Beragam ceritera telah mewarnai peradaban kehidupan manusia. Tentang perjuangan, motivasi hingga cinta telah mewarnai banyak buku sast...

Sang Sutradara Terbaik


Beragam ceritera telah mewarnai peradaban kehidupan manusia. Tentang perjuangan, motivasi hingga cinta telah mewarnai banyak buku sastra di berbagai belahan dunia. Dan kisah ini adalah sebuah kisah cinta. Cinta yang lebih dalam dari cinta Romeo dan Juliet, Simon dan Delilah, atau bahkan antar para pecinta di kapal Titanic. Kisah ini adalah kisah indah hubungan antara seorang hamba dan Tuannya.

#

Alkisah, hidup seorang pemuda di sudut kota Southampton, Inggris. Ia Fatih Kohler, atau sebut saja dia Fatih. Ia anak cerdas yang lahir dari keluarga miskin. Ia pemuda yang rajin beribadah dan menuntut ilmu. Disela rutinitasnya, dia membantu Ibunya, Tugba Pasha, seorang janda tua, membuat keju dan menjualnya di pasar. Rutinitas itu ia lakukan sejak ayahnya meninggal, saat ia masih berumur 8 tahun. Hidup di lingkungan yang penuh dengan kerja keras, Fatih tumbuh menjadi pemuda yang gigih dan pantang menyerah.

Suatu hari ia mendengar kabar bahwa beberapa saudagar kaya di Inggris sedang membuat kapal besar yang konon kehebatannya tak akan tertandingi oleh kapal mana pun di seantero Inggris. Kapal ini dikenal dengan namanya, Titan. Kabarnya, kapal ini akan menjadi satu-satunya kapal yang akan mengantar para penumpangnya menuju beberapa destinasi yang belum pernah dituju oleh kapal-kapal dari pelabuhan Southampton. Salah satu rutenya adalah Queenstown-Kairo. Fatih yang telah lama memiliki cita-cita untuk pergi haji akhirnya tertarik dengan kapal ini. Ia berfikir bahwa Kairo-Makkah tidak akan hanya menjadi perjalanan haji biasa, tetapi akan menjadi perjalanan yang kaya akan ilmu, sebab ia akan berjalan di tanah para ulama. Namun, semilir informasi menyatakan bahwa ia harus mengelurakan uang sebesar $460 hanya untuk membeli tiket kelas ketiga. Uang yang ia fikir tak akan pernah ia dapatkan.

Tekad sudah bulat dan impian sudah di depan mata. Fatih mencari berbagai cara agar ia dapat membeli tiket tersebut. Sebenarnya ia bisa menjadi pegawai kantor bergaji tinggi dengan status pendidikannya. Namun wajah Arab-Turki dan jenggot kecil yang ia pelihara sejak SMA, membuat lamarannya ditolak oleh berbagai institusi. Hingga akhirnya, beragam profesi kasar ia coba: tukang cuci baju, sol sepatu, hingga pengantar koran, untuk menambahi tabungan hajinya yang saat itu telah berjumlah $200. Namun ia merasa bahwa itu semua tidak akan bisa memenuhi tabungannya. Sebab tinggal beberapa minggu saja kapal itu akan berangkat. Namun bagai peribahasa pucuk ditunggu ulam pun tiba, suatu hari ia mendengarkan sebuah berita bahwa  ada sebuah sayembara desain jembatan yang berhadiah $300. Berbekal kemampuannya di sekolah menengah tinggi arsitektur, ia memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Setiap hari dia membaca buku dan menorehkan sketsanya diatas beberapa lembar kertas. Selama hampir seminggu ia hanya tidur selama 7 jam. Akhirnya, sebuah desain super detail jembatan Briston-Cliften berhasil ia selesaikan.

Penyempurnanya dari setiap usaha adalah doa. Hal itu diamani Fatih yang merupakan pemuda muslim taat. Setiap malam ia berdoa agar ia dapat mengunjungi rumah Allah yang agung itu. Hingga suatu hari dia merasa bahwa ia telah dipanggil dan doanya telah dijawab.

#

“Dan pemenang dari sayembara ini adalah Tuan Fatih Kohler!” demikian bunyi dari speaker radio kuno warisan ayah Fatih yang membuat ia tenggelam dalam sujud syukurnya. 

Dia mengabari Ibunya. Namun, alih-alih senang dan menganggap berita itu sebagai kejutan bahagia, ibunya justru menolak keinginannyanya. 

“Ibu sudah tua, dan kau tahu itu. Apakah kau mau ibu wafat tanpa ada seseorangpun disampingnya?” ucap ibunya kecewa.
“Bukan begitu bu, tapi ini satu-satunya kesempatan yang ada” jawab Fatih.
“Tidak mustahil bagi Allah untuk membuka kesempatan yang lain. Ibu Kecewa dengan kamu, nak” begitulah percakapan singkat siang itu.

Sekali lagi, dia berpasrah kepada Allah. Di satu sisi ia sangat ingin melanjutkan mimpinya, namun disisi lain ia faham bahwa ridha orang tua adalah ridho Allah. Dalam tahajudnya ia berharap agar Allah melunakkan hati ibunya.

“Bismillah, aku akan merayu ibuku lagi. Bantu aku, ya Allah” batinnya.

Apa yang terjadi pada ibunya adalah sebuah misteri, tetapi akhirnya ibunya menerima keinginannya dan mengizinkannya pergi. Pagi itu juga, dia dengan gembira menuju pelabuhan untuk memesan tiket kapal legendaris itu. Sekali lagi ia berfikir bahwa Allah telah mengabulkan doa dan pintanya.

#

Selasa, 9 April. Jam menunjukkan pukul 10 malam, dia telah berangkat menuju pelabuhan. Jarak desa dan pelabuhannya menempuh sekitar 6 jam perjalanan kereta api. Menurut perhitungannya, ia akan tiba di pelabuhan sekitar pukul 4 pagi dan kapal akan berangkat tepat pukul 06.00. Namun sayang, kereta yang ditumpanginya anjlok setelah menempuh 4 jam perjalanan. Ia bingung. Ia harus memilih antara dua pilihan: menunggu kereta yang tidak tahu kepastian keberangkatannya atau beralih menggunakan mobil sewaan yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Akhirnya ia mengambil pilihan yang kedua.

Ia risau dan terus berdoa kepada Allah di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba di sebuah ruas jalan, mobil yang ditumpanginya dicegat oleh sekelompok geng berandalan kota. Geng itu menahannya sekitar setengah jam dan dia akhirnya selamat setalah seluruh uang yang dibawanya dirampok, kecuali $78 yang tersisa di kaus kakinya. Akhirnya, pada pukul 05.49 ia sampai di pelabuhan. Sekali lagi, ia berfikir Allah telah menjawab doanya. Tetapi kemudian ia teringat bahwa dia belum menunaikan shalat subuh. Bergegas ia mencari tempat yang bersih. Ia hamparkan sajadahnya lalu ia berasyik bersama Tuannya.

 “Assalamu alaykum wa rahmatuLlahi wa barakatuhu” dia mengakhiri shalatnya. 

Sepontan ia terkejut saat melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 6 pagi. Bergegas dia menuju dermaga. Karena sesaknya pengunjung dan orang yang menghantarkan keluarganya, tasnya pun terjatuh. Fatih semakin panik. Namun ketika sampai di ujung dermaga, hantinya serasa hancur. Kapal itu telah berada berpuluh meter di depannya. Ia kecewa, ia melemparkan tasnya dan berlari menjauhi dermaga. Ia patah hati. Ia merasa Allah seakan mencampakkannya, menolak doa dan ketaatannya.

Namun, sesuatu hal terjadi. Setelah berlari selama beberapa detik. Dia dikejutkan oleh bunyi sirine. Dia menoleh ke belakang dan melihat api besar membumbung tinggi dari arah lautan. Dia penasaran darimana api itu datang. Dia berlari kembali ke dermaga. 

Sebelum rasa penasarannya terjawab, suara speaker dari kantor pelabuhan menyampaikan “Mohon kepada semua orang untuk memanggil segala macam pihak keselamatan. Kapal Titan meledak karena sebuah mesin kapal rusak. Tolong untuk memanggil pihak keamaanan segera!.” 

Kerumunan orang di pelabuhan menjadi panik. Para pengantar menangisi keluarganya. Namun Fatih, tubuhnya begetar. Lututnya lemas. Tiba-tiba ia jatuh ke tanah, bersujud di tengah tangisan lautan manusia yang bersedih karena keluarganya berada di kapal naas itu, sementara dia menangis sejadi-jadinya dalam sujud syukurnya kepada Sang Tuan, Allah.

0 komentar: