Angin dari kipas angin sesekali menggerakkan kain-kain ringan disekitar mushalla. Dan kali ini, ia menggerakkan hijabnya, sebuah bandul s...

Hijab Si Maria

Angin dari kipas angin sesekali menggerakkan kain-kain ringan disekitar mushalla. Dan kali ini, ia menggerakkan hijabnya, sebuah bandul salib menyembul,
        salib othodox! 
dan cadarnya juga sedikit tersingkap
        Maria! ya dia teman lamaku, Maria! aku sangat merindukannya.
kutipan cerpen "Teman Lama, Maria"

###


Beberapa hari yang lalu, sebagian umat Islam di Indonesia dihebohkan dengan posting-an seorang netizen yang mengungkapkan 'kemarahan'nya atas seorang ibu yang memakai hijab –kata hijab digunakan sebab memiliki makna yang lebih umum dari jilbab- syar'i dengan kalung salib di dadanya.


Postigan ini sempat menjadi viral hingga dibahas oleh beberapa media massa online (disini, disini, dl). Pertanyaannya, apakah 'salah' bagi ibu tersebut menggunakan hijab yang di saat bersamaan ia juga memakai kalung salib? Jawabanya, seharusnya tidak.

Pernyataan 'kemarahan' yang disampaikan oleh netizen tersebut dapat dimaknai sebagai ungkapan kecemburuan terhadap atribut agama'nya' yang 'dipakai' oleh umat agama lain. Ke'marah'an tersebut juga dapat dihargai sebagai sebuah ungkapan kekhidmatan terhadap aturan memakai hijab dalam agamanya, Islam. Sayangnya, pengkhidmatan tersebut tidak disertai dengan informasi dan tabayyun yang memadai, sehingga justru jatuh kepada tindakan sinis dan perasangka buruk.


Syar’u Man Qablana 


Ketika Netizen tersebut mendapatkan informasi dan tabayyun yang tepat, bukan tidak mungkin respon yang terjadi adalah justru mengajak selfie ibu tersebut lalu mem-posting-nya dengan caption "Ini bukti bahwa Islam adalah syariat yang berkelanjutan: yang pondasinya dibangun oleh para nabi terdahulu dan puncaknya disempurnakan oleh Nabi Muhammad."


Mengapa begitu? Jawabannya adalah karena hijab bukanlah suatu hal yang copyright-nya dimonopoli oleh umat islam saja. Hijab merupakan bagian dari syariat yang dibawa oleh nabi terdahulu yang kemudian juga dilestarikan dalam syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, hal ini disebut dengan syar'u man qablana.

Syar’u man qablana adalah syariat atau ajaran nabi-nabi sebelum Islam, seperti syariat nabi Ibrahim, nabi Musa, dan nabi Isa. Para ulama sepakat bahwa syariat sebelum Islam yang dicantumkan dalam al-Quran adalah berlaku bagi umat jika ada ketegasan bahwa syariat itu berlaku bagi umat Nabi Muhammad.

Seperti yang disampaikan diatas, salah satu contoh dari syar'u man qablana adalah hijab. Syariat mengenai hijab telah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu. Bahkan syariat mengenai hijab masih dilestarikan oleh beberapa madzhab dari agama-agama ahlu Kitab. Apa dan bagaimana itu? Mari kita bahas satu persatu.


Agama Yahudi


Dalam kitab Taurat, terdapat beberapa redaksi yang menggambarkan penggunaan hijab oleh umat terdahulu, diantaranya:

Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. – Beresyit (Kejadian) 24 : 65 
Ia harus melepaskan kerudung rambut perempuan itu dan meletakkan kurban sajian kecurigaan di telapak tangannya untuk memutuskan apakah kecurigaan suaminya itu benar atau tidak. Imam harus berdiri di hadapannya sambil memegang bejana air pahit yang mendatangkan kutuk. – Bemidbar (Bilangan) 5 : 18

Pada penjelasan dan pemaparan syariat agama Yahudi, ajaran menutup aurat dengan hijab -atau sesuatu yang paralel dengannya- dapat ditemukan sebagai bagian dari aturan kesopanan yang disebut sebagai Tzniut (צניעות).

Tzniut adalah satu set aturan yang meliputi aturan kesponan dalam konteks berpakaian maupun bertingkah laku. Dalam Talmud Babilonia, Rabbi Elazar Bar Tzadok menafsirkan bagian ayat "berjalan dengan rendah hati (hatzne'a leches) di hadapan Tuhanmu" dari Mikha 6:8 sebagai redaksi yang mengacu pada aturan kesopanan dalam berpakaian dan berperilaku (Traktat Sukkah 49b). Lebih spesifik lagi, dalam madzhab ortodoks, konsep Tzniut meliputi aspek-aspek seperti seberapa banyak bagian kulit yang boleh ditampakkan dan sebagainya, senada dengan aturan aurat -yang memiliki kesesuaian terma dari segi bahasa, ervah- dalam syariat Islam.


Prinsip utama tzinut adalah menggunakan pakaian yang tidak mengundang perhatian dan tidak menunjukkan aurat. Madzhab ortodoks mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup auratnya, yang menurut kebanyakan pendapat, aurat ialah termasuk menutupi siku dan lutut.

Secara lebih khusus, aturan keagamaan Yahudi mensyariatkan penggunaan tudung kepala baik untuk lelaki dan wanita. Tudung kepala bagi wanita sering kali berupa sheitel (wig), snood, dan mitpachat atau tichel. Meskipun demikian, penggunaan wig sebagai pengganti tudung bagi wanita masih menjadi perdebatan para rabbi berbagai madzhab.


Sementara itu, bagi lelaki Yahudi yang sudah atau belum, ianya harus menutup kepalanya diantaranya dengan kippah atau yarmulke. Meskipun dalam prakteknya hanya lelaki Yahudi bermadzhab ortodoks yang menggunakannya setiap saat, sementara kebanyakan lelaki Yahudi bermadzhab non-orthodox menggunakannya pada acara keagamaan saja.


Lebih jauh, terdapat banyak persamaan dalam pembahasan bab aurat dalam agama Yahudi dan Islam, seperti perdebatan apakah suara wanita merupakan auratnya (kol isha), larangan menyentuh lawan jenis yang tidak memiliki hubungan keluarga atau pernikahan (negiah), pemisahan laki-laki dan peremmpuan dalam beribadah (mechitza), larangan ber-‘khalwat’ bagi lawan jenis yang bukan ‘mahram’ (yichud), dan bahkan mengenai penggunaan niqab (frumka) pada komunitas Yahudi tertentu.



Agama Nasrani


Pada dasarnya hukum-hukum dasar agama Nasrani juga diambil dari tradisi Taurat, termasuk mengenai hijab. Akan tetapi, tafsir yang digunakan untuk menjelaskan ayat-ayat taurat berbeda dengan yang digunakan oleh umat agama Yahudi.


Mengenai bab hijab, tudung kepala dalam agama Nasrani dipraktekkan dalam banyak versi dan tafsir sesuai dengan denominasi gereja / madzhab yang diikuti oleh seorang Nasrani. Beberapa madzhab menyarankan penggunaan tudung kepala di setiap waktu sementara madzhab lain membebaskan penggunaan tudung kepala. Akan tetapi secara umum ada satu bagian dari Injil yang menjelaskan tentang tudung kepala dan menjadi dasar penggunaan tudung kepala dalam agama Nasrani, yakni:

Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu. Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. – 1 Korintus 11 : 2-10

Tudung kepala banyak dipraktikkan oleh berbagai kebanyakan madzhab agama Nasrani hingga abad ke 20. Sekarang praktik penggunaan tudung kepala tidak terlalu banyak ditemukan kecuali pada kalangan umat tertentu, seperti pada umat yang tinggal di Timur Tengah dan para biarawati, ataupun pada madzhab tertentu seperti madzhab ortodoks


Pada madzhab ortodoks, penggunaan tudung kepala baik bagi lelaki maupun perempuan mendapatkan perhatian lebih khusus. Beberapa gereja bahkan mewajibkan umat wanita memakai tudung kepala saat memasuki gereja dan membuat pemisah antara jemaat lelaki dan wanita.


Sementara itu, mengenai kutipan “Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya” pada ayat diatas, madzhab ortodoks memaknainya sebagai larangan menggunakan tudung kepala bagi umat, bukan kepada kaum Klergi (Hierarki Gereja).

Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku. – Syemot (Keluaran) 28 : 4

Sebab itu para petinggi gereja menggunakan penutup kepala yang khas.


Agama Lain


Selain agama ahlu kitab tersebut, aturan mengenai tudung kepala juga dapat ditemukan di berbagai ajaran agama dan aliran kepercayaan lain di dunia ini. Meskipun tentunya, masing-masing agama memiliki spesifikasi dan aturan mendetailnya tersendiri.


Ada satu web unik yang menyediakan kuis menebak agama seseorang dari tudung kepalanya, tertarik mengikutinya? Cek disini.


Muhasabah


Penjelasan ini semoga memberikan sebuah khazanah baru bagi kita, umat Islam, bahwa tudung kepala / hijab bukanlah sesuatu yang hak miliknya dimonopoli oleh umat Islam saja, tetapi juga dimiliki oleh umat agama lain, terutama ahlu kitab, namun dengan spesifikasi yang berbeda tentunya. Semoga pemaparan ini bisa menjadi bahan tabayyun, sehingga kita bisa lebih bijak dalam berpendapat.

Mengenai peristiwa diatas, boleh justru hal ini menjadi sebuah sindiran kepada para akhwat yang masih enggan memakai identitas agama Islam dengan bangga; pun juga bagi para akhwat yang masih enggan meng-upgrade diri dengan memakai hijab yang lebih sesuai dengan tuntunan al Qur’an dan Hadits. (psst, buat ikhwannya juga ya, lutut dan tali pusar tuh, aurat mas! ☺ ) (mengenai hijab muslimah silakan simak disini)

Jangan sampai, kita termasuk golongan yang berpakaian tapi telanjang, naudzubiLlah, seperti yang disebut oleh Rasulullah dalam salah satu hadits:

Dari Abu Hurayrah RA, Rasulullah bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok menimbulkan fitnah (godaan). Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk ke dalam surga. Dan mereka tidak mencium baunya. Dan sungguh bau surga itu bisa tercium dari jarak demikian dan demikian”. – HR. Muslim

Wallahu a’lam

suasana pun hening, tiba-tiba ada teriakan:“Hei kamu! jangan sok lugu, itu salah satu agenda kristenisasi!”

Hmm, isu ini memang sangat sensitif, tetapi begini, ini pendapat pribadi saya. Pertama, mari kita menghindari sikap berperasangka buruk, bisa jadi hal tersebut adalah usaha mereka untuk kembali mempraktikkan isi kitab mereka dengan lebih baik; dan jika hal itu benar, mengapa kita harus ikut campur? Bukankah telah jelas: lakum diinukum wa liya diin? Kedua, jika masih ngeyel ingin bersuuzhon, ayo lanjutkan ‘suuzhon’-mu ke evel yang lebih tinggi: aksi! Jadikan hal tersebut sebagai ghirah untuk mendakwahkan ajaran Islam secara lebih baik, kreatif, dan inovatif, sehingga benteng umat Islam tidak ‘kalah’ dengan senjata mereka. ☺

0 komentar: