Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang...

Pembangunan (?)

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." - al ayah 

Ini adalah tahun ke-5-ku hidup sebagai perantau bersama seorang istri dan kedua anakku di kota orang. Sudah 5 tahun pula aku tak pernah pulang ke desa. Biasanya, saat Bulan Ramadhan dan musim mudik tiba, justru adik dan bundakulah yang ku boyong kemari. Ya, kau tahulah, nasib hidup di kota, harus survive setiap saat. Namun, di Ramadhan tahun ini aku dan istriku sepakat untuk mudik ke kampung halaman.

Fatih sudah berumur 7 tahun dan Fatma telah berumur 4 tahun, aku fikir itu usia yang cukup bagi mereka untuk melakukan perjalanan jauh. Tidak banyak yang aku harapkan dari mudik ini, kecuali agar kedua anakku bisa merasakan suasana desa yang asri, bermain petak umpet dengan sepupu-sepupunya, dan oh ya, akan aku ajak mereka berkemah di hutan kecil di dekat desaku.

H-7 Idul Ftiri. Kami menyiapkan segala hal yang diperlukan saat di perjalanan ataupun saat di desa nanti; baju, alat mandi, buku, kamera, binocular, dll. “Yah, aku bawa ini ya?” kata si Fatih sambil menyodorkan tabnya. “Fatih, liburan kali ini gak perlu bawa tab dulu ya, nak,” jawabanku membuatnya cemberut. “Lho, anak bunda kok cemberut?” tanya istriku. “Gini deh, nanti akan ayah ajak berkemah di hutan dan bermain layang-layang di tepi sawah. Hayo seru mana dibanding main tab di dalam rumah?” timpalku. “Beneran yah? Iya deh, nanti ajak kakak main di sungai juga ya yah?” “Siap, bos!”

Melalui jalur darat, 5 hari sebelum hari Raya Idul Fitri tiba kami memulai perjalanan. Kedua anakku sangat excited selama di perjalanan. Fatih mulai merencanakan apa saja yang akan ia lakukan di desa nanti. Fyi saja, jalur darat kami pilih karena kami akan bersinggah ke beberapa tempat mulai dari museum, tempat wisata rohani, juga pantai.

Hari ke-4 perjalanan, kami hampir sampai. Kagum benar aku dengan segala pembangunan di sepanjang jalan. Pertokoan, rumah sakit, dan rumah-rumah mewah minimalis berjajar di sepanjang jalan. Pangling saya dengan jalanan ini. Sepertinya ada dilatasi waktu di 5 tahun tanpa kunjungan kami, semuanya berubah begitu cepat.

Sesuai dengan perkiraan kami, 20-30 menit lagi kami akan sampai di desa. Istriku membangunkan Fatih dan Fatma yang sejak subuh tadi tertidur pulas. Saat terbangun dia langsung bertanya, “Sudah sampai yah?”. “Kakak  sudah bangun? Belum nih sebentar lagi, siap siap ya,” jawabku.

Anakku mulai menatap kaca, “Yah ini sudah dekat kan?”. Tetiba ada suata perasaan mengganjal muncul di benakku, apa ya. Dengan seksama kuperhatikan jalan, rasa itu semakin besar, rasa aneh, mengganjal, takut, khawatir, semuanya bercampur aduk. “Mas, kenapa?” peka sekali istriku. “Ah, nggak kok dik, gak papa,” aku mencoba menenangkannya. 

Ketakutan itu membesar menjadi sebuah bola salju yang turun dan siap mnggelindingkan aku yang sedang mendaki. Ini sudah hampir satu jam dari gapura kota, benar, 10 menit lagi seharusnya sudah sampai rumah dan langit masih cerah. Ini sangat berbeda dengan kondisi 5 tahun yang lalu. Benarkah hanya 5 tahun aku meninggalkan kampung ini? Aku semakin takut.

Dan belum selesai ketakutan dalam lamunanku itu aku lipat, anakku kembali bertanya, “Hutannya mana, yah?”


0 komentar: