"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa&...

Benang Merah Ramadhan dalam Tradisi Ahlu Kitab

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Al Baqarah : 183)

Islam bukanlah ajaran baru yang dengan tiba-tiba dibawa oleh Nabi Muhammad. Tetapi Islam adalah kelanjutan dari syariat yang pondasinya telah dibangun dan ditinggikan oleh Nabi-Nabi sebelum Rasulullah. Semua hal pokok dalam Agama Islam memiliki benang merah dengan ajaran sebelumnya, meskipun sudah tentu, detail dan spesifikasi setiap ajaran memiliki perbedaan satu sama lain. Termasuk juga Puasa Ramadhan, ia memiliki benang merah dengan ajaran puasa umat terdahulu. Berikut penjelasan dari Rabbi Ben Abrahamson tentang Ramadhan, Puasa, dan Yahudi. (posting asli beliau dalam Bahasa Inggris cek disini)

Berikut ini adalah kesejajaran antara Islam dan Yahudi: Puasa Asyura = Yom Kippur, Nisfu Sya'ban = Passover / Paskah Yahudi, Ramadhan = Sefirat HaOmer, Idul Fitri = Shavuot / Pentakosta. 

Pada hadits berikut, kita dapat melihat bahwa berpuasa di Yom Kippur adalah wajib dan puasa di Sefirat HaOmer adalah sunnah menurut Syariat Taurat. Setelah Al Qur'an diturunkan, puasa Hari Asyura adalah sunnah sementara puasa Ramadhan menjadi wajib berdasarkan Syariat Al Qur'an. 
Dari Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Mereka biasa melakukan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Pada hari tersebut Ka’bah diberi kain penutup (kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Baarangsiapa ingin berpuasa ‘Asyura, silahkan ia berpuasa. Dan barangsiapa ingin tidak berpuasa ‘Asyura, silahkan ia tidak berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1592) 
Yahudi memiliki 7 puasa major (besar) dan beberapa puasa minor (kecil) di dalam Kalender Rabbinik. Dua diantaranya, Yom Kippur dan Tisha b'Av (9 Bulan Av), adalah puasa 24 jam. Ada pula puasa sunnah yang sama seperti dalam Agama Islam yakni puasa di hari Senin dan Kamis. 
Pada hari--hari biasa, Yahudi Rabbinik shalat sebanyak 2, 4, 4, 3, 1 rakaat. Pada saat hari raya (disebut Mo'ed, sejajar dengan 'Id), umat Yahudi shalat sebanyak 2, 8, 4, 3, 1 rakaat, rakaat tambahan tersebut dinamakan 'musad' (musaf berarti tambahan). 
Cara berpuasa adalah sama dengan yang dilakukan dalam Agama Islam. Jika seseorang tidak berpuasa karena sakit atau bepergian, makan ia harus menggantinya pada hari yang lain. Puasa biasanya dilakukan dari fajar hingga muncul bintang saat maghrib dan diperbolehkan untuk bangun sebelum fajar untuk makan dan minum (sahur, pen). 
Berbicara masalah Bulan Ramadhan, bulan Ramadhan sejajar dengan Bulan Iyyar dalam Kalender Yahudi. Setelah Passover / Paskah, persembahan barley (semacam kurban tetapi bukan kurban binatang) akan dibawa selama 7 minggu dari Paskah ke Shavuot / Pantekosta. Sebelum persembahan / kurban dilakukan, umat Yahudi dilarang untuk memakan: gandum, berley, oat, dll. 
"Sampai pada hari itu juga janganlah kamu makan roti, atau bertih gandum atau gandum baru, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu." (Imamat 23:14) 
Setelah Bait Allah dihancurkan, kurban barley tidak dapat dilakukan. Kaum Yahudi Saduki menetapkan puasa selama 7 minggu dari Paskah hingga Pentakosta. Itulah sebab mengapa puasa 6 hari di awal Syawal menjadi ibadah sunnah. 6 Hari puasa Syawal ini melengkapi 49 hari (7 minggu) Sefirat HaOmer dari Paskah ke Pentakosta. 
Yahudi Rabbinik tidak pernah menetapkan puasa pada masa tersebut. Namun mereka menyatakan bahwa 7 minggu tersebut adalah hari-hari berkabung. Banyak tradisi yang dilakukan ketika berkabung pada hari-har tersebut.  
Puasa tersebut menyebar luas, seperti yang tercatat dalam banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh Kekaisaran Bizantium yang mana berisi larangan untuk berpuasa selama 7 minggu setelah Paskah. Bagi pelanggarnya akan dihukum mati. Umat Yahudi yang telah menjadi Nasrani (Christianized Jews) yang takut dengan Bizantium mulai melakukan puasa atau berkabung pada 7 minggu sebelum Paskah. Dalam Gereja Ortodoks Timur, 7 mingggu ini dikenal seebagai Lent / Puasa Pra-Paskah. 
Di Arab, dimana kebanyakan Yahudinya adalah bermazhab Saduki, larangan yang tertulis pada Imamat 23 : 14 diinterpretasikan dan diwujudkan dalam puasa penuh.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah : 185)

0 komentar: