Assalamu alaykum, akhi dan ukhti, kaifa halukum ? Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin AlhamduliLah kita telah samp...

Boleh Ku Ulang Ramadan 1435?


Assalamu alaykum, akhi dan ukhti, kaifa halukum?
Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin

AlhamduliLah kita telah sampai di bulan penghujung tahun 1435, bulan Dzul Hijjah, dimana saudara-saudari kita yang beruntung sedang memenuhi undangan Allah mengunjungi Bait-Nya. Segala puji bagi Allah, yang masih memberikan karunia berupa nafas yang setiap hembusannya adalah rahmat-Nya yang tak terkira. Sungguh beruntung bagi kita yang masih mau bersyukur atas segala karunia yang dikaruniakan Allah kepada kita. Tetapi sebelum kita benar-benar merasa menjadi orang beruntung karena telah disampaikan umur kita di bulan penghujung tahun ini, mari kita bermuhasabah, sudahkah Ramadan 1435 membuat kita pantas menjadi manusia dengan minimum requirement selama 11 bulan ke depan?

Ramadan adalah bulan tarbiyah. Bulan dimana setiap muslim akan dididik untuk menjadi manusia yang bertakwa sebagai, sebuah persiapan menghadapi 11 bulan kedepan. Ibadah di bulan Ramadan tidak seharusnya berhenti hanya menjadi ritual fisik belaka namun hendaknya ia difahami sebagai sebuah bentuk pengajaran agar kita mengerti minimal apa dan bagaimana seorang manusia itu. Semua rangkaian ibadah Ramadan akan mengembalikan kita menjadi manusia yang sebenarnya., manusia dengan kemapuan minimum, yakni bertakwa kepada Allah, untuk untuk menjadi penyebar rahmat kepada seluruh sekalian alam.



Shaum atau puasa yakni menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam al Quran surah al Baqarah : 183 dijelaskan bahwa puasa akan menjadikan seorang manusia bertakwa. Takwa ini dapat timbul karena adanya sebuah keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, sehingga walaupun orang lain tidak mengetahui apakah si fulan sedang berpuasa atau tidak, si fulan akan terus berpuasa karena percaya bahwa Allah Maha Melihat. Dari sinilah, bibit-bibit taqwa akan muncul dalam hati seorang muslim.

Lalu, ,apakah berhenti pada peningkatan diri secara vertikal saja ibadah puasa ini? Tidak!

Sifat-sifat puasa yang telah ditentukan waktunya, ditentukan syaratnya, dan sifatnya sebagai ibadah yang tak terlihat akan mengajarkan pada diri manusia yang sedang berpuasa sikap-sikap positif seperti disiplin, ikhlas, totalitas, dan professional. Seorang yang berpuasa akan menjadi manusia yang selalu jujur, apa adanya, tidak munafik dan professional kapanpun dan dimanapun. Karena orang yang memahami hikmah ini akan bekerja dengan baik meskipun tanpa diawasi, 

Puasa, juga akan menumbuhkan minimum requirement lain di dalam jiwa manusia yang telah lama terhijab selama 11 bulan, yakni kepedulian terhadap sesama dan kepekaan terhadap kondisi sosial dan lingkungan. Seseorang yang berpuasa tidak akan menjadi orang yang 'bahbah lomo' 'ah biarin' ataupun 'masa bodoh' terhadap lingkungannya. Melalui puasa seseorang akan belajar untuk berempati, ikut merasakan penderitaan mereka yang berkekurangan. Puasa secara tidak langsung akan membentuk seorang muslim menjadi dermawan, suka menolong, dan suka membantu.

Satu lagi hal yang dapat diambil sebagai hikmah puasa yakni puasa akan melatih seorang muslim untuk dapat menahan emosinya. Apa yang lebih baik dari pada kemampuan menahan emosi atau Emotional Quotient yang bahkan menurut banyak peneliti dan pengamat justru ialah yang memiliki andil besar dalam menentukan kesuksesan seseorang?

Sudahkah pelajaran dan hikmah-hikmah ini terpatri dalam jiwa kita?



Zakat al-Fitr yakni zakat yang dikeluarkan pada bulan Ramadan yang kewajibannya mengikat pada seluruh muslim yang mampu baik kecil maupun besar. Zakat adalah sarana penegasan kembali fungsi tarbiyah sosial dari Ramadan. Ilmu adalah untuk diterapkan, teori adalah untuk dibuktikan. Maka dalam hal ini, setelah seseorang faham dan belajar untuk peduli dan berempati melalui berpuasa, ia diajak untuk mempraktikkannya melalui zakat. Zakat adalah sarana praktis untuk mempraktikkan teori-teori sosial puasa, tentang kepekaan, kepeduliaan dan empati. Seseorang yang berzakat akan belajar untuk mengerti hak dan kewajiban dan penanganan keduaya. Ia akan menjadi sosok yang suka membantuk dan menolong sesama. 

Sudah kah pelajaran ini terpatri dalam jiwa kita?


Bagaimana dengan ibadah sunnah yang lain? Ibadah-ibadah sunnah seperi tarawih, tadarus, iktikaf, dan berzikir adalah utamanya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi apakah sampai disitu saja? Tidak! Secara minimum, seseorang yang rajin dalam ibadahnya di bulan ramadan akan mampu memanage waktu dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-bainya. Ia akan menjadi pribadi yang fit, energik, professional, dan totalitas dalam berkarya untuk umat. Ia akan selalu memanfaatkan waktu luangnya dalam 11 bulan kedepan dengan sebaik-baiknya.

Lantas, sudahkah pelajaran ini merasuk dalam jiwa kita?
Andai aku bisa mengulang Ramadan 1435



Idul fitri adalah hari kemenagan umat Islam. Kemenangan bagi mereka yang lulus ujian yakni mereka yang telah benar-benar faham dan bertekad untuk menjadi manusia sejati dengan minimum requirement-nya. Mereka akan bahagia akan lulusnya mereka dari ujian. Mereka akan menabuh genderang kembali untuk perjuangan yang lebih besar, perjuangan 11 bulan kedepan. Bersama dengan ucapan takbir, tahlil, dan tahmid mereka bersuka cita. Lantas bagaimana dengan mereka yag enggan lulus?

Tak ada yang tahu, hanya ia sendiri dan tentu Allah yang tahu. Tapi kabar gembiranya, pintu introspeksi diri masih terus terbuka dan pintu taubat akan terus terbuka hingga panggilan maut datang. Jadi, mari kita lakukan introspeksi diri di bulan terakhir tahun 1435 ini. Mari kita berhijrah di 1436, bersama dengan peringatan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Mari kita hijrah dari 'aku yang sekarang' mejadi 'aku yang terus lebih baik'. Aamiin


Jadi, bolehkah aku ulang ramadan 1435?

Tak perlu kita ulang ramadan yang telah berlalu. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali, Aaktu adalah pedang yang akan membunuh bila tidak kita takklukkan. Cukup kita gunakan waktu yang ada untuk introspeksi diri dan berhijrah mebjadi manusia lebih baik.

Lantas kapan waktunya? Sekarang!

Sebab hanya waktu sekarang yang kita miliki, tadi adalah memori yang tak akan kembali dan nanti tak akan pernah kita gapai. Semoga Allah berkenan menyempurnakan amal kita pada tahun 1435 pada umumnya dan Ramadan 1435, dan semoga Ia memperkenankan kita untuk merasakan nikmat Ramadan 1436. Aamiin

###


Di akhir posting ini, saya berterima kasih kepada seluruh saudara muslim saya yang membantu saya meghidupkan Ramadan 1435, sungguh saya tidak akan pernah melupakan keindahan Ramadan tahun ini, insyaAllah. One thing i'll never forget from my greatest last ramadan : NgaOS. May Allah accept our prayer and deeds. Aamiin. See you in next Ramadan. Aamiin! Salaam alaykum!

0 komentar: