ketika keinginan -atau lebih tepatnya nafsu- menutupi semuanya . . . haruskah kau korbankan doa-doa yang kau layangkan tiap kamis malam, ...

Pasca UN, Soal Keyakinan


ketika keinginan -atau lebih tepatnya nafsu- menutupi semuanya . . .
haruskah kau korbankan doa-doa yang kau layangkan tiap kamis malam,
    tiap sepertiga akhir malam, atau bahkan di setiap akhir shalatmu?
haruskah kau korbankan usahamu, keyakinanmu, dan keringatmu selama 3 tahun,
    saat PIB atau belajarmu di LBB tiap pagi, siang, malam dan bahkan di hari minggu?
haruskah kau korbankan harap dan cita-cita sucimu
    dengan sebuah langkah mundur : C U R A N G ?
H-1 UN 

PERINGATAN : Penulis mohon maaf bila terdapat sahabat yang tersinggung setelah membaca posting ini. Melalui posting ini saya juga bukan ingin menyampaikan bahwa saya adalah orang yang sangat jujur. Tidak pula saya bermaksud menggurui. Tulisan ini hanya sebuah curahan hati yang saya harap bisa membawa manfaat bagi siapapun yang membacanya. Terima kasih



AlhamduliLlah, saya bersama puluhan atau bahkan ratusan ribu siswa SMA/MA sederajat lainnya di Indonesia hari ini telah melaksanakan salah satu tahap pendidikan di Indonesia: Ujian Nasional. Sedikit curhat pelaksanaan UN saya ya:

Hari Senin, Bahasa Indonesia dan Kimia. Bahasa Indonesia alhamduliLlah teratasi, hanya masalah klasik kami: apresiasi puisi. Ah sepertinya saya kurang peka saja. Kimia, alhamduliLlah, momok Ksp yang saya takuti teratasi, soal Ksp-nya tidak sehoror yang saya bayangkan.

Hari Selasa, Matematika dan Biologi. Matematika sih asyik (mayak), tapi akhirnya ada 1 soal yang saya selesaikan dengan Teorema Kancing dan Hipotesa Kejadian Acak (you should know what i mean). Soal biologi, subhanAllah, unpredictable, over all sebenarnya teratasi, cuma sudah terlihat di pelupuk mata satu soal kurang tepat. Allahu a'lam

Hari Rabu, Bahasa Inggris dan Fisika, MasyaAllah, tape untuk listeningnya ndak cocok dengan apa yang dipersoalkan, 15 soal, semoga bonus (Update: muncul isu dianggap 35 soal). Fisika, rezekinya fisika ngerjain sambil kepala pusing dan hidung meler (PS: sampai pengawasnya ngitungin bersin saya).

Buat pembaca sekalian, kebayangkan bagaimana serunya (makna harfiah, without apostrophes) Ujian Nasional? Hal yang paling indah dan feel so blessed itu ketika jawabnya pake teorema kancing sembari memohon peruntungan dari Allah, dan ketika dicocokin sama temen (di luar ruangan lho ya) eh jawabannya sama, girangnya, *.* . Tapi yang paling menyedihan, melankolik, dan sedikit tragic, ketika ternyata jawabannya beda. Akhirnya cuma bisa nenangin diri sambil bergumam "soalku beda paket deh kayaknya" sambil terus memohon keberuntungan dari Allah. 

Tapi sayang, tidak sedikit diantara sahabat kita yang mengorbankan keseruan UN tersebut dengan berbuat curang: 
Soal Ujian Nasional SMA Bocor di Internet (Tempo)
Siswa Peserta UN Kepergok Gandakan Kunci Jawaban (Tempo)
Lagu lama sih kawan, tapi mau sampai kapan?



Kenapa sih harus curang?


Takut Gak Lulus
Hey, kenapa harus takut tidak lulus sehingga berbuat curang saat UN? Mendikbud saja sudah menegaskan bahwa UN bukan lagi syarat kelulusan (disini). UN menjadi salah satu bentuk evaluasi pendidikan Indonesia; untuk mengetahui sampai mana kualitas pendidikan di Indonesia. Berbuat curang dalam kesempatan ini akan membantu gagalnya tujuan mulia Mendikbud tersebut. Akhirnya apa? Tahap pertama, pemerintah tidak mengetahui kondisi real pendidikan di Indonesia. Tahap kedua, pemerintah salah strategi karena salah analisa kondisi pendidikan di Indonesia. Tahap ketiga, Indonesia gak maju-maju. Sehingga yang keluar dari mulut generasi mudanya hanya: "ya maklum Indonesia", "negara siapa?" atau ucapan bermakna sinis sejenisnya.

Nilai Baik
Kita sudah dewasa kawan. Emang kalau nilai baik terus kenapa? Dapet hadiah? Berarti ada hak orang lain yang tidak seharunya kita peroleh dong? Apa agar mudah cari kuliah terus kerjanya mudah? Ah, kawan, pemikiran seperti itu tidak baik. Pemikiran seperti itu yang membuat negeri ini kaya akan koruptor. Negera pada akhirnya dikelola oleh orang-orang yang 'menang' dalam perebutan kedudukan tapi nol dalam kompetensi. Walhasil, pembangunan negara jalan di tempat, birokrasi hanya menjadi alat untuk memperkaya diri. 

Reputasi
Ok, yang terakhir ini gak ada urusannya sama negara, bangsa atau pemerintah. Ini hanya tentang diri kita sendiri. (MasyaAllah, nasihat ini bukan hanya untuk sahabat yang sedang membacanya tetapi juga terkhusus untuk saya pribadi. "Ya Allah, kuatkan kami untuk selalu istiqamah dengan apa yang kami ucapkan"). Saat segala hal bisa kita beli dengan kecurangan, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kita beli kecuali dengan kejujuran: keberkahan. Hal yang paling menakutkan dari segala perbuatan buruk adalah tercabutnya berkah Allah dari suatu aktivitas yang kita lakukan. ("saya memohon ampun kepada Allah atas segala bentuk kecurangan yang pernah saya lakukan selama studi ini"). Dan ketika keberkahan itu dicabut, bukan kasih / kerahiman dan keputusan terbaik dari Allah yang akan kita dapat tetapi hanya sunnatuLlah, maksudnya?

Gini, kenapa benda jatuh kebawah (ke arah bumi). Karena ada gaya gravitasi, itu jawaban secara ilmiahnya kan? Secara hukum alamnya benda-benda tertarik oleh gravitasi, semua yang berusaha akan mendapatkan apa yang ia usahakan, semua yang belajar akan pandai, semua yang menabung akan kaya, dan semua yang berolahraga akan sehat. Hal itulah yang hanya terjadi tanpa sifat Rahim Allah: sunnatullah, hukum alam. Ketika kasih itu hilang ya, itu dah, boleh sahabat bayangkan sendiri.

Tetapi apa yang terjadi bila kasih dan berkah Allah terlimpah kepada seseorang? Yang terjadi adalah keputusan terbaik dari Allah. Seseorang yang berlajar dengan rajin, mengerjakan ujian dengan maksimal dan bertawakkal pada Allah, namun kemudian mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka pasti ada kesuksesan lain yang direncanakan Allah, dan itu pasti lebih indah, lebih baik, dan lebih manfaat dari apa yang diinginkan. ("teguhkan hati kami untuk selalu yakin bahwa keputusan-Mu adalah yang terbaik, ya Allah")


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu
padahal ia amat baik bagimu
dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu
padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

- Al Baqarah : 216 -

I'll not continue on the bad of curang, you can search it within your heart! 

Enough, UN boleh jadi salah satu gerbang menuju kesuksesan. Tetapi ingat, Allah tidak butuh nilai UN sempurna sehingga kita berbuat curang kalau tujuan kita hanya kesuksesan di dunia. Tapi kita membutuhkan kejujuran dimanapun dan kapanpun kita berada sebagai bukti bahwa kita pantas untuk Allah luluskan di dunia ini dan di akhirat kelak. aamiin

"Ya Allah, dengan kekuatan dan bantuan-Mu kami telah usahakan apa yang terbaik, ampunilah dosa kami, berkahilah usaha kami, ridhoilah cita-cita kami, mudahkanlah jalan kami, dan anugrahkanlah kami apa yang terbaik menurut kehendak-Mu." aamiin

7 komentar:

  1. Kamu yang ikut agroindustri itu kan yaaa? Mau masuk univ mana? Pinterbgt parah

    BalasHapus
  2. Haha, iya, nyampe sini juga akhirnya :D
    UNAIR dek

    BalasHapus
    Balasan
    1. KAAK boleh minta apa gitu socmed, kali aja aku mau nanya gimana caranya menang lomba lomba gitu apa tips masuk univ nya, kan aku taun depan lulus hehe

      Hapus
    2. boleh -boleh, disini ya: fb.com/husada.mardiansyah enttar kalau butuh kontak wa / pin bisa lewat inbox aja insyaAllah :)) . Semoga sukses!

      Hapus
  3. Aamii, tulisannya memotivasi :) (walaupun masih kelas XI :D)

    BalasHapus