Hanya bersamamu, ku menanti sang waktu berpihak menakrifkan ujung pengembaraan ini: apakah sampan cintaku akan berlabuh atau ku kan ten...

Elegi Kesunyian


Hanya bersamamu, ku menanti sang waktu berpihak
menakrifkan ujung pengembaraan ini:
apakah sampan cintaku akan berlabuh
atau ku kan tenggelam
oleh badai di tengah malam.
Sebab ku tak sanggup lagi
untuk mendayung.

Sayapku telah patah dan langitku telah mengabu,
jiwaku koyak dan api sukmaku padam,
sejak pudarnya jingga senja dari lajur waktuku,
yang hanya meninggalkan kata dan memori,
tidak pun sebuah bayangan,
yang dapat ku genggam
dan ku peluk mesra.

Hanya bersamamu, ku menanti sang waktu berpihak
kan ku habisakan tempo waktuku
mematungkan diri akan imagi tentangnya,
mendengarkan melodi parau dan rendah tentangnya,
yang terdengar bak chorus dari stanza sebuah orchestra yang
masih diulang-ulang.

Hanya bersamamu, ku menanti sang waktu berpihak
untuk menyadarkanku bahwa ia pernah menjadi
keajaiban terindah
yang tak pernah ku miliki.

Hanya bersamamu,
sunyi,
ku menanti sang waktu berpihak
melepaskan sepi dan hampa
yang telah terlalu hangat memelukku
hingga malam ini.

al Mustarqy
Jember – Kalibaru, 20 April 2014
02:01

0 komentar: