Manusia berusaha sebab itulah ketetapan untuknya . . .              Tinta lauhul mahfudz telah lama mengering. Penanya...

Antara Kami Bertiga



            Manusia berusaha sebab itulah ketetapan untuknya . . .
            Tinta lauhul mahfudz telah lama mengering. Penanya pun sedang tenang tergeletak di sampingnya. Di dalamnya dapat kau saksikan skenario agung maha karya Sang Sutradara. Setiap gerak elektron telah ditetapkan didalamnya.
            Semua . . . semua . . .

            Fisika dan musik adalah bagian terbesar dari hidupku saat ini. Fisika membuatku berfikir, sedang musik membuatku merasa. Kalkulator hadiah mama dan sebuah gitar kado dari ayah menjadi sahabatku setiap saat, di kala suka tak dapat dikatakan dan duka tak dapat diungkapkan.
            Oh iya, namaku Fatih al Ghazali. Panggil saja Fatih. Saat ini ada dua event besar yang sedang aku tunggu: Olimpiade Fisika Nasional, OFN dan Kompetisi Musik Nasional, KMN, yang keduanya diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Rakus? Silahkan kalian bilang seperti itu, tapi yang terpenting, aku akan berusaha menjadi yang terbaik.

            7/1/13 - Hari ini sekolahku mengadakan seleksi bersama dalam rangka memilih 5 siswa terbaik untuk mewakili sekolah dalam olimpiade tersebut. Dan aku percaya bahwa aku adalah salah satu dari 5 siswa itu. BismiLlah . . 
             “Sebelum kita memulai proses seleksi, mari kita berdoa agar dimudahkan dan diberkahi oleh Allah” Ustad Karim mengawali proses seleksi hari itu.
            Kami hanyut dalam angka dan perhitungan masing-masing. Fisika, salah satu cara Tuhan berbicara dengan manusia. Melalui keteraturan alam Ia menunjukkan kerja-Nya. Bersama serangkaian teori dan hukum, manusia telah berhasil mengetahui bahwa ada sosok di balik keteraturan ini, begitu idealnya. Ah entahlah, yang paling penting disini adalah waktu pengerjaan sudah selesai dan alhamduliLlah aku berhasil menyelesaikan ¾ dari soal yang ada.

            Beberapa temanku asyik berbincang di luar ruangan. Beberapa dari mereka menyatakan bahwa mereka sedikit pesimis bahwa mereka akan lolos seleksi ini.
            “Adek kelas kita banyak yang pinter, itu si Rahma, dia finalis lomba fisikanya ITB semester kemarin, si Aziz dia peraih medali perak OSN SMP tahun kemarin.” jelas Fatma.
            “Bismillah, kita sudah melakukan sebaik apa yang kita bisa, itu sudah urusan Allah untuk menentukan akhir jalannya, OK” sambungku. Entah keracunan apa, saat-saat ini aku merasa bahwa materi pelajaran hidup yang ini sudah aku fahami. Soal takdir dan keinginan.

            8/1/13 - AlhamduliLlah, aku masih bisa merasakan segarnya udara pagi ini,. Sekolah masih sepi, hanya ada aku, Rahim, dan Sinta. Mereka sedang asyik menonton drama korea kegemaran mereka. Sedang aku, hanya terpaku melihat indahnya langit pagi hari ini.
            “Hei, selamat ya” Rama membangunkan lamunanku.
            “Eh ada apa?” “Kamu lolos seleksi KMN, selamat ya” jelas Rama.
            “Wah iya kah, alhamduliLlah. Darimana kamu tahu?”
            “Di mading ada pengumuman baru, cek buruan sana” paparnya.
            “Ok, makasih”.
            Dari belakang kami tiba-tiba muncul Fatma, ia mengucapkan selamat dan menanyakan sesuatu “wah kamu bakal ketemu Sarah, kamu tahu dia kan?.”
            “Dia siswa Al Hikmah yang jago main biola itu kah?” tebakku.
            “Yak benar! Kamu harus berlatih keras, Fatih!”
            “Ok, Fatma terima kasih” “Tapi bagaimana dengan OFNmu? Kamu harus fokus, Fatih. Pilih satu atau kau akan tidak mendaptkan keduanya” Fatma mengingatkanku
            “I’ll try my best, insyaAllah”
            Ya, aku faham bahwa rakus adalah salah satu sikap yang tidak Engkau senangi, Tuhan. Tetapi bukankah memanfaatkan setiap kesempatan dan melakukan yang terbaik adalah bagian dari Jihad yang Engkau tuntut? Berikan hamba apa yang baik dari-Mu untuk saat ini dan seterusnya, aamiin.

            15/1/13 – Pagi ini dikejutkan dengan munculnya hasil OFN. Fatma, yang akau kenal sebagai siswi pandai di kelas kami merasa terpukul dengan hasilnya. Ia tidak lolos seleksi itu. Aku tetap menaruh harap bahwa Tuhan akan merencanakan hal yang sama dengan apa yang aku inginkan, ya lolos seleksi OFN sekolah. Pengalamanku 3 tahun mengikutinya sejak kelas 1 SMP membuatku yakin bahwa akau akan lolos.
            Hatiku leleh. Aku masih belum yakin dengan apa yang ku lihat. Berulang kali aku membacanya kembali. Fatih al Ghazali – urutan 6 – skor 121. Hanya 2 poin di bawah ia yang berada di nomor 5. Aku sakit hati. Sakit dan perih sekali rasanya. Aku tak tau harus ku buang kemana muka ini. Dan aku sedikit kecewa dengan-Mu. Mana bagianku? Bukankah aku sudah berusaha dengan baik selama ini? Apa yang sedang terjadi?

            Sejak saat itu, aku seperti seorang yang kehilangan tujuan. Ya, hambar. Aku tak lagi menikmati materi-materi fisika, teori kuantum, relativitas, dan segalanya. Ah, aku tak peduli lagi dengan mereka!
            “Fatih, kenapa kamu jadi malas belajar begini, nak?” Umi mengacaukan fikiranku yang sedang terkonsentrasi pada sebuah game di tablet miniku.
            “Ngapain belajar kalau hasilnya gak sesuai harapan, percuma toh?” aku berargumen.
            ”Jangan berkata seperti itu, nak. Boleh jadi kau menyukai sesuatu tetapi itu tidak baik bagimu, dan bisa jadi kau benci terhadap sesuatu tetapi itu yang terbaik bagimu. Allah tahu apa yang kamu butuhkan dan inginkan, nak. Jangan lihat dengan kacamata fisikmu saja. Dia Perencana terbaik . .”
            “Ah sudah lah, Umi” aku memotong penjelasan Umi.
            “Baiklah, terserah kamu, umi yakin kamu sudah dewasa, tapi lihat! Allah memang telah menutup pintu yang kau inginkan, tapi Ia telah membuka lebih lebar pintu lain yang kau butuhkan! Lakukan yang terbaik di KMNmu!” Umi mengakhiri percakapan dan keluar dari kamarku.
            AstaghfiruLlah, aku tidak pernah menyadarinya. Bodohnya diriku yang merasa faham teori tentang takdir dan legawa, sedang aku bermuram durja terhadap ketetapan-Nya. Ya Allah, ampuni diriku yang melalaikan nikmat-Mu. Aku semakin faham bahwa Kau selalau mencintaiku. Terima kasih, ya Allah. Aku tutup malam itu dengan doa panjang setalah witir. Aku hanyut dalam kekhusyukan yang ini. AlhamduliLlah ‘ala kulli hall . . .

            Sejak saat itu tiada hari tanpa berlatih gitar. Aku berkomitmen untuk menjadi juara kompetisi itu. BismiLlah, Allahu akbar!

            “Sungguh penampilan yang luar biasa dari Sarah, tepuk tangan untuknya! Penampilan selanjutnya adalah dari sekolah Al Ikhlas, Fatih al Ghazali! Mari kita sambut ia” suara MC membangkitkan ingatanku tentang sesuatu. Sebentar saja, sebalum aku maju ke atas panggung. Itu Sarah? Masya Allah begitu cantiknya ia.
            Aku tampilkan apa yang telah aku usahakan. Aku tahu bahwa Allah menyaksikan dan Ia tidak akan merugikan sedikitpun usaha hamba-Nya.
            Sorak dan tepuk tangan menutup penampilanku. Semoga itu yang terbaik. Kami menunggu pengumuman dengan penuh harap. Ya, aku berharap aku benar berjodoh dengannya, KMN.

            “AlhamduliLlah, kita telah memiliki daftar pemenangnya. BismiLlah, akan saya bacakan pemenang dari KMN ke 25 ini. Juara Ketiga Lomba KMN ke-25 adalah Johanes Aleksander dari SMA Santo Albertus, Malang. Juara kedua adalah Sarah Al Mahira dari SMA al Hikmah, Surabaya. Dan yang kita tunggu-tunggu, Juara pertama dari lomba ini adalah, Fatih AL Ghazali, dari SMA al Ikhlas, Surabaya.”
AlhamduliLlah. Aku cinta Engkau, Tuhanku . . .

            Di saat orang-orang terdekatku mengucapkan selamat untuk hal ini seseorang tiba-tiba menepuk pundakku “Hey, kamu Fatih? Aku Sarah, selamat ya. Permainanmu sangat hebat”
            “Ah, terima kasih, sebenarnya permainan biolamu yang bagus, sedikit sekali orang yang bisa memainkan alat musik elegan itu” balasku.
            “Hahaha, jangan merendah, Oh ya boleh aku bertanya sesuatu?”
            “Oh ya silahkan” aku penasaran,
            “Bisa ajari aku bermain gitar? Aku tertarik untuk bisa memainkannya” tanya Sarah. Sebuah pertanyaan yang tak perah aku impikan
            “Bisa, bisa, kapan kita mulai?” durian runtuh? Mungkin, haha.
            “Emh, aku belum tahu juga sih, boleh bagi nomor hp?” “oh ini silahkan” aku menyodorkan kontak di HP-ku.
            “Terima kasih, assalamu alaykum” ia tutup pertemuan tak terduga itu dengan senyum manisnya.
            “wa alaykum salaam wa rahmatuLlah”

            Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Sarah. Kasmaran? Mungkin hahaha. Kita sering belajar main gitar, keluar, atau makan bersama. Ya sewajar anak SMA. Perkenalanku dengannya membawa warna baru dalam hidupku, yang terkadang hanya sebuah garis hitam dan putih. Diam-diam aku menaruh hati padanya. Aku suka kamu.

            “Bagaimana perasaanmu dengan fisika sekarang?” Sarah membuka obrolan sore itu. Sepulang sekolah kami sepakat untuk hunting buku di Gramedia.
            “Haha, alhamduliLlah kami sudah baikan, sekarang aku sama-sama mencintainya seperti aku mencintai musik” jelasku.
            “Kamu nggak kecewa lagi dengan kejadian waktu itu?” tanyanya penasaran,
            “Enggak, sebaba aku belajar bahwa Tuhan pasti ngasih kita yang terbaik.”jelasku.
            “Ah, romantis juga kamu. Hahaha” timpal Sarah,
            “Hahaha, dan tahukah kamu apa yang terbaik dari kejadian itu?” “Apa?” Sarah tampak penasaran
            “Aku menemukanmu” “Hahaha, jangan bercanda, Fatih” “Nggak, aku nggak bercanda. Boleh aku tanya sesuatu?” aku memasang wajah serius.
            “Silahkan”
            “Mungkinkah kita menjadi teman selamanya?” tanyaku,
            “Maksudmu?” “Kamu adalah seseorang yang baik, aku belum pernah mengenal seseorang sepertimu sebelumnya”
            “Aku kira kita telah menjadi teman baik”
            “Betapa beruntung orang yang menjadi bagian dari hidupmu nanti”
            “Sebenarnya seseorang telah mengisi hatiku”
            “Iya kah?” tanyaku kecewa.
            “Ya, dia seseorang yang baik. Bagaimana denganmu?” tanya Sarah
            “Hahah, ya, aku juga sama”
            “Boleh aku. . .” ah, kami menanyakan sesuatu bersama, aku persilahkan ia menyampaikan pertanyaannya dulu.
            “Boleh aku tanya siapa dia?” ia penasaran.
            “Sebenarnya, aku juga akan menanyakan hal yang sama padamu, dan jawabanku adalah . . .”
            “Kamu” kami menjawabnya bersama. Aku sedikit tidak percaya, tapi itulah yang aku dengar.
            “I love you” tutupku “me too . . .” ia menunduk malu, senyumnya merekah, pipinya memerah, semerah senja yang menatap kami saat ini. Indah sekali.

            Hari ini aku belajar bahwa yang terpenting adalah percaya pada-Nya. Manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Banyak dari bagian hidup kita yang terjal dan berliku, mengikuti rencana Tuhan tampak biasa saja. Tetapi Tuhan selalu bersama kita, Ia tak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu punya cara yang sempurna untuk mengajari kita sesuatu. Ia akan indah pada waktunya. Tak pernah ia menutup pintu yang kita inginkan melainkan Ia buka pintu yang kita butuhkan, pintu yang lebih besar, lebih beberkah, dan lebih dirahmati-Nya, insyaAllah . . .

            Oh ya, aku merasa bahwa ini adalah ujian praktek bagiku, untuk menguji apakah aku telah benar-benar faham tentang teori takdir dan legawa. Semoga aku termasuk mereka yang mendapat petunjuk, aamiin. 

0 komentar: