fajar malang - dokumentasi pribadi "Ketika beban di pundak terasa tak sanggup lagi untuk dipukul. Ketika tiba-tiba lorong menja...

021213 | Ramadan 1433 H

fajar malang - dokumentasi pribadi

"Ketika beban di pundak terasa tak sanggup lagi untuk dipukul. Ketika tiba-tiba lorong menjadi gelap dan semua jalan menjadi buntu. Dan ketika teman tak ubahnya suku-suku kanibal yang haus darah. Tak jarang binatang-binatang malam membisikkan ide untuk berbalik pulang. Haruskah aku berbalik arah?"

Dalam perjalanan ini, tak jarang ku jumpai berbagai macam gelap gulita dan jalan buntu. Tugas yang menumpuk, masalah dengan teman, organisasi, atau segala macam hal yang memenatkan hati dan tubuh. tapi di saat-saat itulah aku bersyukur bahwa Tuhan sangat peduli denganku. Ia berikan berbagai rahmat-Nya untuk menunjukkna bahwa Ia tak pernah melupakan satu-pun hambanya.


Ramadan 1433 H
Sore menjelang berbuka bu kost memberikan beberapa makanan. Tapi berhubung sudah terdapat makanan yang aku beli, aku simpan saja nasi itu, "untuk sahur nanti" fikirku. Saat jam weker berbunyi, aku bersiap untuk bangun. Sedikit kecewa ku temukan bahwa nasi itu menjadi kaku. Dan hanya ada ikan tongkol kering yang menjadi lauk saat sahur. Sulit rasanya menelan makanan kering disaat seperti itu, terfikir untuk memberinya air putih sebagai pengganti kuah. Perlahan air mata jatuh mengingat betapa nyamannya saat berpuasa di rumah sendiri. Ada sate, soto kikil, atau makanan lain yang mengenyangkan dan enak.
Namun, di lain hari. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan enak untuk berbuka. Tiba-tiba, seorang kawan sekelas, Fiona, datang memberikan beberapa makanan enak pula. Menunggu azan maghrib ku luangkan waktu untuk melakukan aktivitas lain. Tak disangka saat maghrib tiba, bu kostku memberikan beberapa makanan yang saat itu mengingatkanku pada rumah. Dasar manusia sensitif, tiba-tiba air mata kembali menetes. Aku merasa bahwa Tuhan sangat baik. Semua nikmat ini sungguh mengingatkanku bahwa Ia benar benar sangat baik. Allah Yang Maha Welas Asih. Ah, itu malam terindah. Malam itu Tuhan berkenan mengisi tarawihku dengan tangis haru, suka dan cita.


Mungkin memang banyak masalah yang kita hadapi. Tapi ingatlah firman ALlah SWT " Alam nasyrah laka sadrak....inna ma'al usri yusraa" ( Bukankah kami lapangkan dadamu . . . Sesungguhnya ada kemudahan dibalik kesulitan). 

Saat sedih, ingatlah bahwa dalam pakaian Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Dalam air dingin yang diguyur kesekujur tubuh, ada kesembuhan bagi penyakit yang di derita Ayub AS. Api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia ).

Rasulullah Al Mukhtar ( yang Terpilih ) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, " Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran. " Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, " Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita."

Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Tidak ada bencana yang terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allah SWT Yang Maha Sendiri dan satu-satunya Tempat Meminta. 

Sungguh indah waktunya, ketika malam semakin gelap pertanda bahwa fajar akan segera muncul. Allah Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Ia Terkenal dengan Pemberiannya. Ia Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya. Ia Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.

Diadaptasi dari tulisan DR. Aidh Al Qarni : "Selalu Ada Jalan Keluar"

0 komentar: