https://smansabayunglencir.files.wordpress.com/2009/07/dsc036572.jpg MOS, Massa Orientasi Siswa, adalah sebuah kegiatan untuk siswa ...

MOS, Masih Perlu?

https://smansabayunglencir.files.wordpress.com/2009/07/dsc036572.jpg

MOS, Massa Orientasi Siswa, adalah sebuah kegiatan untuk siswa baru di awal tahun pelajaran. Idealnya, MOS menjadi sebuah kesempatan untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada para siswa baru. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa terdapat penyelewengan MOS: artibut aneh tugas aneh, dan senior aneh.

Atribut aneh. Tidak sedikit sekolah yang mewajibkan para peserta MOS-nya menggunakan atribut aneh, mulai dari karung goni pengganti tas, tali rafia pengganti tali sepatu, pita-pita berlebihan, rok rafia, dll. Apologi mereka adalah agar mereka menjadi kreatif. Kreatif dari mana? Atribut-atribut tersebut justru menyulitkan peserta MOS dan orang tuanya. Lebih dari itu, atribut-atribut tersebut sama sekali tidak menampilkan semangat MOS: menjadi ajang perkenalan lingkungan sekolah pada siswa baru. Masih ngotot pake atribut? Kita bisa mengambil contoh atribut kedaaerahan semisal udeng dan batik, dengan atribut itu sebuah nilai baru bisa diselipkan dalam kegiatan MOS: mempelajari dan melestarikan budaya bangsa. Nah lebih jelas toh?

Tugas aneh. Saat MOS, tak jarang enior akan menugaskan peeserta MOS hal-hal aneh dan absurd: membawa pisang dengan ukuran tertentu, memotong rambut dengan model tertentu, memakai pot sebagai topi, dll.  Coba kita berbicara jujur, apakah manfaat tugas-tugas tersebut selain hanya menimbulkan efek bullying? Selain dari itu, semua alasan hanyalah apologi semata, menggunakan pot adalah usaha untuk menanamkan adiwiyata pada siswa misalnya, apanya yang adiwiyata? Menanamkan semangat adiwiyata contohnya bisa dengan menugaskan mereka membawa bunga yang harus mereka rawat disaat MOS, terlebih lagi saat KMB biasa. Itu baru semangat adiwiyata. Variasi tugas lain? Banyak! Kita bisa mengdopsi ide MOS di Singapura, membuat 30 orang senang setiap hari, atau ide-ide lain seperti membuat lagu atau yel-yel berisi istilah ilmiah, membuat denah sekolah dan sebagainya.

Senior aneh. Nah ini nih sindrom paling memuakkan. Pada masa MOS biasanya muncul senior-senior berkelakuan aneh:: mengamuk tanpa jelas, menggebrak-gebrak meja dan pintu, dan berbicara kasar yang kemudian pad hari terakhir dengan wajah innocent mengatakan “Maaf ya dek”. Mereka bilang ini sebagai upaya agar mereka disiplin. But look! Bukan disiplin yang mereka dapatkan tapi luka dalam hati, yang pada tahap selanjutnya luka tersebut akan tumbuh menjadi dendam yang secara tidak langsung memunculkan keinginan melakukan hal serupa kepada junior mereka kelak. Bukankah ini lingkaran setan yang berbahaya? Hai senior, ingat akan ada senior diatasmu dan hai junior bukankah menjadi junior dengan senior menyebalkan itu tidak menyenangkan? Jadi, jika memang perlu sesi ‘marah-marah’ jadikan sesi itu benar-benar jelas dengan menjelaskan apa salah mereka dan memberikan solusinya. Tidak perlu menggebrak meja dan pintu (ini mungkin cikal bakal demo anarkis) dan mengeluarkan kata-kata kasar. Jadi senior, bedakan tempramen sama tegas!

Jadi, MOS masih perlu? Jawaban saya adalah iya! Yang dibutuhkan hanyalah memodifikasi praktek yang ada agar semangat murni MOS bisa hadir kembali. MOS jangan lagi menjadi sebuah momok bagi siswa baru, tetapi menjadi sebuah pengalaman awal yang tidak akan mereka lupakan.

Kalibaru, H-18 Amerta

0 komentar: