بسم الله الرحمن الرحيم لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِا...

Sebuah Sudut Pandang Lain : Pergantian Qiblat

بسم الله الرحمن الرحيم
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا  وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ


Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
- QS. al Baqarah : 177

Pergantian qiblat merupakan salah satu momen besar dalam sejarah Islam. Perpindahan qiblat dari Haram Syarif al Maqdis ke Ka'bah al Musyarifah menjadi semacam skisma ajaran Islam yang dibawa Rasulullah dari ajaran Ahli Kitab yang dipegang pengikutnya kala itu. Perpindahan qiblat dimaknai sebagai sebuah ujian keimanan Allah kepada kaum muslimin saat itu, terutama mualaf ahlu kitab yang notabenenya Jerusalem dan Haram Syarif merupakan qiblat mereka dan nabi-nabi Bani Israel.


Pada saat yang sama, perpindahan qiblat juga dimaknai sebagai jawaban Allah atas kegelisahan Rasulullah mengenai arah hadap shalat ketika di Madinah. Namun, disamping itu semua ada sebuah fakta unik mengenai perpindahan arah qiblat ini ditinjau dari segi sejarah, di antaranya yang dipaparkan oleh Rabbi Ben Abrahamson dalam menjawab pertanyaan seorang pengguna facebook di akun pribadi beliau mengenai bagaimana pendapat beliau tentang pemindahan arah qiblat.

Saat melakukan shalatnya, dalam terminologi Yahudi disebut tefilah, umat Yahudi menghadap qiblatnya yakni Baitul Maqdis. Hal ini salah satunya diajarkan oleh Nabi Daniel yang tertulis dalam ayat:

"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." - Daniel 6:11

Hal ini terus dilestarikan oleh umat Yahudi sejak didirikannya Bait Allah pertama di Haram Syarif hingga saat ini. Akan tetapi ada masa-masa tertentu dimana kemudian kondisi Baitul Maqdis menjadi penyebab kegelisahan umat Yahudi akan statusnya sebagai qiblat shalat mereka, diantaranya pada tahun 623 M.


Tahun 623 Masehi diperkirakan merupakan tahun dimana peristiwa pemindahan qiblat terjadi dan pada tahun ini pula Haram Syarif dikotori. Oleh Byzantine Emperor, kompleks Haram Syarif dijadikan sebagai kakus umum sebagai sebuah penghinaan kepada umat Yahudi. Semua limbah dari sekitar Yerusalem dialirkan ke Haram Syarif.

Kemudian, bangsa Romawi memeluk agama al-Masih, a.s., dan mulailah mereka mengagungkan al-Masih itu. Para penguasa Romawi maju-mundur untuk memeluk agama al-Masih, sampai datang masa Konstantin yang ibunya, Helena, memeluk agama Masehi. Helena pergi ke Yerusalem untuk menemukan kayu yang digunakan bagi penyaliban al-Masih, menurut pendapat mereka (orang Nasrani). Para pendeta memberi tahu kepadanya bahwa salib itu telah dibuang ke dalam tanah dan penuh sampah dan kotoran. Helena menemukan kayu salib itu dan di tempat kotoran itu ia dirikan Gereja Kotoran (Kanisat al-Qumamah, konon nama ejekan untuk Kanisat al-Qiyamah, "Gereja Kiamat"). Gereja itu oleh kaum Masehi dianggap berdiri di atas kubur al-Masih. Helena menghancurkan sisa-sisa sebagian dari Masjid Aqsha yang masih berdiri. Kemudian ia memerintahkan agar kotoran dan sampah dilemparkan ke atas Karang Suci sampai seluruhnya tertutup oleh sampah dan kotoran itu, dan letak Karang Suci menjadi tersembunyi. Helena menganggap inilah balasan yang setimpal kepada kaum Yahudi atas perbuatan mereka terhadap kubur al-Masih. (Madjid, 2001) - http://www.geocities.ws/fauzy70/para/p021.html

Pada tahun-tahun selanjutnya, Haram Syarif telah dipenuhi oleh sampah, yang konon sebagai 'balasannya' Gereja Holy Sepulchre atau "kanisat al-qiyamah", diplesetkan namanya menjadi "kanisat al-qumamah". (Mujir al-Din.)

Bagi Yahudi Rabbinik, hal ini merupakan sebuah penghinaan. Sementara itu, bagi kaum Saduki Arabia, hal ini merupakan sebuah krisis. Yahudi Arabia sangat peduli dengan konsep taharah. Mereka tidak akan bersembahyang menghadap arah sebuah kamar mandi atau kakus dan juga tidak menuju kamar mandi sembari menghadap tanah suci Yerusalem ataupun Makkah. Pada akhirnya, Yahudi Rabbinik tetap menghadap Baitul Maqdis. Hal ini kemungkinan salah satu hal selain alasan-alasan lain yang membuat Rasululah menurut riwayat yang masyhur berkali-kali menengadahkan wajah ke langit, mengharap agar Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu perihal kiblat. Akhirnya, keresahan Rasulullah dijawab oleh Allah melalui ayat perpindahan qiblat. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pembeda antara kedua umat ini. 


"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." - Al Baqarah : 177


Ketika akhirnya Haram Syarif telah dibersihkan dari sampah pada saat pembukaan Yerusalem oleh Khalifah Umar, timbul kembali pertanyaan di pihak Yahudi yang dulu berselisih mengenai qiblat ini, bahkan tampaknya inilah yang menginspirasi percakapan Khalifah Umar dan Kaab al Ahbar dalam menentukan pembangunan Masjid  Al Aqsa di haram syarif, di depan atau belakang sakhrah.

'Umar ibn al-Khaththab masuk Bait al-Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (Qiyamah) lalu berhenti di plazanya. Waktu sembahyang pun datang, maka ia katakan kepada Patriak: "Aku hendak sembahyang." Jawab Patriak: "Sembahyanglah di tempat Anda." 'Umar menolak, kemudian sembahyang pada anak tangga yang ada pada gerbang gereja, sendirian. Setelah selesai dengan shalatnya itu ia berkata kepada Patriak: "Kalau seandainya aku sembahyang di dalam gereja, maka tentu kaum Muslim kelak sesudahku akan mengambilnya dan berkata, 'Di sini dahulu 'Umar sembahyang.'" Dan 'Umar menulis (perjanjian) untuk mereka bahwa pada tangga itu tidak boleh ada jama'ah untuk sembahyang dan tidak pula akan dikumandangkan adzan padanya. Kemudian 'Umar berkata kepada Patriak: "Sekarang tunjukkan aku tempat yang di situ aku dapat mendirikan sebuah masjid." Patriak berkata: "Di atas Karang Suci (Shakhrah) yang di situ dahulu Allah pernah berbicara kepada Nabi Ya'qub." 'Umar mendapati di atas karang itu banyak darah (di samping sampah dan kotoran), maka ia pun mulailah membersihkannya dan mengambil darah itu dengan tangannya sendiri dan mengangkatnya dengan bajunya sendiri. Semua kaum Muslim mengikuti jejaknya, dan sampah itu bersih ketika itu juga, kemudian ia perintahkan untuk didirikan masjid di situ. (Madjid, 2001) - http://www.geocities.ws/fauzy70/para/p021.html

Akan tetapi sudah jelas bagi umat islam, bahwa ke Makkah-lah Allah memerintahkan seorang muslim untuk menghadap saat shalat.

"Dan bagi tiap-tiapnya itu satu tujuan yang dia hadapi. Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan. Di mana saja kamu berada niscaya akan di­kumpulkan Allah kamu sekalian.Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa." - Al Baqarah : 148

Info Tambahan : Secara geografis, qiblat di Makkah memiliki 'kelebihan' daripada di Yerusalem. Posisi qiblat di Makkah, dengan derajat bujur dan lintang spesifik, memungkinkan terjadinya peristiwa rashadul qiblah, peristiwa lewatnya matahari tepat di atas kabah, yang memungkinkan seseorang di penjuru dunia mengecek arah qiblatnya masing-masing. Sementara itu kejadian ini tidak mungkin terjadi dengan posisi derajat lintang dan bujur Haram Syarif Yerusalem. (check it more here)

Referensi : https://www.facebook.com/ben613/posts/1079856208711405

0 komentar: