sebuah mimpi di siang bolong. ianya tak terlupakan, sama seperti saudara kandungnya di makkah dan madinah, megah dan indah, tenang dan ...

(koma) Masa itu


sebuah mimpi di siang bolong. ianya tak terlupakan, sama seperti saudara kandungnya di makkah dan madinah, megah dan indah, tenang dan damai, ramai namun khusyuk dan khidmat. ada taman bagi orang-orang yang beriman, masjid untuk mereka bersujud, menyembah dan memuji Asma Tuhan Yang Menciptakan. mereka, kedua anak cucu yang sekarang sering berkelahi. anak cucu Ismail dan Ishaq. akankah mereka menunggu wafatnya Ibrahim untuk berekonsiliasi? "Nak, bangun" Ah mimpi toh,...

#

Asap bukhur menyeruak keluar dari pintu dan ventilasi bangunan suci itu. Aromanya semerbak, merayu hidungku yang sedang mencari kurma-kurma pilihan untuk berbuka puasa. Hari ini, hari Kamis.

Langit mulai jingga, maghrib hampir tiba. Ku langkahkan kakiku menuju sakhrah dengan 6 butir kurma di genggaman. Tiga untukku dan sisanya untuk seorang sahabatku. Tiga butir kurma, sunnah dari Sang Baginda, bukan?

Ku pindai pelataran yang mulia ini, dari kiri ke kanan dengan seksama. Anak-anak kecil dan halaqah pengajiannya. Sekumpulan ibu-ibu dan gossipnya, mungkin. Beberapa orang yang sedang keluar masuk sakhrah, tampak sebagian dari mereka dengan khidmat mengusap daun pintunya. Dan... itu dia, sahabatku, sedang duduk khusyuk menghadap sakhrah. Aku berjalan ke arahnya.

Oh, lihat, semua orang bergembira, mereka akan berbuka. Setiap orang menyapaku dengan salam khas kami -orang-orang yang beriman-, "Damai atasmu!" "Atasmu pula kedamaian!" Sayup-sayup terdengar lantunan piyutim dari arah tenggara. Sedang dari selatan ku dengar suara merdu bacaan al Kahfi oleh imam favoritku.

Allahu akbar, Allahu akbar

Ya Tuhan, sudah maghrib! Aku cincing jubah ini untuk mempercepat jalan. Temanku menyadari kedatanganku, ia tersenyum dari kejauhan. Ah, pasti dia sudah menunggu lama. Hari ini aku tidak sesibuk biasanya, ada imtihan di kelas kesehatan, diskusi aljabar, dan halaqah akhlak. Masyaa Allah

Asyhadu ann laa ilaha illa Allah

"Maaf terlambat, ini aku bawakan kurma untukmu berbuka puasa." "Masyaa Allah, terima kasih banyak. Semoga puasa kita diterima oleh Allah, Tuhan kakek moyang kita, Ibrahim." "Aamiin", kami mengamininya bersama.

Bintang-bintang mulai bermunculan, dia baru memakan satu kurmanya. Sementara kurma di tanganku sudah habis. Aku haus.

Allahu akbar, Allahu akbar

Iqamah! Saatnya berpisah. Kami bersalaman dan bertukar senyum. Saling bertolak arah sesudah kami mngucap salam khas kami, orang-orang beriman dari keturunan Ibrahim. "Assalamu alaykum!" "Alekhem Shalom!" jawabnya


Haram Syarif, masa itu

0 komentar: