Taurat, Injil, Suhuf Ibrahim, Musa, Shalih, atau nabi dan rasul yang lain, lalu bacalah Al Quran. Sebab ia adalah jalan lurus Allah yang semua (utusan) sebelumnya dibimbing.” Ibn Barrajan, 1141

Assalamu alaykum, shalom alechem, damai sejahtera atas kita semua! Bagaimana kabar? Semoga senantiasa dalam keadaan baik iman, jiwa, dan kesehatan. Aamiin. Setelah sekian lama tidak  mengunggah tulisan baru, alhamdulillah, kali ini bisa mengunggahnya kembali. Pada suasana bulan Muharram ini saya mencoba mengompilasi informasi dan menulis perihal Puasa Asyura. Bahasan ini sebenarnya pernah saya unggah di posting terdahulu, Hari Asyura: Yom Kippur atau Pesach? Muharram atau Rabiul Awwal? , namun kali ini saya mencoba membahasnya lebih dalam. InsyaaAllah Tunggu apalagi, segera sediakan secangkir minuman hangat, dan selamat menikmati! Semoga bermanfaat


Puasa Asyura: Sunnah Rasulullah


Rasulullah tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya : “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.” Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” [HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130]

Yaum Asyura adalah salah satu hari yang disunnahkan di dalamnya berpuasa karena keutamaan hari tersebut. Bahkan menurut beberapa riwayat, puasa di hari Asyura disebutkan sebagai bentuk puasa 'wajib' pertama umat Islam sebelum perintah puasa wajib di bulan Ramadhan turun. 

‘Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, puasa Ramadhan itulah yang beliau kerjakan. Lalu beliau tinggalkan puasa Asyura. “Siapa yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa.” [HR. Bukhari: 2002 dan Muslim:1125]

Apakah ini berarti Rasulullah bertasyabbuh?

Imam Nawawi menjelaskan, “Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian beliau tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa Asyura, lalu beliau pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”

Selain keutamaan historis religiusnya, seperti yang tercantum dalam hadits di atas, terdapat pula keutamaan spiritual berpuasa di hari Asyura yakni puasa di hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Rasulullah ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim: 1162]

Namun demikian sebagai bentuk pembeda antara umat Islam dan ahlul kitab, Rasulullah berkeinginan untuk menambah puasa di hari ke-9 di tahun berikutnya. 

Ibnu Abbas berkata: saat Rasulullah berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat melapor: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga.” Ibnu Abbas bercerita, “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” [HR. Muslim: 1134]


Asyuranya Ahlut Taurat


Pada hadits yang menjelaskan alasan orang Yahudi berpuasa di hari Asyura, para ulama, terutama yang mendalami perbandingan agama dan kajian kitab-kitab samawi, berbeda pendapat berkenaan dengan hari apakah sebenarnya ‘hari itu’. Terdapat ulama yang menisbatkannya pada ‘Idul Fatir atau ‘Idul Fishu, yakni Pesach atau Passover. Namun ada juga yang menisbatkannya pada Yaumul Ghufran, yakni Yom Kippur.

Ulama yang menisbatkannya pada ‘Idul Fatir menyebutkan bahwa ‘hari itu’ adalah sebuah perayaan atas diselamatkannya Bani Israil dari musuh mereka, yakni peristiwa eksodus atau hijrah. Hari raya dalam syariat Yahudi yang dikhususkan untuk memperingati peristiwa tersebut adalah ‘Idul Fatir atau Pesach. Akan tetapi berdasarkan kalender Yahudi, ‘Idul Fatir diperingati pada tanggal 15 bulan Nisan (bulan pertama dalam kalender keagamaan, atau bulan ketujuh dalam kalender sipil) bukan tanggal 10 seperti yang dilestarikan oleh umat Islam saat ini. Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah hari raya ini tidak dirayakan dalam bentuk puasa, tetapi justru dalam bentuk pengurbanan dan makan malam khusus yang disebut makan seder dengan roti khusus yang disebut matza (roti tak beragi).

Sementara itu, ulama dengan pendapat yang kedua menyatakan bahwa ‘hari itu’ adalah Yom Kippur yang terjadi pada tanggal 10 di bulan pertama, yakni 10 Tisyri (bulan pertama kalender sipil Yahudi), dan juga diperingati dengan cara berpuasa bahkan selama 25 jam lamanya. Akan tetapi, keterangan bahwa ‘hari itu’ diperingati sebagai hari diselamatkannnya Bani Israil dari musuh mereka tampak tidak relevan dengan tema Yom Kippur sebagai hari Pendamaian / Pertaubatan dan menjadi antitesis bagi pendapat ini.

Namun, seorang hakham Yahudi, Rabbi Ben Abrahamson, memberikan penjelasan bahwa hal itu masih relevan. Beliau menyebutkan bahwa setiap hari raya dalam syariat Yahudi juga diperingati dengan cara dan untuk mengenang kisah eksodus karena eksoduslah yang menjadi awalan bagi turunnya semua perintah Taurat yang lain. Selain itu, keterangan lain yang dapat ditambahkan adalah bahwa Yom Kippur disebut juga Shabbat Shabbaton atau Sabatnya Sabat.

“Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh (shabbat shabbaton), bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.” [Wayyiqra 16: 31]

Dalam kitab Taurat Yahudi, ada disebutkan bahwa hari Sabat diperingati bukan karena Allah ‘beristirahat’ setelah penciptaan pada hari tersebut, tetapi ia dikuduskan sebagai sebuah peringatan akan peristiwa eksodus:

“Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Allah, Tuhanmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Allah, Tuhanmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.” [Devarim 5: 14]

Maka, bila hari Sabat biasa saja dirayakan untuk mengenang peristiwa eksodus, maka Yom Kippur sebagai Shabbat Shabbaton dapat dimaknai sebagai sebuah ‘maha’ peringatan akan peristiwa eksodus.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, kami menjumpai kesimpulan bahwa ‘hari itu’ lebih dekat hubungannya dari Yom Kippur atau Yaumul Ghufran, hari Pengampunan. Wallahu a’lam


Rumor Hadits Palsu


Terdapat sebagian ulama dan umat Islam yang berkeberatan dengan hadits yang menjadi dasar diperingatinya hari Asyura tersebut. Sebagian dari mereka berkeberatan dengan penisbatannya kepada tanggal 10 Asyura karena peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Sebagian yang lain, terutama dari kelompok Syi’ah, menyampaikan bahwa hadits hari Asyura, seperti yang disebutkan diatas, adalah fabrikasi dan dibuat-buat untuk menjadi tandingan peringatan duka atas wafatnya Imam al Hussain di Karbala. Dan sebagian yang terakhir berpendapat bahwa dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang-orang Yahudi bersuka cita pada hari itu, sedang hal ini tidak cocok dengan tema Yom Kippur sebagai hari Pertaubatan. Lalu, bagaimana penjelasannya?

Perihal keberatan yang pertama, bahwa peristiwa hijrah Rasulullah terjadi di bulan Rabiul Awwal sehingga seharusnya puasa Asyura tidak jatuh pada tanggal 10 Muharram, terdapat beberapa alternatif penjelasan untuk mendamaikannya. Penjelasan pertama disampaikan oleh ulama Islam Imam Ibn Hajar al Asyqalani. Beliau menyatakan bahwa hal ini dapat bermaksud Rasulullah mengetahui perihal puasa Asyura yang dilakukan umat Yahudi adalah setelah beliau sampai di Madinah dan mengamati Yahudi berpuasa pada hari itu untuk yang kali pertama. Dengan kata lain, Rasulullah tiba di Madinah, tinggal di sana sampai Asyura, dan menjumpai umat Yahudi berpuasa. Penjelasan berikutnya disampaikan oleh seorang hakham Yahudi, Rabbi ben Abrahamson. Beliau menyampaikan bahwa terdapat perbedaan dasar penanggalan di Jazirah Arab sebelum peristiwa Haji Wada’ dan setelahnya. Sebelum Haji Wada’, orang-orang melakukan interkalasi pada sistem penanggalan yang dipakai. Interkalasi adalah penambahan satu bulan ekstra untuk menyesuaikan kalender dengan musim atau hal yang lain. Pada saat Haji Wada’, sistem interkalasi kalender dilarang oleh Allah karena kebiasaan orang Arab ialah melakukan interkalasi sesuai dengan keinginannya sendiri (hal ini berhubungan dengan bulan-bulan haram yang pada bulan tersebut perang dilarang). Setelah Haji Wada’ inilah penanggalan Islam dihitung berdasarkan perputaran bulan secara murni. Perbedaan sistem lunar murni dan lunisolar inilah yang menjadikan Muharram saat ini adalah Rabiul Awwal saat peristiwa hadits puasa Asyura itu terjadi.

Keberatan yang kedua menyatakan bahwa hadits puasa Asyura, seperti yang disebutkan diatas, adalah fabrikasi dan dibuat-buat untuk menjadi tandingan peringatan duka atas wafatnya Imam al Hussain di Karbala. Hadits ini diriwayatkan tidak hanya dalam satu riwayat namun ada di banyak riwayat: Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, dan Ath-Thoyalisi 928. Periwayatan yang banyak ini menandakan tingkat keshahihan (kemungkinan hal tersebut terjadi dan benar) hadits tersebut adalah besar. Sehingga kemungkinan hadits tersebut adalah fabrikasi semakin kecil, insyaaAllah.

Perihal Tragedi Karbala, sudah sepatutnya seorang muslim ikut berduka dengan tragedi tersebut. Akan tetapi tidak berlebihan didalamnya insyaaAllah adalah yang lebih tepat. Beristirja’ adalah salah satu hal yang dianjurkan saat mendapatkan musibah, bukan meratap terlalu berlebihan atau merobek baju dan melukai diri sendiri.

Keberatan berikutnya adalah ketidakcocokan Yom Kippur sebagai Hari Pertaubatan dengan perayaan dan baju bagus. Terdapat keterangan yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah menjadikan ‘hari itu’ sebagai hari raya dan mereka memakaikan perhiasan dan pakaian indah kepada kaum wanitanya.

Ibnu Abbas berkata: saat Rasulullah berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat melapor: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga.” Ibnu Abbas bercerita, “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” [HR. Muslim: 1134]

Hal ini tampak tidak cocok dengan tema Yom Kippur sebagai Hari Pertaubatan yang seharusnya diperingati dengan khidmat dan tenang. Akan tetapi, terdapat sebuah keterangan menarik dalam kitab Yahudi yang menyatakan bahwa hari Yom Kippur adalah hari dimana gadis-gadis muda di Yerusalem akan memakai baju putih dan menari di kebun-kebun.

Rabbi Shimon ben Gamaliel mengatakan “Tidak ada hari raya yang lebih menggembirakan di Israel daripada Perayaan Tanggal 15 Av dan Yom Kippur, yakni ketika gadis-gadis Yerusalem keluar rumah dengan baju putih. Mereka menggunakan baju pinjaman agar tidak membuat malu orang-orang yang tidak memilikinya.” [Misynah Ta’anit 4: 8]

Keterangan ini menjadi ‘pendamai’ akan pendapat tersebut sekaligus menjadi informasi bahwa konsep hari raya dalam syariat Yahudi (boleh jadi pemahaman di saat itu saja atau sampai kini) sedikit berbeda dengan konsep hari raya dalam Islam, dimana pada semua hari raya Islam (tidak termasuk hari puasa-puasa sunnah) seorang muslim diharamkan berpuasa.

Akan tetapi, di luar keberatan-keberatan diatas yang menjadi pembeda dalam teknis melaksanakan ataupun memaknai hari Asyura, sebagai muslim sudah sepatutnya kita saling menghargai pendapat yang diambil oleh saudara muslim yang lain meskipun berbeda (asal berdasar dan apalagi perbedaannya hanya terletak pada hal furu serta khazanah) dan tidak menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai penghalang bersatunya umat. Wallahu a’lam


Yom Kippurnya Al Quran


Meskipun bukan sebuah kitab sejarah, Al Quran mendokumentasikan sebagian sejarah umat-umat terdahulu untuk diambil darinya ibrah dan pembelajaran bagi para pembacanya. Sebagian kisah-kisah tersebut ternyata juga terdokumentasikan di kitab-kitab sebelumnya. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan ketika beberapa ayat Al Quran menceritakan bagaimana kondisi ahlul kitab yang membaca Al Quran dan kemudian seperti bernostalgia, mereka menangis dan tersedu membaca firman Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” [Al Isra’ 17: 107-109]

Yom Kippur dalam syariat Yahudi merupakan hari kudus yang di hari itu dosa-dosa umat Yahudi diampuni. Sebab hal tersebut, ia dikenal dengan nama Yaumul Ghufran atau Hari Pengampunan di kalangan umat Yahudi Arab. Selaras dengan hal tersebut, penghapusan dosa juga diidentikkan dengan keutamaan berpuasa di hari Asyura. Pengidentikkan ini ternyata tidak tak beralasan, ada sejarah dibalik hari tersebut yang ternyata diceritakan di Taurat dan juga Al Quran.

Kisah ini bermula dari sampainya Bani Israel di padang Sinai pada awal bulan Sivan setelah perjalanan panjang di padang pasir di bawah perlindungan Allah. Perjalanan panjang yang penuh keajaiban itu, seperti terbelahnya laut merah, manna dan salwa, air yang terpancar, dan terkalahkannya Amalek, meneguhkan iman di hati orang-orang Bani Israil dan sekaligus ukhuwah diantara mereka.

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). [Al Baqarah 2: 40] 
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. [Al Baqarah 2: 47] 
Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. [Al Baqarah 2: 49-50] 
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘”Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al Baqarah 2: 55-57] 
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al Baqarah 2: 60]

Setelah berbagai keajaiban tersebut, di padang Sinai, Allah mengambil perjanjian dari Bani Israil untuk senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lalu kemudian, Nabi Musa dipanggil menghadap Allah untuk menerima Taurat. 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa’.” [Al Baqarah 2: 64]

Namun apa yang terjadi berikutnya?

“Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” [Al Baqarah 2: 65]

Apakah yang terjadi sehingga tanpa karunia dan rahmat Allah mereka tergolong orrang yang merugi? Yang terjadi adalah sebuah tragedi yang umat Yahudi menyebutnya sebagai Chet ha 'Eggel, Dosa Anak Lembu.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.” [Al Baqarah 2: 51]

Kisah ini didetailkan dalam beberapa ayat lain di dalam Al Quran, diantaranya:

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”. [Al Araf 7: 142] 
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” [Al Araf 7: 145] 
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”. 
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”  
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Araf 7: 148-153]

Dan ini klimaksnya,

Maka Musapun berdiri di pintu tempat kemah itu serta berkata: “Barangsiapa yang sebelah Allah marilah kepadaku.” Maka berhimpunlah kepadanya semua anak Lewi. Maka kata Musa kepadanya: “Demikianlah firman Allah, Tuhan Israel: ‘Hendaklah masing-masing kamu sandangkan pedangnya dan hendaklah kamu pergi datang dalam tempat kemah ini dari pada suatu pintu kepada suatu pintu dan hendaklah masing-masing kamu membunuh saudaranya dan masing-masing membunuh sahabatnya dan masing-masing membunuh orang sekampungnya’.” 
Maka diperbuatlah oleh anak-anak Lewi seperti kata Musa itu maka pada hari itu matilah dari pada kaum itu kira-kira tiga ribu orang banyaknya. Maka kata Musa: “Sucikanlah dirimu bagi Allah pada hari ini bahkan masing-masing kamu atas melawan anaknya dan masing-masing atas saudaranya supaya pada hari ini dikaruniakan-Nya kepadamu suatu berkat.” [Syemot 32: 27-29]

Hari itu, beribu orang Bani Israel saling membunuh dan terbunuh. Ada seseorang yang berhadapan dengan bapaknya atau saudaranya, lalu membunuhnya sedangkan ia dalam keadaan tidak mengetahuinya. Pada saat itu mereka saling berseru, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada hamba yang bersabar atas dirinya sampai ia mendapatkan ridha-Nya. Akhirnya mereka yang terbunuh gugur sebagai syuhada’, sedangkan orang-orang yang masih hidup diterima taubatnya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, 945, dengan sanad yang shahih). Kemudian dibacakanlah firman Allah, 

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’.” [Al Baqarah 2: 54] 
Maka pada keesokkan harinya kata Musa kepada kaum itu: “Bahwa kamu sudah berbuat suatu dosa yang besar maka sekarang aku hendak naik menghadap Allah kalau-kalau dapat aku mengadakan perdamaian karena dosamu itu.” [Syemot 32: 30] 
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya”. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. ... " [Al Araf 7: 148-156] 
Maka firman Allah kepada Musa: “Barangsiapa yang telah berdosa kepada-Ku ialah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku. Maka sekarang pergilah engkau hantarkanlah kaum itu ke tempat yang telah Aku katakan kepadamu maka ingatlah bahwa malaikat-Ku akan berjalan di hadapanmu tetapi pada hari pembalasan-Ku maka Aku akan membalas dosanya itu ke atasnya.” [Syemot 32: 34] 
... Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". [Al 'Araf 7: 156]

Setelah Nabi Musa kembali, Allah memerintahkan baliau untuk menulis luh-luh baru yang sama seperti luh-luh pertama. Pada hari pertama bulan Elul, Nabi Musa kembali menghadap (hal ini diisyaratkan di dalam Al Quran, dimana disebutkan beberapa kali perihal Allah memberikan Taurat kepada Bani Israil), selama 40 hari 40 malam, menatah kembali perintah Allah di luh-luh batu dan Allah mengampuni Bani Israil.

Memegang luh-luh yang baru di tangan beliau, Nabi Musa berdiri di Bukit Sinai dan Allah mengajarkannya cara bagaimana Bani Israil melakukan pendamaian, yakni dengan taubat dan shalat. Lalu Allah berfirman:

“Allah, Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih, yang panjang sabar dan limpahlah rahmat-Nya dan kebenaran-Nya. Yang menyimpan rahmat bagi beribu-ribu orang serta mengampuni kejahatan dan dosa dan yang sekali-kali tidak membenarkan orang jahat melainkan membalaskan kejahatan segala bapa ke atas anak cucunya sampai keturunannya yang ketiga dan yang keempat.” [Syemot 34: 6-7]

Lalu bersujudlah Nabi Musa, menundukkan kepalanya sampai ke bumi serta menyembah. Hari itu adalah hari ke 10 bulan Tisyri, hari Pertaubatan, Yaumul Ghufran, Yom Kippur. Kemudian dilanjutkanlah firman Allah:

"... Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al Araf 7: 156 – 157]

Maha Benar dan Maha Agung Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu a’lam.

Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, ce...


Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, cemburu yang suci, cemburu yang wajar dirasakan para pecinta saat apa yang mereka cinta dihina dan dicela begitu saja. 

Hari ini tubuhku menjadi saksi atas wujudan kasih dari luapan manusia yang hatinya penuh dengan rasa rindu. Rindu akan persahabatan yang sejati, persaudaraan yang abadi, dan persatuan yang hakiki. Rindu yang tersampaikan tatkala mereka bersama merapatkan barisan, mepertemukan ujung kaki, dan menyatukan hati dalam seruan doa pada Ilahi.

Hari ini ragaku menjadi saksi atas kebesaran hati dan kekuatan jiwa sebuah umat yang sedang banyak dirundung uji. Umat yang sebagiannya dilaku dzalim dan lalim di ujung-ujung bumi, bahkan di tanah air mereka sendiri. Umat yang kini sebagiannya sedang terbangun, yang kau tahu, saat terbangun sudah tiada lagi yang dapat menakut-nakuti, pun bahkan ancaman mati.

Hari ini aku gembira luar biasa, sebab aku boleh berharap bahwa nanti aku tak akan berakhir hanya sebagai sebuah benda mati, tetapi tubuhku dibangkitkan, ragaku diberi lisan, dan badanku berkekuatan. Aku akan berlari bersama sahabat-sahabatku menuju mereka, menguatkan hujjah mereka di persidangan maha agung, dan menjadi saksi untuk mereka di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil. Pada saat itu, ketika lisan mereka terkunci, aku berharap, pasir-pasir yang menyusunku, batu-batu yang membentukku, dan tiang-tiang pancang yang meninggikanku dapat bercerita penuh haru akan sebuah peristiwa di masa lalu.

Jumat, 2 Desember 2016

Aku, bangunan kuno kebanggaan bangsa
Sebuah lambang perjuangan kemerdekaan
Monumen Nasional.

Bagi saya, setiap orang punya kisahnya sendiri, setiap tempat punya sejarahnya sendiri, dan setiap waktu punya kenangannya sendiri...


Bagi saya, setiap orang punya kisahnya sendiri, setiap tempat punya sejarahnya sendiri, dan setiap waktu punya kenangannya sendiri. Menghargai kenangan adalah sebuah cara untuk memaknai kehidupan. Membaca kembali serpih-serpih kenangan ibarat sebuah rekreasi hati; mengalunkan kembali nada-nada yang pernah terlantun, membangun kembali ruang-ruang yang pernah tersinggah, dan memutar kembali detik-detik yang pernah terlewat.

Kata Gobel, membaca kenangan merupakan sebentuk katarsis yang tak hanya mengekalkan kejadian bahwa “saya pernah ada disana, di suatu tempat, disuatu waktu” namun juga bagaikan merasakan kembali sensasi keindahan (juga mungkin ke-“tidak-indah”-an) saat melaluinya dulu. Membaca kenangan membuat saya semakin sadar, bahwa kehidupan yang saya jalani diwaktu silam, kini dan nanti, layak disyukuri serta dihargai.

Pada akhirnya, di suatu senja kehidupan nanti, saat saya berpulang ke kampung halaman yang sebenarnya, saya berharap, saya dihargai sebagai sepotong kenangan yang manis untuk dikenang oleh mereka yang cinta saya dan mereka yang saya cinta.

tengah malam menjelang hari Ahad

"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augus...


"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augustine

Siang kemarin, ditemani oleh seorang kawan, M. Reza Affandi, saya mencoba membaca satu halaman lain dari sebuah bab buku besar berjudul 'Bumi', yang bertajuk 'Surabaya'.

Halaman yang saya baca kali ini mungkin hanya diminiati satu dua orang saja, sedang yang lain melewatinya, atau bahkan tak pernah mengira bahwa halaman ini pernah ada. Pada halaman ganjil ini ada satu subbab kecil dengan huruf dicetak tebal terbaca "Pemakaman Kembang Kuning" dan satu sub dari subbab kecil itu tertulis miring "Bakti Seorang Yahudi kepada Indonesia".

Kompleks makam orang-orang Yahudi di Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya

Hal yang membuat saya tertarik membaca halaman ini adalah kisah di halaman-halaman sebelumnya yang bercerita tentang sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan yang begitu kompleks antara saya dan saudara-saudara saya, anak cucu spiritual Ismail, dengan mereka, anak-cucu Israil. Hal lain yang membuat saya tertarik membacanya adalah sudah tentu, rasa ingin tahu saya tentang sejarah negeri ini.

Mari akan saya ceritakan sedikit tentang subbab kecil ini.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan juga konflik antara Israel dan Palestina, orang-orang Yahudi telah datang ke Indonesia. Meskipun tidak ada catatan resmi mengenai komunitas Yahudi yang datang sebelum orang-orang Eropa, tetapi menurut sebuah catatan dari abad pertengahan, orang-orang Yahudi telah berdatangan di pulau Sumatra untuk tujuan perdagangan. Salah satunya adalah berasal dari Fustat, Mesir, yang kemudian meninggal di Barus, Sumatra pada tahun 1290. 

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/ba/Selamat_Datang_Di_Kota_Barus_Kota_Bertuah.JPG

Pada kemudian hari, orang-orang Yahudi banyak berdatangan ke Indonesia bersama orang-orang Portugis, Belanda dan Eropa lainnya. Mereka utamanya adalah Yahudi Askhenazi dan beberapa Sefardi.

Tetapi, bukan soal itu yang hendak diceritakan halaman ini. Sub dari subab kecil ini bercerita tentang sosok Yahudi Mizrahi yang pernah memiliki sebuah peran dalam salah satu babak sejarah Indonesia, dia adalah Charles Mussry.

Charles Mussry adalah seorang Yahudi keturunan Iraq, sehingga disebut dengan Yahudi Mizrahi. Beliau adalah putra dari Jacob Mussry. Peran yang membuat beliau berbeda dan kemudian diceritakan pada halaman ini adalah keikutsertaan beliau menyumbang pada dapur umum selama pertempuran Surabaya tertanggal 27 Oktober-20 November 1945.

Yahudi Iraq Surabaya (jewsofjava.com)

Peran semacam itu sangat wajar dilakoni oleh beliau. Beliau adalah seorang pengusaha kaya di Surabaya. Pada masa itu, beliau memiliki bengkel mobil yang terletak di sebelah Rumah Sakit Simpang. Dan selain sangat berkecukupan, istri beliau, Jujuk, adalah seorang pejuang. Beliau memasok makanan untuk para pejuang di medan tempur, termasuk menyelundupkan senjata. Jujuk, yang berasal dari Madiun, sangat dikenal di kalangan pejuang Surabaya. Beliau tergabung dalam Corps Wanita Pejuang.

Perayaan Bar Mitzvah di rumah Charles Mussry (jewsofjava.com)

Aneh? Saya rasa tidak. Setiap orang memiliki rasa kemanusiaan yang universal. Hanya saja pertanyaannya maukah ia mewujudkannya? Dan beliau, Charles Mussry, mau mewujudkannya.

Berbeda dengan sebagian besar komunitas Yahudi yang memilih meninggalkan Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia, keluarga beliau memilih tetap tinggal di Surabaya. Pada batu nisannya yang beraksara Ibrani, tertulis beliau lahir pada 9 Oktober 1919 dan wafat pada 23 Agustus 1971.

Sebuah surat yang beliau ketik untuk Gabriel Dwek yang memilih meninggalkan Indonesia (jewsofjava.com)
Batu Nisan Charles Mussry

Rumah dan bengkel mobil milik beliau kini tinggal kenangan setelah dijual pada kisaran tahun 1960-an. Bersama Rumah Sakit Simpang, saat ini tempat itu telah disulap menjadi pusat perbelanjaan Delta Plaza atau Plaza Surabaya.

Selain rumah dan bengkel, Sinagoge di Jalan Kayun yang dulu pernah beliau bina kini juga tinggal kenangan. Melalui serangkaian peristiwa hukum, hak milik atas tanah dan bangunan rumah ibadah itu berpindah tangan. Tahun 2013, sinagoge yang berstatus sebagai bagunan warisan cagar budaya itu diratakan dengan tanah.

Sinagoge Kayun (jewsofjava.com)

Tulisan di halaman ini tampaknya berhubungan dengan tulisan di halaman yang lain. Ada ekspatriat-ekspatriat lain yang karena kecintaan dan kepeduliannya pada negeri yang indah ini pernah mengorbankan waktu, kesempatan, fikiran, harta dan bahkan nyawa mereka. Membaca halaman ini membuat saya semakin faham tentang makna nasionalisme, merdeka, dan cinta.

Sedang tentang 'sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan' yang sempat saya sebut diatas, sebelumnya saya berharap bahwa dengan membaca halaman ganjil ini saya  semakin faham akan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kini, semoga pada kau pula. Setidaknya pada kemudian hari (dan mungkin kini) kita tidak lagi serta merta dan dengan membabi buta menyalahan, menebar kebencian dan berlaku tidak adil pada yang satu karena yang tiga dari mereka menzalimi yang satu dari kita. Berlakulah adil! Begitu tulis Penulis dan sabda Penutur buku ini.

Baru sedikit yang saya baca dari buku super tebal ini, dan bahkan mungkin tak akan pernah selesai hingga kepulangan saya nanti. Semoga berkesempatan membacanya kembali. Sampai jumpa!

ditulis di malam menjelang Hari Kemerdekaan ke 71
Selamat HUT RI! Barakallah fi umrik, Indonesiaku

Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu univer...

Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu universitas negeri ternama di Indonesia. Dia adalah Muzammil Hasballah, mahasiwa Fakultas Arsiktektur, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2011. Suara Muzammil bahkan digadang-gadang mirip dengan suara imam-imam haramain.


Kemerduan suaranya menjadi magnet tersendiri bagi umat Islam. Hingga beberapa masjid di luar kota Bandung sempat mendatangkannya untuk menjadi imam shalat tarawih di masjid mereka. Tak heran memang, mengaminkan hadits-hadits Rasulullah bahwa para ahli Quran adalah orang-orang yang mulia, umat Islam sangat menghargai para qari' yang dapat mendaraskan al Quran dengan indah dan menyentuh hati.

Adalah Daud alayhis salam, seorang nabi yang diturunkan padanya kitab Zabur yang berisi syair-syair pujian kepada Allah, memiliki suara yang terkenal indah. Hingga semesta menjadi khidmat menyimak saat beliau mendaraskan firman Allah dan bertasbih dengan suaranya yang indah (Ash Shad: 7-20).

Ada yang menarik pada narasi tentang suara merdu beliau, kita dapat mengira dan menafsirkan bahwa tradisi mendaraskan kitab suci telah ada sejak zaman para nabi terdahulu dan dilanjutkan oleh umat-umatnya.

Rasa penasaran akan hal ini menuntun saya untuk mencari lebih lanjut. Dan pada posting kali ini, saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik. Setidaknya semoga posting ini dapat menambah khazanah bagi kita semua agar tidak mudah berpersangka buruk terhadap 'penghuni lapak sebelah', atau untuk manfaat yang lebih besar, yakni membuka peluang dialog-dialog terbuka antar kita untuk dunia yang lebih baik :) , selamat menyimak.

Sedikit mengulas fenomena yang sempat saya singgung diatas, para qari', seperti Muzammil dan qari-qari yang lain, memiliki kekhasan dalam membaca Al Qur'an. Kekhasan ini ada karena penggunaan gaya baca yang berbeda-beda. Gaya baca ini diantaranya merupakan hasil paduan dari tempo dan maqam yang digunakan. Tempo yang dipakai oleh Muzammil misalnya, adalah tartil.

Tartil adalah salah satu tingkatan tempo membaca al Quran yang telah disepakati oleh para ahli tajwid. Tempo yang dimaksud dengan tartil adalah perlahan, tidak terburu-buru. Disamping tartil, ada juga tahqiq atau perlahan (saat pembelajaran), tadwir atau sedang, dan hadr atau cepat [1]. Meskipun ada perbedaan tempo, ketiga tempo baca ini tetap harus mengikuti satu set kaidah hukum bacaan yang disebut ilmu tajwid.

Tajwid adalah ilmu tentang hukum-hukum bacaan dalam Al Quran. Hal ini meliputi pelafalan dan sifat-sifat huruf atau makharijul huruf, panjang pendek bacaaan atau mad, penjedaan atau waqaf, hingga hukum-hukum bacaan khusus seperti idzhar, idgham, iqlab, ikhfa', dsb (baca lanjut disini). Tujuan adanya ilmu tajwid adalah agar makna masing-masing kalimah dan ayat terjaga saat membaca Al Quran. Hal ini misalnya, maliki dengan a pendek berarti raja, sedang maaliki dengan aa panjang berarti pemilik.

Akan tetapi, dalam pembacaan Al Quran dikenal beberapa dialek pembacaan atau yang dikenal dengan qiraat. Ada 7 Imam qiraat yang masyhur, dan masing-masing imam memilik 2 perawi. Sehingga ada 14 riwayat qiraat yang mutawattir. Qiraat-qiraat ini adalah cara pembacaan Al Quran yang memiliki rantai transmisi hingga Rasulullah. Perbedaan pada masing-masing qiraat tidaklah merubah makna utama Al Quran [2]. Contoh perbedaannya adalah maaliki dan maliki, kufuan da kufwan, dsb.



Pada beberapa hadits disebut akan sunnah untuk membaca al Quran dengan irama indah. Hingga kemudian dikenal langgam atau maqam yang umum dipakai dalam membaca al Quran.

Maqam adalah tangga nada pada kebudayaan Arab. Pada perkembangannya, beberapa maqam digunakan dalam pendarasan al Quran. Beberapa maqam tersebut diantaranya adalah bayati, shaba, nahawand, hijaz, rast, sika, dan jiharka. Setiap maqam memiliki kekhasannya masing-masing. Maqam bayati misalnya membawa suasana bahagia, sedang maqam shaba memunculkan suasana sedih, dst. Video dibawah adalah paduan maqamat dalam satu mawal:


Namun pada dasarnya seseorang dapat membaca al Quran tanpa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam tersebut, bahkan pada beberapa fatwa dapat dijumpai keterangan bahwa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam khusus adalah sebaiknya dihindari [3]. Sebab itu tak jarang kemudian muncul langgam-langgam lokal yang merupakan hasil alami perpaduan keunikan seseorang dan budayanya yang termunculkan saat ia membaca Al Quran. Hal inilah yang tampaknya menjadi 'akar masalah' dari fenomena pembacaan Al Quran dengan langgam jawa pada pelakasanaan peringatan Isra' Mi'raj di Istana Negara beberapa waktu yang lalu: "apakah pembacaan dengan langgam tersebut dipaksakan atau muncul secara alami?" [4].

Seperti yang saya janjikan di atas, bahwa saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik, mari kita mulai pembahasannya. Setelah merujuk pada beberapa sumber, saya jumpai tradisi unik yang bahkan diantaranya mirip di antara kalangan penganut agama-agama Abrahamik.


Pada kitab suci agama Yahudi, baik itu Taurat, Neviim, atau Ketuvim (biasa disingkat dengan akronim TaNaKh) terdapat beberapa jenis tanda baca.


Pertama adalah tanda baca huruf, yakni untuk membedakan pelafalan huruf-huruf tertentu (BeGaD KePaT misalnya). Kedua adalah tanda baca vokal yang sejajar dengan harakat dalam bahasa arab (niqqud). Ketiga adalah tanda baca aksen. Keempat adalah tanda baca pendarasan yang disebut dengan te'amim atau teamey hamiqra. Pendarasan lengkap (dengan teamim, biasanya dilakukan saat prosesi keagamaan seperti bar mitzvah ataupun aliyah).


Teamim atau teamey ha miqra, yang secara literal bermakna 'rasa pembacaan', adalah satu set tanda baca -konon hampir 50 tanda baca- yang digunakan untuk mendaraskan kitab suci, termasuk diantaranya adalah tanda panjang pendek, aksen, penjeda, penanda hubungan antar kalimat, hingga notasi. Kalau boleh dimisalkan, tanda baca teamim adalah semisal dengan tanda baca dalam ilmu tajwid, meskipun tidak ada -atau saya yang belum menemukannya- pakem ilmu tajwid untuk bacaan seperti idzhar, iqlab, dsb pada tradisi pembacaan kitab suci Yahudi selain bahwa hal-hal tertentu menjadi fitur kebahasaannya. Contohnya adalah bacaan qamets katan, maqqef, ha (artikel mirip alif lam), dsb.

Spoiler QERA: qamets katan atau qamets chatuph adalah tanda baca yang bentuknya sama dengan qamets. Akan tetapi, tidak seperti qamets yang melambangkan bunyi vokal a, qamets katan mewakili bunyi vokal o. Hal ini terjadi pada satu kondisi khusus, yakni: pada kosa kata tertutup (diakhiri huruf mati) yang tidak memiliki aksen.

Bagaimana? Mirip dengan hukum bacaan tajwid 'kan? Nah untuk proses pembelajaran, sering digunakan tabel zarqa yang berisi seluruh tanda teamim yang diperlukan untuk kemudian dilafalkan dan dihafalkan.


Citarasa teamim pada beberapa wilayah memiliki kekhasan tersendiri, sehingga dikenal teamim yerusalem, syria, dsb. Hal ini sudah tentu berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat terutama berkaitan dengan budaya seni musik kawasan tertentu. Hal ini semakin diperkaya oleh adanya dialek-dialek pelafalan huruf Ibrani. Diantaranya ada Sefardi, Askhenazi, dan Temani (atau Yamani). Pada dialek Askhnezi misalnya, huruf tav akan dibaca 's', sedang pada dialek sefardi timur tengah dan mizrahi, huruf vav akan dibaca 'w'. Sementara itu, tanda baca qamats akan dibaca 'o' pada dialek Temani, tidak 'a' seperti pada dialek lain. Dialek ini juga dipakai dalam pembacan kitab suci. Akan tetapi pada umumnya, umat yahudi akan mengambil tradisi baca Sefardi yang konon lebih dekat dengan tradisi terdahulu.


Nah ada yang unik pada poin selanjutnya, yakni pada poin penggunaan langgam. Pada tradisi pembacaan kitab suci di agama Yahudi, terutama Yahudi timur tengah, terdapat tradisi penggunaan langgam yang langgamnya sama dengan langgam / maqam yang juga digunakandalam pembacaan ayat suci Al Quran. Pada tradisi agama Yahudi, kita juga akan mengenal penggunaan maqam rast, bayati, nahawand, dst dalam pendarasaan kitab suci. Akan tetapi, hal yang unik adalah bahwa pada beberapa sinagog atau komunitas tertentu dikenal pakem maqam khusus untuk parasha tertentu yyang berganti setiap shabbatnya (parasha adalah bagian bacaan taurat, mirip dengan hizb al Quran tetapi pembagiannya lebih didasarkan pada konteks cerita, terdapat jadwal bacaan parasha berbeda untuk setiap harinya)

Maqam untuk parasha tertentu disesuaikan dengan kandugan emosi maqam dan isi parasha. Maqam Rast misalnya, digunakan untuk menandai permulaan, seperti pada parasha-parasha pertama tiap-tiap kitab; Hijaz digunakan pada parasha dengan kisah tragis seperti pada parasha Chayei Sarah dan Vayechi; dan Sika digunakan pada bacaan khusus pada hari raya Purim. tetapi yang unik adalah, sementara pada budaya arab maqam Shaba identik dengan kesedihan, pada tradisi Yahudi, maqam Shaba digunakan pada parasha yang memerikan banyak mitzvot seperti Mishpatim, Qedoshim, dsb. [5] (kunjungi lanjut disini)

(audio pembacaan parasha Beresyit, unduh lenngkap disini)

Menarik, bukan? Kemenarikan tradisi ini tidak hanya berhenti sampai disini, bahkan pada beberapa ritual ibadah, kita akan menemukan hal itu sangat-sangat mirip dengan tradisi di kalangan umat Islam sepeti pada puji-pujian atau selichot ini:


Lalu, bagaimana dengan tradisi umat nasrani?

Pada kalangan umat nasrani timur tengah kita dapat menemukan tradisi tilawatil injil atau yang biasa disebut dengan mulahan (مُلَحَّن) injil. Mulahan injil di kawasan timur tengah ini pada umumnya didaraskan dalam bahasa arab atau suryani.



(audio pembacaan injil Yohanes pasal 1, unduh lenngkap disini)

Selain mengikuti kaidah-kaidah dalam bahasa Arab ataupun suryani, saya belum menemukan kaidah-kaidah khusus semacam hukum tajwid ataupun teamim pada tradisi Nasrani. Tradisi mendaraskan ayat-ayat kitab suci dengan notasi atau lagu tertentu jamak dalam tradisi nasrani denominasi apapun. Bahkan pada tradisi ortodoks, hampir semua liturgi dilagukan. Notasinya pada umumnya disesuaikan dengan konteks teks yang dibaca, pada bacaan tentang surga misalnya, suara akan dinyaringkan, sementara pada bacaan tentang neraka akan diturunkan. Pada masa ottoman nada-nadanya juga disesuaikan dengan nada timur tengah [6].


Jadi bagaimana? Apakah kemiripan ini hanya karena budaya? Atau karena memang kita masih pernah sebapa, bapa Abraham -atau Ibrahim dalam lisan Arab- sehingga masih ada benang merah diantara kita? Pertanyaan itu boleh memiliki jawaban yang berbeda pada kita masing-masing. Tapi yang jelas, dari posting ini saya berharap akan munculnya pemahaman baru diantara kita. Terutama ialah untuk menghindari frasa-frasa klise seperti "ibadah atau ritual contekan" atau "upaya pemurtadan terselubung" yang kerap kali dilontarkan beberapa kawan diantara kita. Semoga kedamaian selalu atas kami dan kamu sekalian! Salam!

Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik...

Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian mengklaim bahwa Kabah tidak samawi dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tradisi Abrahamik. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama, Al Qur'an menjelaskan bahwa Kabah adalah bait Allah pertama di muka bumi yang dibangun untuk manusia (QS. Ali Imran: 96 [i]), yang bahkan para nabi Bani Israil diceritakan (derajat keshahihan periwayatannya belum saya dapatkan) pernah menempuh perjalanan untuk mengunjunginya [1].


Untuk menjawab argumen kalangan Ahlu Kitab tersebut, diantaranya terdapat beberapa usulan missing link yang disampaikan oleh para ulama Islam untuk menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik yang tidak diketahui atau mungkin ditutup-tutupi oleh kalangan tertentu. Diantaranya yang kerap kali disebutkan adalah kisah perjalanan keluarga Ibrahim ke selatan Mesir (Tanah Negev) [2], kemunculan kata Bakkah dalam Mazmur [3], kisah Fathu Makkah [4], tanah Paran [5], ayat-ayat nubuat dalam Alkitab (misal dalam Yesaya [6]), kisah penemuan tulisan berbahasa Suryani  [7], dsb.

Tidak hanya dari kalangan umat Islam sendiri, beberapa missing link tentang Kabah juga disampaikan oleh beberapa ulama Ahlu Kitab seperti oleh Ibn Ezra dalam penjelasan kisah Ismail dan Sumur Zam-Zam dalam tafsir Taurat [8] dan dalam kitab Asatir [9]. Akan tetapi ada sebuah usulan menarik yang disampaikan oleh seorang Rabbi Yahudi Ortodoks, Ben Abrahamson. Melalui fakta historis beliau menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik. Simak penjelasan beliau berikut ini [10]:

Tanya: Rabbi, Anda menyampaikan bahwa "Ka'bah dibangun oleh Onias IV pada tahun 150 SM berdasarkan desain Bait Allah yang dibangun Nabi Sulaiman, namun kemudian digunakan untuk menyembah berhala." Dapatkah Anda mengarahkan saya kepada tulisan Anda tentang hal ini? 
Jawab: Saya sedang menulis sebuah manuskrip berjudul "Bani Quraisy sebagai Keturunan Onias IV." Saya mengusulkan keantikan dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. 
Bukti utama yang saya bawa adalah klaim Josephus bahwa Onias IV membangun Bait di Heliopolis berdasarkan Yesaya 19:19. Ayat ini menyebutkan dua bangunan, satu di Mesir dan satu di perbatasan Mesir. Selama masa Ptolemy VI Philometor, perbatasan Mesir adalah Arabia. Hal ini didukung oleh kemiripan dari segi arsitektur antara Kabah dan bait Onias seperti yang diteliti oleh W.M. Flinders Petrie pada 1906. 
Saya mengusulkan bahwa Quraisy adalah keturunan Imam Tinggi Onias IV. Hal ini didukung oleh pelacakan alternatif pada silsilah Rasulullah, bahwa Adnan adalah Anan (=Hanan, =Onias). Hal ini juga didukung dengan bukti DNA bahwa sejumlah besar dari orang-orang suku Quraisy secara paternal memiliki hubungan dengan Imamat Yahudi. 
Lokasi yang dipilih oleh Onias IV adalah tempat-tempat yang telah diketahui nilai penting keagamaannya. Papirus Elephantine berbicara tentang keantikan luar biasa altar Mesir, dan implikasinya, Onias boleh jadi memilih untuk membangun kembali di Arabia di lokasi yang sebelumnya telah memiliki jejak tradisi Abrahamik. 
At Tabari menyampaikan bahwa pada di masa sebelum Islam, korban juga dilakukan atas nama Allah. Darah hewan yang telah disembelih dituangkan di dinding-dinding Kabah dan dagingnya di gantungkan pada pilar-pilar di ssekitar kabah, dalam keyakinan bahwa Allah memerintahkan pengurbanan darah dan daging hewan. Bahkan Tabari secari spesifik bahwa Hasan Tubba' menghabiskan tahun-tahunnya di altar kurban (mitbachim) di Kabah. 
Setelah mendiskusikan bait Onias, pada Talmud Menuchot 109a ditemukan diskusi mengenai Bait yang lain di "Sungai Yordan" yang telah jatuh dalam paganisme. Hal ini berarti bahwa dalam kurun 150 SM hingga 270 SM, paganisme dipraktikkan di sekitar Kabah. 
Akan tetapi menurut sumber-sumber Islam, sebagian praktik monoteisme kembali dilakukan pada sekitar tahun 275 M, ketika Shamir Yuhar'esh II Tubba', menjadi raja Kerajaan Himyar. Pada sebuah ekspedisi menuju utara Arabia, dia melewati Yatsrib. 
Sebagai bagian dari sebuah sekongkol, dia diberitahu bahwa sebuah harta berharga dipendam di bawah Kabah sehingga ia ingin menghancurkannya (dan mengambil harta tersebut, red.). Yahudi dari Yatsrib mewanti-wantinya untuk tidak meneruskan rencananya sebab Kabah adalah tempat suci. 
Shamir Yuhar'esh II Tubba' bertanya mengenai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di Kabah. Mereka menjawab "Ketika Anda sampai di sana, lakukan seperti yang umat lakukan: bertawaf, memuliakan, dan menghormatinya, lalu cukur kepala Anda saat berada di sana, dan rendahkan diri Anda sampai Anda meninggalkan daerah sekitarnya." Dia bertanya, "Apa yang mencegah Anda [Yahudi] dari melakukan hal tersebut?" Mereka menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya ia adalah bait nenek moyang kita Abraham, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Akan tetapi orang-orang lokal telah membuat batas antara kami dan bait itu, berbagai berhala mereka pasang di sekitarnya dan darah-darah mereka curahkan di sana." Mengacu pada tradisi kesucian para Imam Lewi, mereka menjawab "Mereka adalah pagan yang najis," atau kata-kata senada hal itu. Tubba' mendengar saran dan mengakui kebenaran kata-kata mereka. Kemudian ia bermimpi bahwa ia harus menutupi bait tersebut, sehingga ia menutupinya dengan lembar anyaman daun palem (ini adalah kisah kiswah yang pertama menutupi Kabah, red.). 
Sebuah konfirmasi dari Talmud Megilah 10a tentang tahun ini (275 M). "Rabbi Isaac mengatakan: Saya pernah mendengar bahwa kurban dapat dipersembahkan di bait Onias pada masa kini. Hal ini karena sebuah pendapat bahwa bait Onias tidak lagi sebuah kuil penyembah berhala." Banyak tafsir yang mengasumsikan ini adalah bait Onias Mesir, akan tetapi frasa "pada masa kini" berarti saat Rabbi Isaac hidup (280-330 M). Pada masa tersbeut, bait di Mesir tidak lagi ada, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa pada awal tahun 280 M, beberapa umat yahudi masih beribadah dan mempersembahkan kurban di Kabah.

Kisah mengenai Tubba' dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam / Ibnu Ishaq ini adalah khazanah yang sudah banyak diketahui oleh Umat Islam [11]. Akan tetapi salah satu hal yang perlu dicermati pada penjelasan beliau adalah crosscheck pada sumber-sumber Yahudi yang semakin menguatkan bahwa kisah Tubba' dalam khazanah Islam ini bukan hanya klaim sepihak, tetapi juga dikuatkan dari sumber Ahlu Kitab.

Semoga artikel ini semakin menambah keyakinan kita atas keparipurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Wallahu a'lam bishshowab.