Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik...

Jejak Ahlu Kitab di Baitullah Kabah

Bismillahi. Tidak sedikit kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendebatkan kesamawian dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian mengklaim bahwa Kabah tidak samawi dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tradisi Abrahamik. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama, Al Qur'an menjelaskan bahwa Kabah adalah bait Allah pertama di muka bumi yang dibangun untuk manusia (QS. Ali Imran: 96 [i]), yang bahkan para nabi Bani Israil diceritakan (derajat keshahihan periwayatannya belum saya dapatkan) pernah menempuh perjalanan untuk mengunjunginya [1].


Untuk menjawab argumen kalangan Ahlu Kitab tersebut, diantaranya terdapat beberapa usulan missing link yang disampaikan oleh para ulama Islam untuk menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik yang tidak diketahui atau mungkin ditutup-tutupi oleh kalangan tertentu. Diantaranya yang kerap kali disebutkan adalah kisah perjalanan keluarga Ibrahim ke selatan Mesir (Tanah Negev) [2], kemunculan kata Bakkah dalam Mazmur [3], kisah Fathu Makkah [4], tanah Paran [5], ayat-ayat nubuat dalam Alkitab (misal dalam Yesaya [6]), kisah penemuan tulisan berbahasa Suryani  [7], dsb.

Tidak hanya dari kalangan umat Islam sendiri, beberapa missing link tentang Kabah juga disampaikan oleh beberapa ulama Ahlu Kitab seperti oleh Ibn Ezra dalam penjelasan kisah Ismail dan Sumur Zam-Zam dalam tafsir Taurat [8] dan dalam kitab Asatir [9]. Akan tetapi ada sebuah usulan menarik yang disampaikan oleh seorang Rabbi Yahudi Ortodoks, Ben Abrahamson. Melalui fakta historis beliau menguak hubungan Kabah dan tradisi Abrahamik. Simak penjelasan beliau berikut ini [10]:

Tanya: Rabbi, Anda menyampaikan bahwa "Ka'bah dibangun oleh Onias IV pada tahun 150 SM berdasarkan desain Bait Allah yang dibangun Nabi Sulaiman, namun kemudian digunakan untuk menyembah berhala." Dapatkah Anda mengarahkan saya kepada tulisan Anda tentang hal ini? 
Jawab: Saya sedang menulis sebuah manuskrip berjudul "Bani Quraisy sebagai Keturunan Onias IV." Saya mengusulkan keantikan dan hubungan Kabah dengan tradisi Abrahamik. 
Bukti utama yang saya bawa adalah klaim Josephus bahwa Onias IV membangun Bait di Heliopolis berdasarkan Yesaya 19:19. Ayat ini menyebutkan dua bangunan, satu di Mesir dan satu di perbatasan Mesir. Selama masa Ptolemy VI Philometor, perbatasan Mesir adalah Arabia. Hal ini didukung oleh kemiripan dari segi arsitektur antara Kabah dan bait Onias seperti yang diteliti oleh W.M. Flinders Petrie pada 1906. 
Saya mengusulkan bahwa Quraisy adalah keturunan Imam Tinggi Onias IV. Hal ini didukung oleh pelacakan alternatif pada silsilah Rasulullah, bahwa Adnan adalah Anan (=Hanan, =Onias). Hal ini juga didukung dengan bukti DNA bahwa sejumlah besar dari orang-orang suku Quraisy secara paternal memiliki hubungan dengan Imamat Yahudi. 
Lokasi yang dipilih oleh Onias IV adalah tempat-tempat yang telah diketahui nilai penting keagamaannya. Papirus Elephantine berbicara tentang keantikan luar biasa altar Mesir, dan implikasinya, Onias boleh jadi memilih untuk membangun kembali di Arabia di lokasi yang sebelumnya telah memiliki jejak tradisi Abrahamik. 
At Tabari menyampaikan bahwa pada di masa sebelum Islam, korban juga dilakukan atas nama Allah. Darah hewan yang telah disembelih dituangkan di dinding-dinding Kabah dan dagingnya di gantungkan pada pilar-pilar di ssekitar kabah, dalam keyakinan bahwa Allah memerintahkan pengurbanan darah dan daging hewan. Bahkan Tabari secari spesifik bahwa Hasan Tubba' menghabiskan tahun-tahunnya di altar kurban (mitbachim) di Kabah. 
Setelah mendiskusikan bait Onias, pada Talmud Menuchot 109a ditemukan diskusi mengenai Bait yang lain di "Sungai Yordan" yang telah jatuh dalam paganisme. Hal ini berarti bahwa dalam kurun 150 SM hingga 270 SM, paganisme dipraktikkan di sekitar Kabah. 
Akan tetapi menurut sumber-sumber Islam, sebagian praktik monoteisme kembali dilakukan pada sekitar tahun 275 M, ketika Shamir Yuhar'esh II Tubba', menjadi raja Kerajaan Himyar. Pada sebuah ekspedisi menuju utara Arabia, dia melewati Yatsrib. 
Sebagai bagian dari sebuah sekongkol, dia diberitahu bahwa sebuah harta berharga dipendam di bawah Kabah sehingga ia ingin menghancurkannya (dan mengambil harta tersebut, red.). Yahudi dari Yatsrib mewanti-wantinya untuk tidak meneruskan rencananya sebab Kabah adalah tempat suci. 
Shamir Yuhar'esh II Tubba' bertanya mengenai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di Kabah. Mereka menjawab "Ketika Anda sampai di sana, lakukan seperti yang umat lakukan: bertawaf, memuliakan, dan menghormatinya, lalu cukur kepala Anda saat berada di sana, dan rendahkan diri Anda sampai Anda meninggalkan daerah sekitarnya." Dia bertanya, "Apa yang mencegah Anda [Yahudi] dari melakukan hal tersebut?" Mereka menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya ia adalah bait nenek moyang kita Abraham, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Akan tetapi orang-orang lokal telah membuat batas antara kami dan bait itu, berbagai berhala mereka pasang di sekitarnya dan darah-darah mereka curahkan di sana." Mengacu pada tradisi kesucian para Imam Lewi, mereka menjawab "Mereka adalah pagan yang najis," atau kata-kata senada hal itu. Tubba' mendengar saran dan mengakui kebenaran kata-kata mereka. Kemudian ia bermimpi bahwa ia harus menutupi bait tersebut, sehingga ia menutupinya dengan lembar anyaman daun palem (ini adalah kisah kiswah yang pertama menutupi Kabah, red.). 
Sebuah konfirmasi dari Talmud Megilah 10a tentang tahun ini (275 M). "Rabbi Isaac mengatakan: Saya pernah mendengar bahwa kurban dapat dipersembahkan di bait Onias pada masa kini. Hal ini karena sebuah pendapat bahwa bait Onias tidak lagi sebuah kuil penyembah berhala." Banyak tafsir yang mengasumsikan ini adalah bait Onias Mesir, akan tetapi frasa "pada masa kini" berarti saat Rabbi Isaac hidup (280-330 M). Pada masa tersbeut, bait di Mesir tidak lagi ada, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa pada awal tahun 280 M, beberapa umat yahudi masih beribadah dan mempersembahkan kurban di Kabah.

Kisah mengenai Tubba' dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam / Ibnu Ishaq ini adalah khazanah yang sudah banyak diketahui oleh Umat Islam [11]. Akan tetapi salah satu hal yang perlu dicermati pada penjelasan beliau adalah crosscheck pada sumber-sumber Yahudi yang semakin menguatkan bahwa kisah Tubba' dalam khazanah Islam ini bukan hanya klaim sepihak, tetapi juga dikuatkan dari sumber Ahlu Kitab.

Semoga artikel ini semakin menambah keyakinan kita atas keparipurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Wallahu a'lam bishshowab.

0 komentar: