player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio) Hari ini adalah H-4 kegiatan maba ingusan akan dimulai, PPKMB (atau MOS, atau OSPE...

Semua Tak Lagi Sama #1

player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio)


Hari ini adalah H-4 kegiatan maba ingusan akan dimulai, PPKMB (atau MOS, atau OSPEK). Gerbang besar menuju sebuah fase baru akan dimasuki: perkuliahan. Seakan baru kemarin malam, saya dan teman seperjuangan saya dari Kalibaru, Ainul, menggunting kertas, melipat koran, dan menggariskan spidol untuk persiapan MOS besok. Malam itu adalah awal dari sebuah perjalanan 3 tahun yang luar biasa ...

Flashback beberapa hari sebelum malam itu. Hari itu saya dan ayah saya pergi ke Jember untuk sebuah kegiatan: PPDB SMAN 1 Jember. Saya sempat ditawari untuk belajar di SMAN 2 Genteng pun SMAN 1 Genteng. Tetapi saya memilih langkah yang berbeda, berjalan ke barat, SMAN 1 Jember. Di awal, saya tidak memiliki banyak alasan mengapa saya harus memilih SMAN 1 Jember. Yang saya bayangkan adalah, kalau saya bersekolah di daerah Banyuwangi, saya masih akan deket dengan orang tua, kapan saya mulai belajar sendiri dan mandiri?

Alhamdulillah saya tidak sendiri, ada teman seperjuangan saya yang juga diterima di SMAN 1 Jember, Ainul Rahmawati (dulu kami punya 'genk' SMP namanya -unofficial sih- HAHA: Hindun, Ainul, Husada, Ari).


Dia karib saya di SMP dan jadinya di SMA juga. Bahkan, kami tinggal di rumah kos yang sama. Ya, saya dan Ainul tinggal di rumah kos seorang nenek bersama anak dan keluarganya. Mereka adalah keluarga kedua saya. Kamar kos itu adalah rumah kedua saya.

Man plans, God decides. Seminggu lebih sebelum pra-MOS dimulai, saya mengalami kecelakaan. Setir sepeda motor saya terseret besi truck pick-up. Walhasil, saya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Konklusi dari kejadiann ini adalah saya tidak dapat mengikuti kegiatan pra-MOS.

Saya ingin ikut MOS. Sedikit weird memang, tapi itu nyata. Pada akhirnya saya diperbolehkan mengikuti MOS dengan beberapa tanda asterisk. Soal atribut dll? Alhamdulillah ada senior. Mereka, kakak pembimbing kelas, mau repot-repot membawakan atribut ke kosan saya setelah saya sampai di Jember. And let the show begin (or began?) ...

Malam itu, saya dan Ainul sibuk sekali mempersiapkan segala perlengkapan MOS hingga larut malam. Besok pagi kami mengikuti kegiatan MOS.


First day. Mereka orang pertama yang saya kenal: Bastomy, Evi, Bram, Nabila, dan Ira. Saya duduk di pojok belakang. Hari pertama itu, ada seru, horor, exciting, seneng, dll. Yang bikin konyol adalah kejadian kejedot tembok yang memaksa saya menghentikan MOS, tidak ikut hari ke-2, ke-3, dan the special one: malam inagurasi.

Saya masuk di kelas Sepuluh Lima. Pertama disebut Sempak, sepuluh lima kompak, kemudian bertransformasi menjadi SemangkA, SEpuluh liMA semaNGat Karena Allah. Ada yang dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso, bahkan ada yang PP Jember - Tanggul (tajem) every day. Dia seorang wanita perkasa, Dinda Megawati.


Wali kelas kami Bu Lifi, untuk Lilik Fisika (FYI ada banyak nama Lilik, jadi untuk membedakannya ada nama pannggilan khusus). Ketua kelas periode awal adalah Bram, periode kedua Shofly. Saya senang bisa mengenal mereka di awal tahun SMA saya. Mereka open, ya walau terkadang usil.


 

Hari Jumat pertama, i did a mistake. Pada hari Jum'at, seragam SMASA adalah seragam kotak-kotak yang begitu legendaris. Dan konyolnya, saya tidak tahu cara pemakaiannya. Sepanjang yang saya ketahui, normalnya, baju seragam itu dimasukkan ke celana. Dan hal itu berlangsung hingga saya sampai di depan Lab Fisika (hampir X7).

Memori X5, ada banyak. Dimulai dari kekonyolan sehari-hari; Ira dengan botol jualannya, Nuril dengan fabercast*l-nya, Bayu dengan medhoknya, Ane si cewek suara macho, Bram dengan polusinya, ujian yang horor, dll. Atau soal guru, Bu Kartini dengan obeng-nya, Bu Rini dengan katakanlah-nya, Pak Muhtarom dengan budiman, juga sebuah kisah sadih saat Almarhum suami Bu Susi meninggal dunia. Hal-hal besar dan luar biasa?








Beberapa hari sebelum Hari Guru, kami sepakat untuk membuat sebuah kejutan untuk wali kelas kami. Kejutan itu berskenario seperti ini: nanti saat Bu Lifi masuk, kita spontan menyanyikan lagu remake buatan kita dengan lirik di layar. And we did it! Bu Lifi menangis haru. Puas rasanya membuat guru menangis. Another extraordinary thing?


Guru PKn kami, Bu Tutik, menugaskan pembuatan project film kelas. It's for the second time, and for the last time maybe, kita semua (anak sekelas) bersatu dalam sebuah proyek bersama. Dinda sebagai sutradara, saya sebagai penulis naskah (dengan ide gila semua teman kelas), Ghani, Ayis, Qoyum, dan Shofly sebagai pemeran utama, and you must remember when Bram played as Brown. Ide film kami adalah apakah nasionalisme perlu dibeli? Dimulai dari potret kenyataan remaja Indonesia saat ini yang apatis terhadap kemajuan bangsa. Dilanjutkan dengan tantangan Besa (Ghani) yang menjamin bahwa suatu saat nanti mereka yang apatis itu akan bangga terhadap Indonesia. Dan itu benar terjadi, mereka telah sukses di bidangnya masing-masing dan tiba-tiba rasa itu muncul dengan sendirinya, 'Aku bagian dari Indonesia, dan aku bangga'.




Sebenarnya masih banyak, mulai dari first bukber di rumah fiona, fashion show Ayis dan Fifah, hingga proyek fisika. But ga perlu saya sebutin semua semoga kenangan diatas jadi stimulus pengingat kenangan yang lain. Ada satu pelajaran yang saya ingat di tahun pertama ini, bahwa setiap manusia punya sifat dan karakternya masing-masing. Tugas kita sebagai teman hanya menasihatinya bila ada yang salah dan keliru, selebihnya just respect them!

Oh ya, soal sahabat, di X5 ini saya menemukan dua sahabat, Bastomy, teman pertama yang saya kenal dekat di SMA, yang nebengin saya, yang minjamin baju pramuka, dan hal-hal memorable lainnya.


Dan kedua Zulvie, she is my best best best friend. She understands me, hears me, supports me, helps me, reminds me, ah enough, wish you all the best buddies :')

. . . menuju bagian 2 . . .

0 komentar: