- diadaptasi dari Naskah Drama Bahasa Inggris Kelompok XII IA 3 - SMAN 1 Jember  - . . . hendak aku kisahkan padamu sebuah kisah...

Hikayat Pangeran Ghazi


- diadaptasi dari Naskah Drama Bahasa Inggris
Kelompok XII IA 3 - SMAN 1 Jember -

. . . hendak aku kisahkan padamu sebuah kisah yang aku cuba tuturkan dengan gaya ungkap dan lughah klise. Sebab kau tahu, pada masa ini tak sedikit persoalan kita berhubungan dengan kesastraan klasik melayu, semoga engkau terhibur, Kesayanganku.

#

Syahdan, di sebuah negeri di semenanjung Anatolia, berjayalah sebuah kerajaan agung nan tiada tara. Ia ternamakan Dersaadet. Terjaya di antara kerajaan lain di Asia dan Eropa, ia diperintah oleh seorang amir bijaksana, Sultan Suleiman. Dia adalah sebaik-baik raja, sebaik-baik pemanah, dan sebaik-baik pengendara kuda pada zaman itu. Namun, tak lama bermasyhur, sebuah peperangan menghantarkan ia berpulang ke hadirat Allah.

Kerajaan tersebut sangatlah berduka, dan tentulah juga Ratu terkasih, Alexandria. Namun, titah hukum berkata bahwa ialah pengganti amir termuliakan itu. Ia terlantik menjadi Ratu Dersaadet. 

Ratu Alexandria dan Sultan Suleiman memiliki tiga permata hati. Dua diantaranya adalah puteri elok nan cantik, Sitti Hadice dan Sitti Canti. Lainnya, seorang pangeran cerdas nan rupawan, Pangeran Ghazi.

#

Tersebutlah dalam adat masyarakat Dersaadet suatu hari yang mana tiada orang patut bersedih dan bermuram, ia adalah Hari Anak-Anak Sultan. Pada hari itu, semua putera dan puteri Sultan dan Ratu disilakan untuk menunjukkan kebisaan terbaik mereka pada seluruh rakyat, dan pasti pula didepan ibundanya, Ratu Alexandria.

"Anandaku, Berhiaslah dan bersiaplah untuk hari teristimewa bagi Dersaadet. Bersiaplah diri kalian dengan kebisaan-kebisaan baik kalian. Bikinlah hati ibunda dan rakyat berbahagia dan berbangga berpermata hati kalian. . ."

Hatta, tibalah hari itu. Tiada sesiapapun yang bersedih dan berduka, bahkan induk sapi dan kambing yang anaknya telah diperkorbankan untuk menjadi santapan pada hari itu. Sementara itu, Sang Ratu duduk dengan cantiknya di singgasana kerajaan agung, ia menunggu putera dan puterinya berdatang.

"Wahai rakyatku, Bergembiralah kalian! Sebab hari ini telah datang kepada kita! Marilah kita menyambut permata hati kita yang cantik dan elok, Puteri Hadice!"

"Ibundaku terkasih, Ananda akan tunjukkan sebuah tarian terelok yang akan ibunda pernah saksikan di sepanjang masa serta tahun yang ada." Puteri Hadice menari begitu elok. Semua mata berpandang kepada gerakan indah beliau. Semua orang terkagum-kagum dan berbangga. Semua orang bertepuk tangan. Bahagialah Ratu Alexandria berpunya permata hati yang elok nan pandai menari itu.

"Bangga tak terkira hati ini melihatmu, Ananda. Lalu, Mari kita menyambut permata hati kita kedua, Puteri Canti!"

"Ibunda, Ananda akan memainkan biola ini. Akan ananda perdengarkan kepada Ibunda musik terindah yang Ibunda akan pernah dengar di sepanjang hikayat hidup." Puteri Canti memainkan dengan elok biolanya, semua terkesima. Seperti nyanyian surgaloka, lagunya begitu merdu dan menyenangkan hati semuanya.

"Sungguh, betapa senang aku berpunya kalian, wahai Anandaku! Lalu mari kita sambut pangeran kerajaan dan pangeran hati kita, Penerus Termulia Dersaadet, Pangeran Ghazi!"

Masuklah pangeran dengan wajah cerah dan hati berbangga, "Ibunda, ini Ananda persembahkan makanan terlezat yang pernah Ananda buat di sepanjang hikayat hidup Ananda dan yang terenak yang pernah Ibunda rasakan di sepanjang hikayat hidup Ibunda"

Namun, bukanlah bahagia dan bangga terpancar dari air wajah Ratu, melainkan ia menjadi naik pitam sedang tangannya melempar baki sajian itu. "Kebolehan memalukan apa yang kau tunjukkan kepada kami sekalian! Kau adalah satu-satunya pangeran di bumi Dersaadat ini, sedang Engkau tunjukkan kebolehan seorang wanita! Ini aib bagi istana dan negeri ini! Kami kecewa kepadamu! Enyahlah! Pergilah! Taksudi diri kami melihat wajahmu!" Dengan suara bak guntur, Sang Ratu mengusir Pangeran Ghazi.

Berjalanlah Pangeran Ghazi dengan berduka dan bersedih hati ke daerah yang tak pernah ia pijaki sebelum masa itu. "Ibunda, mengapa ibunda tega? Akan ananda tunjukkan bahwa suatu masa nanti ibunda akan berbangga berpermata hati, Ananda"

Akhirnya, ia memasuki sebuah rumah makan. Bertemulah ia dengan juru masak yang handal. Belajarlah ia bersamanya seni-seni memasak, hingga ia menjadi juru masak yang masyhur, bernama alias Bey. Tak ada sesiapapun yang mengenalinya sebagai pangeran, sebab ia selalu menggunakan hijab pada wajahnya.

#

Sementara itu, Istana sedang bersibuk akan datangnya hari berkawinnya Puteri Hadice. Semuanya telah dipersiapkan kecuali satu, juru masak perkawinan. Hingga akhirnya Perdana Menteri Alim menasihati ratu untuk mengambil Juru Masak Bey menjadi juru masak perkawinan. Mufakatlah Ratu Alexandria.

Hari Perkawinan telah tiba. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baiknya hingga tampak meja hidang seakan-akan hendak patah dan jatuh karena banyaknya santapan. Setiap orang memuji-muji kehebatan sang juru masak sebab begitu lezatnya makanan yang ia sajikan.

Tibalah saat yang menurut adat Puteri yang hendak berkawin harus menyerahkan hidangan bagi Ibundanya. Namun ketika dibukanya tudung saji makanan, terkejut dan naiklah amarahnya menemukan sebuah busur dan anak panah berada disana. Segera ia perintahkan penjaga untuk memanggil si juru masak.

"Apa yang hendak engkau maksudkan dengan hal ini! Apa kau ingin digantung atau dipenggal? Jelaskan semua ini!"

Dengan suara lembut dan bijak, juru masak itu berkata, "Ingatkah engkau wahai baginda, seorang anak yang terbuang sebab memiliki kebolehan memasak yang handal?"

"Apa maksudmu!"

"Engkau buang anakmu sebab ia memiliki kebolehan yang baginda fikir hanyalah patut dilakukan seorang wanita sahaja. Sebab itu, Anandamu itu tak akan pernah menyajikan masakannya kepada baginda." Juru masak bey membuka hijab wajah yang selama ini menutupi wajahnya. Terkenalilah ia oleh seluruh hadirin bahwa ia adalah Pangeran Ghazi. Sang Ratu yang mengenalinya menangis, sudah lama sebenarnya ia merindukan permata hatinya itu. Ia memeluk pangeran dan menangis. Meminta maaflah ia atas peristiwa pada masa itu.

"Ananda, maafkan kekhilafan ibunda. Sudilah kiranya engkau kembali bersama kami disini, mengisi kerinduan kami yang telah menumpuk sepanjang kepergianmu." Mufakatlah Pangeran Ghazi, semua orangpun bergembira. Pesta perkawinan itu menjadi sangat berkesan bagi kesemuanya.

#

Namun, bukanlah gembira akhir dari hikayat ini. Sebab tak lama setelah pesta kawin itu, Kerajaan Desaadet dikepung oleh Kerajaan Venizelos. Bergemuruhlah perang besar diantara kedua kerajaan itu. Pangeran Ghazi jugalah turut dalam pertempuran. Hasilnya, Kerajaan Dersaadetlah yang memenangkan prang. Namun, sayang seibu sayang, Pangeran Ghazi gugur dalam laga. Sejak masa itulah, tiada makanan yang tidak disantap oleh Ratu Alexandria tanpa disertai air mata kesedihan yang mengalir di pipinya sebab ingatan akan putra semata wayangnya itu. Selesai.

0 komentar: