player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio) . . . dan perjalanan berlanjut . . . Pada hari pertama MOS, saya mengenal beberapa...

Semua Tak Lagi Sama #2

player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio)

. . . dan perjalanan berlanjut . . .

Pada hari pertama MOS, saya mengenal beberapa ekskul. Dan kemudian, saya memutuskan untuk mengikuti KIR dan Code Master, alasannya cukup simpel: karena saya suka dan karena ada temannya. Namun sayangnya, hanya KIR yang masuk sampai ke hati, yang kemudian berlanjut hingga saya menjadi bagian dari mereka. Tentang KIR, jujur, di SMP saya tidak terdapat ekskul semacam itu, hanya ada ekskul MIPA yang mengakomodasi siswa-siswi yang tertarik mengikuti perlombaan Matematika atau IPA untuk kemudian dibina dengan intensif.


Pertemuan pertama kali kami adalah saat welcome party; harus bersepatu, berkemeja atau pakaian berkerah, and it's so formal. Event pertama yang kami laksanakan adalah Buka Bersama dengan ketupat Bram (you know he's really active!). Sukses! kami mendapat cinderamata angkatan, seekor kura-kura mungil dan unyu. And, it's the beginning.

Muncul banyak isu tentang KIR, mulai dari diklatnya yang nyeremin, senior yang konon kanibal, sulitnya keluar kalau sudah masuk, dicuci otaknya (eh yang ini nggak, hehe), dll. Terlebih lagi teman kami di X5, Ilham, sangat getol menyebarkan gosip itu. Di tengah perjalanan, dengan banyak pertimbangan (mungkin), Bastomy, yang mengajak saya ikut KIR mengundurkan diri. Saya sempat goyah apalagi semenjak esai persyaratan diklat junior saya ditolak karena bertema SARA. Ada keinginan untuk ikut berhenti di tengah jalan (atau bahkan saat belum jalan?). Tapi kemudian saya kembali meneguhkan bahwa insyaaAllah disinilah saya akan memperoleh sesuatu hal yang berbeda. Dan saya menyadarinya beberapa bulan kemudian.



Diklat junior ternyata benar-benar menegangkan (baca: seru), begitulah yang ada di fikiran kami sebagai junior setelah mengikutinya. What ada dikjunsul? Tampaknya tidak semua isu itu salah, beberapa juga benar, ini buktinya, ada sul-sul-sul. Belakangan saya menyadari bahwa ada goal dalam diklat yang jika itu belum dicapai diperlukan diklat susulan. Dan kemudian juga saya sadari (terpaksa? tidak) bahwa diklat dibutuhkan untuk mempersiapkan kejiwaan kita sebelum bergabung dalam sebuah organisasi berikut menghadapi tantangan-tantangan yang menyertainya. Dan dalam KIR, yang benar-benar kami butuhkan adalah sikap kekeluargaan, percaya diri, dan kritis.



KIR, khususnya KIR 26, menjadi sebuah keluarga baru bagi saya, kami menyebut satu sama lain dengan sebutan sau -untuk saudara-. Mereka yang menjadi tempat berkumpul ketika sendiri, berbagi kala suka dan duka, pun tempat pelampiasan BM saya. Ada banyak memori yang saya ingat, mulai dari mengikuti pertemuan yang telah dirancanng senior kami, ketakutan bersama, PIR, hingga perjalanan menjadi senior, sebuah tahap lain dalam suatu organisasi.




Menjadi senior bukan hanya soal naik kedudukan tetapi lebih dari itu. Pada akhirnya saya mengerti bahwa ada tugas besar saat menjadi senior: memastikan sebuah organisasi tetap berjalan dan bahkan berkembang, juga memastikan bahwa junior kita menemukan kenyamanan bersama oraganisasi yang kita jalankan. Disitu kekeluargaan kami diuji, ketika setiap anggota sudah memiliki kesibukannya masing-masing, ketika setiap anggota harus berusaha mengorbankan egonya masing-masing.




Ada banyak hal yang tidak akan saya lupakan di KIR ini. Mulai dari mempersiapkan pertemuan rutin di bawah beringin dengan berapi-api (makna sebenarnya), meninggal Shella di rumah Ghania karena terlalu malam saat mempersiapkan pertemuan, baper-baperan sama Fifi (eh ada yang tahu dimana fifi melanjutkan study?). Satu kejadian yang sangat membekas adalah saat PIR. PIR adalah kegiatan perkemahan. Biasanya PIR KIR SMASA dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jenggawah. Ada banyak hal yang harus kami persiapkan. Salah satunya waktu itu adalah banyak botol aqua yang tutupnya akan dilubangi untuk properti games. Siang itu, H-sekian sebelum acara, semua harus sudah dibawa, kami kebingungan bagaimana membawa botol yang begitu banyak ini? Dibawa dengan motor? Terlalu banyak botol sedang armada yang tersedia sangat terbatas. Ketua panitianya, Ghania, mulai heboh. Hingga akhirnya muncul ide yang sangat menyentuh, "tutup botolnya saja yang kita bawa, botolnya besok dibawa bersamaan dengan truk". Ah, momen itu. Kau masih ingat bukan?




Masih banyak kenangan bersama mereka yang terlalu panjang untuk dituliskan, mulai dari pembuatan documentary Dies Natalis yang konyol, penyusunan mars KIR (wannabe), diklat senior, lepas jabatan, dll.


Salah satu pelajaran yang saya ingat dari mereka adalah kita bisa saja membangun sebuah ide tanpa bantuan orang lain, tetapi tidak saat kita ingin merealisasikannya.



. . . menuju bagian 3 . . .

0 komentar: