- diadaptasi dari Naskah Drama Bahasa Indonesia Kelompok II XI IA 3 - SMAN 1 Jember dengan judul yang sama - Bertahan, berdiri di...

Elis Beta Luiy



- diadaptasi dari Naskah Drama Bahasa Indonesia
Kelompok II XI IA 3 - SMAN 1 Jember
dengan judul yang sama -

Bertahan, berdiri di satu titik, terus menunggu, dan kadang menyelipkan harapan di dalamnya, menempuh ribuan kilometer, menerjang batas-batas tak terjamah, menyembunyikan segala rasa sakit di dalam hati. 

Bertahan, tidak memerlukan keahlian apapun, hanya kesetiaan, dan sedikit pengorbanan, menunggu meski mungkin yang ditunggu tak akan pernah hadir.

Bertahan, manusiawi, kadang terlihat bodoh, dan menggelikan..bertahan, tidak peduli seperti apa hari esok, selama kaki masih mampu berdiri tegak..bertahan, untuk yang indah pada waktunya.


Kutipan Cerpen Bertahan

#

Aku Salim. Aku seorang siswa yang suka bercerita dan mendengarkan cerita. Beragam tempat telah aku lewati. Barat ke timur ku langkahkan kaki dengan niat mengumpulkan jejak serak kisah manusia. Harapannya, ketika kisah itu aku ceritakan kembali, ada jiwa yang dapat merasakan kisah tersebut dan hati yang terhibur akannya. Kali ini aku akan menceritakan sebuah kisah atas seorang guruku, beliau bernama Bu Elis.

Bu Elis adalah seorang guru yang berdedikasi. Sebenarnya beliau telah pensiun tetapi beliau masih ingin mengajar, sebagai bekal akhirat katanya. Di usianya yang bisa dibilang cukup tua, tampak dari kerut di wajah putih indonya, beliau masih cakap dan ingatannya masih cemerlang. Beliau adalah Guru Sejarah kelas XI.

#

Hari ini beliau memiliki jam mengajar di XI IPA 3, kelasku. Beliau menyampaikan panjang lebar sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia yang berlangsung selama 3,5 abad lamanya. Seperti biasa, hanya segelintir siswa yang mendengarkan dengan seksama, yang lain? Ada yang tidur, menonton film, atau entah keluar kemana. Tetapi tiba-tiba kegaringan itu terpecah oleh kata-kata beliau “Ibu memiliki sebuah kisah spesial dari masa penjajahan. Kisah ini adalah sebuah kisah cinta yang berawal dari taktik perang melawan penjajah.”

Kisah cinta? Fikirku mencoba menerka. Apakah itu semacam kisah antara si kaya dan si miskin? Atau kisah donor organ tubuh untuk pacarnya? Atau kisah absurd dan membosankan lainnya yang sering muncul di ftv dan sinetron?

“Entahlah, dengarkan saja nanti kau akan tahu” bisikku.

#

Kisah ini adalah kisah cinta antara seorang gadis belanda dan pemuda pribumi Indonesia. Bu Elis menyebutnya sebagai kisah yang membuktikan bahwa cinta tak membatasi warna kulit, bahasa, suku, agama, dan bahkan seluruh keadaan yang ada. Kisah ini beliau mulai dengan sebuah video peperangan.

“Saat itu, situasi Indonesia sangatlah mencekam, pihak Indonesia dibawah komando Komandan Awang kalah dalam sebuah perlawanan menghadapi Belanda. Para tawanan, termasuk Kandar, seorang prajurit pribumi, diperlakukan semena-mena. Mereka ditendang, dicaci maki dan diludahi. Yang jelas mereka diperlakukan seperti bukan manusia.” Jelas Bu Elis.

Beliau menuturkan bahwa kerap sekali para penjajah melontarkan kata-kata tak patut kepada rakyat pribumi, semisal vardammt yang berarti bangsat. Soal Kandar, Aku membayangkannya sebagai seorang pemuda yang cekatan, cerdas, dan pastinya tampan. Mata Bu Elis selalu berbinar saat menyebut namanya.

“Sementara para penjajah asyik menendangi wajah para tawanan. Kandar dan Bejo berhasil menyelinap dan lepas dari tawanan Belanda. Mereka mengendap-endap kembali ke markas untuk melaporkan kejadian tersebut kepada komandannya. Waktu mereka mengendap-endap, Kandar menabrak anak Lucas Van Dijk, Elizabeth.”Tiba-tiba wajah bu Elis memerah. Teringat akan masa mudanya kah? Mungkin saja. Sayangnya aku tak tahu apa isi hati seseorang.

#

Keesokan hari setelah perlawanan itu, para pejuang Indonesia berkumpul di barak. Komandan Awang bingung. Ia berfikir bahwa mereka tidak akan dengan mudah dapat mengalahkan Belanda tanpa sebuah taktik dan startegi yang berbeda. Kandar kemudian menawarkan sebuah solusi, “Saya memiliki sebuah rencana, Komandan. Bagaimana kalau salah seorang dari kita mendekati gadis belanda anak Van Dijk itu untuk mendapatkan informasi tentang mereka?”

Tak sedikit yang tidak setuju dengan ide Kandar, bahkan Bejo pun sempat bersitegang dengannya. Ia merasa bahwa itu adalah alasan Kandar agar ia dapat berdekatan dengan Belanda dan bertujuan untuk mendapatkan harta dan keselamatannya sendiri. Tapi hal itu kemudian ditengahi oleh Komandan Awang. Beliau setuju dengan ide Kandar, walau akhirnya Bejo keluar dari barak dengan wajah marah dan kecewa.

Di lain tempat, seorang gadis belanda cantik sedang mengetuk pintu rumah seorang pribumi. Ia Elizabeth, gadis Belanda yang ditabrak Kandar. Ia sedang menemui kawannya, Ningsih, seorang pribumi. Mereka telah berjanji untuk berjalan-jalan di desa sore itu.

“Bu, kula mlampah-mlampah rumiyen. Saderengipun asar kula sampun pulang.” Bu Elis mencoba menirukan ucapan Ningsih dengan logat jawa yang kaku.

Kau tahu siapa Ningsih itu? Dia adalah adik Kandar. Ya, Kandar yang menabrak Elizabeth. Sempat ku menebak-nebak apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka bertemu, mereka saling suka, mereka mendapat banyak cobaan, dan akhirnya hidup bahagia. Tapi tidak, tebakanku kurang tepat.

Sementara si adik berjalan-jalan dengan Elizabeth, Kandar tinggal di rumah. Ia sedang berlatih bagaimana cara untuk merayu gadis belanda anak Van Dijk itu. Namun, disela latihannya, terdengar ketukan pintu dari luar rumah. Mendengar suara adiknya mengucap salam, ia membuka pintu. Ia terkejut mendapati Ningsih bersama Elizabeth. Setelah Elizabeth berpamitan, Ningsih mengungkapkan bahwa pertemanannya dengan Alizabeth dimulai ketika ia mengembalikan dompetnya yang terjatuh suatu hari di pasar Krambil. Kandar merasa semuanya sekan dipermudah. Ia merasa bahwa bau kekalahan Belanda telah tercium.

#

Sejak saat itu, Kandar dan Elizabeth semakin dekat. Mereka sering bertemu di rumah Ningsih. Hingga suatu hari, Edward memergoki Elizabeth dan Kandar sedang berduaan. Ia melaporkan hal itu ke Issabelle, ibu Elizabeth. Jadilah ia marah dan melarang hubungan mereka. Kondisi ini membuat Komandan Awang mengambil rencana B, karena takut bahwa diketahuinya hubungan Kandar dan Elizabeth akan berdampak buruk bagi keadaan masyarakat pribumi.

“Pada rencana B, Kandar berperan seolah sebagai seorang pengkhianat bangsa Indonesia yang membocorkan rahasia penyerangan Indonesia ke Van Dijk, sehingga pada kesempatan selanjutnya ia dapat mendekati Elizabeth, sebagai bayaran atas ‘kerja’nya, yang akan ia manfaatkan untuk keperluan Bangsa Indonesia selanjutnya.” Jelas Bu Elis. Bejo kembali  menolak langkah ini, menurutnya langkah ini berarti membuat perang dengan mengkondisikan pihak Indonesia sebagai pihak yang kalah. Hal ini sama saja dengan menumpahkan darha sendiri. Menurutku logis juga alasan Bejo, tetapi aku percaya bahwa Komandan Awang punya pertimbangan yang lebih matang soal ini. Ah stop berspekulasi.

Pertempuran yang telah diskenario itu benar-benar terjadi. Pada saat peperangan, Belanda dengan mudah mengalahkan Indonesia karena beberapa faktor. Pertama, mereka telah mempersiapkan pasukannya dengan baik. Kedua, mereka hanya melawan segelintir orang saja. Pada awalnya mereka penasaran mengapa hanya ada sedikit prajurit yang menyerang, tapi sayang, kesombongan mereka lebih besar dari pada keingintahuan mereka untuk meraba tanda itu. Mereka dengan bangga mengatakan Ikk won, yang artinya aku menang.

#

Berhasil dengan taktiknya, Kandar mendapatkan banyak informasi dari Elizabeth atau dari percakapan para Landa saat ia dan Elizabeth berdua-duaan. Namun entah sejak kapan, muncul sebuah rasa yang aneh di hati Kandar setiap ia memandang mata biru Elizabeth. Ia berada dalam dilema. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Elizabeth hanyalah boneka, di sisi lain ia mulai menyadari bahwa ia mulai mencintai Elizabeth.

Hari demi hari rasa itu semakin menguat. Ia selalu menepis rasa itu dengan berkeyakinan bahwa bangsanya, Indonesia, lebih penting dari segalanya. Rencana yang telah mereka susun berjalan dengan lancar. Kandar berhasil meyakinkan pihak Belanda bahwa ia memang seseorang yang ‘bisa dipercaya’. Tinggal satu langkah menuju akhir dari rencana yang telah dirancang, yakni memberi tahu rencana palsu atas sebuah penyerangan kepada Van Dijk.

“Indonesia akan melakukan serangan balas dendam kepada Belanda satu minggu setelah hari ini.” ia mengawali percakapannya dengan Van Dijk. Ia menjelaskan dengan detail dari mana pasukan Indonesia akan menyerang Belanda, bagaimana langkah mereka, dan seluruh persiapan, seakan hal itu benar-benar akan terjadi. Aku berfikir, seharusnya setelah mengetahui hal itu, Belanda menyerang Indonesia esok hari atau lusa, tanpa menunggu penyerangan ‘yang sebenarnya’ terjadi. Tapi mengapa tidak? Apa karena semua kisah dongeng memang indah? Atau karena semua kebetulan benar-benar telah diperhitungkan? Entahlah, yang jelas ada kerja Sang Pengatur di setiap detail waktu.

Rasa itu tak mau berkompromi dengan Kandar rupanya. Rasa itu semakin dalam seiring dengan semakin dekatnya waktu serangan yang telah ia dan komandan rencanakan.  Ia menyayangi Elizabeth dengan sepenuh hati. Setiap kali melihat mata biru Elizabeth, rasa cinta itu semakin subur tersiram oleh keindahannya. Namun disaat yang sama ia menyadari bahwa sebuah bom waktu sedang menunggu kapan ia meledak, bahwa Elizabeth juga akan mati bersama Van Dijk dan kroni-kroninya. Dilema ini semakin menjadi-jadi, berkecamuk di hati Kandar. Hingga suatu malam ia merasa yakin bahwa ia harus menyampaikan yang sebanarnya kepada Elizabeth, hanya kepada Elizabeth.

#

Malam itu langit sangatlah indah, berlawanan dengan hati Kandar yang semakin buncah. Esok adalah hari penyerangan yang sebenarnya, bukan 5 hari lagi, seperti yang ia sampaikan kepada Van Dijk.

“Elizabeth, apa kau sudah tahu rencana penyerangan Indonesia terhadap Belanda yang kedua kalinya ?” Bu Elis mencoba menirukan suara gagah Kandar.

Dengan yakin, Elizabeth menjawab iya. Pada awalnya ia sempat berterima kasih kepada Kandar karena mau membocorkan rahasia Belanda kepada ayahnya. Tetapi, tiba-tiba ia teringat wajah Ningsih, temannya, sahabatnya, seorang bangsa Indonesia yang telah membantunya. Bahkan tiba-tiba terbersit dalam hatinya bahwa ayahnya berada di jalan yang salah. Ia telah mendzalimi orang lain. Ia kemudian menanyakan Kandar bagaimana nasib bangsanya kemudian.

Kandar memberi tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, rencana yang sebenarnya. Raut wajah Elizabeth berubah menjadi kecewa, marah, dan sedih. Ia memaki Kandar dengan sebutan jahat, munafik, dan tak tahu perasaan. Kandar yang sebenarnya merasa bersalah mencoba menjalaskan bahwa mungkin awalnya ia memang memanfaatkannya, namun kemudian ia benar-benar mencintainya. Ia membuktikan bahwa bagaimana mungkin ia akan membocorkan rencana yang sebenarnya jika ia tidak mencintai Elizabeth. Hati Elizabeth terlanjur terluka, ia menyerang Kandar dengan pertanyaan yang membuatnya diam.

“Mengapa kau berbohong kepada ayahku? Apakah itu taktik dari pihakmu untuk mengalahkan kami? Apa kau selama ini mendekatiku hanya untuk memanfaatkanku demi keuntungan bangsamu? Tidakkah kau pernah memikirkan perasaanku? Apa keinginanmu yang sebenarnya?” Raut wajah Bu Elis berubah. Aku melihat mata beliau menatap jauh entah kemana. Mencoba menerawang peristiwa itu mungkin. Para siswa juga ikut terbawa suasana, mereka menatap setiap gerik Bu Elis dengan seksama, dalam.

Kandar kemudian menjelaskan bahwa ia hanya ingin Elizabeth selamat dengan melarikan diri. Elizabeth masih tidak terima, ia juga menyayangi orang tuanya. Ia berfikir bahwa bagaiamana mungkin ia akan melarikan diri sementara orang tuanya menjadi korban pertempuran itu. Kandar sudah tidak punya alasan lagi. Ia terdiam sejenak lalu berkata “Aku berjanji akan menemuimu setelah pertempuran! Aku janji!.”

Hati Elizabeth sudah terlanjur terluka. Ia melempar bunga mawar yang Kandar berikan di awal malam itu. “Kau jahat, Kandar!” lalu ia berlari.

“Pertempuran itu akhirnya terjadi. Indonesia mendapatkan kemenangan telak atas Belanda. Dengan jumlah personil yang lebih banyak dan persiapan yang lebih matang, Indonesia berhasil menunjukan taringnya kepada Belanda. Kandar, Komandan dan Bejo, serta seluruh pasukan Indonesia telah sukses dengan taktiknya. Sementara itu, Lucas Van Dijk, Issabelle dan Edward tewas dalam pertempuran. Tapi bagaimana dengan Elizabeth? tidak ada seorangpun yang mengetahui nasibnya” Bu Elis mengelengkan kepala dan mengakhiri penjelasannya.

#

Aku mencoba menganalisa, lalu bagaimana kisah itu sampai kepada Bu Elis bila Elizabeth sebagai sumber pertama kisah tersebut tidak diketahui rimbanya. Aku memberanikan diri untuk bertanya. “Saya mendapatkan kisah itu dari diary seseorang yang saya temukan di rumah tua di desa saya. Namun diary itu kini hilang bersama peristiwa terbakarnya rumah tua itu” jawab Bu Elis.

Walaupun sebenarnya kisah tadi menggantung, semoga aku mendapatkan berkahnya karena telah mendengarkan penjelasan beliau dengan seksama. Haha.

#

Lima hari kemudian, kerap kali para siswa membicarakan kisah itu. Ternyata beliau menceritakannya di semua kelas XI, baik IPA maupun IPS. Usut punya usut, kabarnya beliau selalu menceritakan kisah itu kepada tiap angkatan muridnya, dan konon, menurut beberapa pengakuan kakak kelas yang tinggal satu kos, detail ceritanya selalu sama, tidak ada yang tertinggal satu pun, seakan beliau benar-benar melihat peristiwa antara Elizabeth dan Kandar.

Aku mencoba menggabungkan semua petunjuk. Mungkinkah beliau Elizabeth Louis Van Dijk mengingat namanya yang mirip, Elis Beta Luiy? Entahlah, tapi yang jelas, semua orang tahu, bahwa beliau hidup sendiri. Beliau tidak memiliki sejawat di kota ini. Dan tiap ditanya kenapa beliau tidak menikah. Beliau selalu menjawab “Aku sedang menunggu seseorang.”

0 komentar: