Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu univer...

Darasan Kitab Suci dalam Tradisi Abrahamik

Pada bulan Ramadhan lalu, umat Islam Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan seorang qari' bersuara merdu dari salah satu universitas negeri ternama di Indonesia. Dia adalah Muzammil Hasballah, mahasiwa Fakultas Arsiktektur, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2011. Suara Muzammil bahkan digadang-gadang mirip dengan suara imam-imam haramain.


Kemerduan suaranya menjadi magnet tersendiri bagi umat Islam. Hingga beberapa masjid di luar kota Bandung sempat mendatangkannya untuk menjadi imam shalat tarawih di masjid mereka. Tak heran memang, mengaminkan hadits-hadits Rasulullah bahwa para ahli Quran adalah orang-orang yang mulia, umat Islam sangat menghargai para qari' yang dapat mendaraskan al Quran dengan indah dan menyentuh hati.

Adalah Daud alayhis salam, seorang nabi yang diturunkan padanya kitab Zabur yang berisi syair-syair pujian kepada Allah, memiliki suara yang terkenal indah. Hingga semesta menjadi khidmat menyimak saat beliau mendaraskan firman Allah dan bertasbih dengan suaranya yang indah (Ash Shad: 7-20).

Ada yang menarik pada narasi tentang suara merdu beliau, kita dapat mengira dan menafsirkan bahwa tradisi mendaraskan kitab suci telah ada sejak zaman para nabi terdahulu dan dilanjutkan oleh umat-umatnya.

Rasa penasaran akan hal ini menuntun saya untuk mencari lebih lanjut. Dan pada posting kali ini, saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik. Setidaknya semoga posting ini dapat menambah khazanah bagi kita semua agar tidak mudah berpersangka buruk terhadap 'penghuni lapak sebelah', atau untuk manfaat yang lebih besar, yakni membuka peluang dialog-dialog terbuka antar kita untuk dunia yang lebih baik :) , selamat menyimak.

Sedikit mengulas fenomena yang sempat saya singgung diatas, para qari', seperti Muzammil dan qari-qari yang lain, memiliki kekhasan dalam membaca Al Qur'an. Kekhasan ini ada karena penggunaan gaya baca yang berbeda-beda. Gaya baca ini diantaranya merupakan hasil paduan dari tempo dan maqam yang digunakan. Tempo yang dipakai oleh Muzammil misalnya, adalah tartil.

Tartil adalah salah satu tingkatan tempo membaca al Quran yang telah disepakati oleh para ahli tajwid. Tempo yang dimaksud dengan tartil adalah perlahan, tidak terburu-buru. Disamping tartil, ada juga tahqiq atau perlahan (saat pembelajaran), tadwir atau sedang, dan hadr atau cepat [1]. Meskipun ada perbedaan tempo, ketiga tempo baca ini tetap harus mengikuti satu set kaidah hukum bacaan yang disebut ilmu tajwid.

Tajwid adalah ilmu tentang hukum-hukum bacaan dalam Al Quran. Hal ini meliputi pelafalan dan sifat-sifat huruf atau makharijul huruf, panjang pendek bacaaan atau mad, penjedaan atau waqaf, hingga hukum-hukum bacaan khusus seperti idzhar, idgham, iqlab, ikhfa', dsb (baca lanjut disini). Tujuan adanya ilmu tajwid adalah agar makna masing-masing kalimah dan ayat terjaga saat membaca Al Quran. Hal ini misalnya, maliki dengan a pendek berarti raja, sedang maaliki dengan aa panjang berarti pemilik.

Akan tetapi, dalam pembacaan Al Quran dikenal beberapa dialek pembacaan atau yang dikenal dengan qiraat. Ada 7 Imam qiraat yang masyhur, dan masing-masing imam memilik 2 perawi. Sehingga ada 14 riwayat qiraat yang mutawattir. Qiraat-qiraat ini adalah cara pembacaan Al Quran yang memiliki rantai transmisi hingga Rasulullah. Perbedaan pada masing-masing qiraat tidaklah merubah makna utama Al Quran [2]. Contoh perbedaannya adalah maaliki dan maliki, kufuan da kufwan, dsb.



Pada beberapa hadits disebut akan sunnah untuk membaca al Quran dengan irama indah. Hingga kemudian dikenal langgam atau maqam yang umum dipakai dalam membaca al Quran.

Maqam adalah tangga nada pada kebudayaan Arab. Pada perkembangannya, beberapa maqam digunakan dalam pendarasan al Quran. Beberapa maqam tersebut diantaranya adalah bayati, shaba, nahawand, hijaz, rast, sika, dan jiharka. Setiap maqam memiliki kekhasannya masing-masing. Maqam bayati misalnya membawa suasana bahagia, sedang maqam shaba memunculkan suasana sedih, dst. Video dibawah adalah paduan maqamat dalam satu mawal:


Namun pada dasarnya seseorang dapat membaca al Quran tanpa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam tersebut, bahkan pada beberapa fatwa dapat dijumpai keterangan bahwa memaksakan diri menggunakan maqam-maqam khusus adalah sebaiknya dihindari [3]. Sebab itu tak jarang kemudian muncul langgam-langgam lokal yang merupakan hasil alami perpaduan keunikan seseorang dan budayanya yang termunculkan saat ia membaca Al Quran. Hal inilah yang tampaknya menjadi 'akar masalah' dari fenomena pembacaan Al Quran dengan langgam jawa pada pelakasanaan peringatan Isra' Mi'raj di Istana Negara beberapa waktu yang lalu: "apakah pembacaan dengan langgam tersebut dipaksakan atau muncul secara alami?" [4].

Seperti yang saya janjikan di atas, bahwa saya akan membagikan sedikit informasi tentang tradisi mendaraskan kitab suci di kalangan pengikut agama-agama Abrahamik, mari kita mulai pembahasannya. Setelah merujuk pada beberapa sumber, saya jumpai tradisi unik yang bahkan diantaranya mirip di antara kalangan penganut agama-agama Abrahamik.


Pada kitab suci agama Yahudi, baik itu Taurat, Neviim, atau Ketuvim (biasa disingkat dengan akronim TaNaKh) terdapat beberapa jenis tanda baca.


Pertama adalah tanda baca huruf, yakni untuk membedakan pelafalan huruf-huruf tertentu (BeGaD KePaT misalnya). Kedua adalah tanda baca vokal yang sejajar dengan harakat dalam bahasa arab (niqqud). Ketiga adalah tanda baca aksen. Keempat adalah tanda baca pendarasan yang disebut dengan te'amim atau teamey hamiqra. Pendarasan lengkap (dengan teamim, biasanya dilakukan saat prosesi keagamaan seperti bar mitzvah ataupun aliyah).


Teamim atau teamey ha miqra, yang secara literal bermakna 'rasa pembacaan', adalah satu set tanda baca -konon hampir 50 tanda baca- yang digunakan untuk mendaraskan kitab suci, termasuk diantaranya adalah tanda panjang pendek, aksen, penjeda, penanda hubungan antar kalimat, hingga notasi. Kalau boleh dimisalkan, tanda baca teamim adalah semisal dengan tanda baca dalam ilmu tajwid, meskipun tidak ada -atau saya yang belum menemukannya- pakem ilmu tajwid untuk bacaan seperti idzhar, iqlab, dsb pada tradisi pembacaan kitab suci Yahudi selain bahwa hal-hal tertentu menjadi fitur kebahasaannya. Contohnya adalah bacaan qamets katan, maqqef, ha (artikel mirip alif lam), dsb.

Spoiler QERA: qamets katan atau qamets chatuph adalah tanda baca yang bentuknya sama dengan qamets. Akan tetapi, tidak seperti qamets yang melambangkan bunyi vokal a, qamets katan mewakili bunyi vokal o. Hal ini terjadi pada satu kondisi khusus, yakni: pada kosa kata tertutup (diakhiri huruf mati) yang tidak memiliki aksen.

Bagaimana? Mirip dengan hukum bacaan tajwid 'kan? Nah untuk proses pembelajaran, sering digunakan tabel zarqa yang berisi seluruh tanda teamim yang diperlukan untuk kemudian dilafalkan dan dihafalkan.


Citarasa teamim pada beberapa wilayah memiliki kekhasan tersendiri, sehingga dikenal teamim yerusalem, syria, dsb. Hal ini sudah tentu berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat terutama berkaitan dengan budaya seni musik kawasan tertentu. Hal ini semakin diperkaya oleh adanya dialek-dialek pelafalan huruf Ibrani. Diantaranya ada Sefardi, Askhenazi, dan Temani (atau Yamani). Pada dialek Askhnezi misalnya, huruf tav akan dibaca 's', sedang pada dialek sefardi timur tengah dan mizrahi, huruf vav akan dibaca 'w'. Sementara itu, tanda baca qamats akan dibaca 'o' pada dialek Temani, tidak 'a' seperti pada dialek lain. Dialek ini juga dipakai dalam pembacan kitab suci. Akan tetapi pada umumnya, umat yahudi akan mengambil tradisi baca Sefardi yang konon lebih dekat dengan tradisi terdahulu.


Nah ada yang unik pada poin selanjutnya, yakni pada poin penggunaan langgam. Pada tradisi pembacaan kitab suci di agama Yahudi, terutama Yahudi timur tengah, terdapat tradisi penggunaan langgam yang langgamnya sama dengan langgam / maqam yang juga digunakandalam pembacaan ayat suci Al Quran. Pada tradisi agama Yahudi, kita juga akan mengenal penggunaan maqam rast, bayati, nahawand, dst dalam pendarasaan kitab suci. Akan tetapi, hal yang unik adalah bahwa pada beberapa sinagog atau komunitas tertentu dikenal pakem maqam khusus untuk parasha tertentu yyang berganti setiap shabbatnya (parasha adalah bagian bacaan taurat, mirip dengan hizb al Quran tetapi pembagiannya lebih didasarkan pada konteks cerita, terdapat jadwal bacaan parasha berbeda untuk setiap harinya)

Maqam untuk parasha tertentu disesuaikan dengan kandugan emosi maqam dan isi parasha. Maqam Rast misalnya, digunakan untuk menandai permulaan, seperti pada parasha-parasha pertama tiap-tiap kitab; Hijaz digunakan pada parasha dengan kisah tragis seperti pada parasha Chayei Sarah dan Vayechi; dan Sika digunakan pada bacaan khusus pada hari raya Purim. tetapi yang unik adalah, sementara pada budaya arab maqam Shaba identik dengan kesedihan, pada tradisi Yahudi, maqam Shaba digunakan pada parasha yang memerikan banyak mitzvot seperti Mishpatim, Qedoshim, dsb. [5] (kunjungi lanjut disini)

(audio pembacaan parasha Beresyit, unduh lenngkap disini)

Menarik, bukan? Kemenarikan tradisi ini tidak hanya berhenti sampai disini, bahkan pada beberapa ritual ibadah, kita akan menemukan hal itu sangat-sangat mirip dengan tradisi di kalangan umat Islam sepeti pada puji-pujian atau selichot ini:


Lalu, bagaimana dengan tradisi umat nasrani?

Pada kalangan umat nasrani timur tengah kita dapat menemukan tradisi tilawatil injil atau yang biasa disebut dengan mulahan (مُلَحَّن) injil. Mulahan injil di kawasan timur tengah ini pada umumnya didaraskan dalam bahasa arab atau suryani.



(audio pembacaan injil Yohanes pasal 1, unduh lenngkap disini)

Selain mengikuti kaidah-kaidah dalam bahasa Arab ataupun suryani, saya belum menemukan kaidah-kaidah khusus semacam hukum tajwid ataupun teamim pada tradisi Nasrani. Tradisi mendaraskan ayat-ayat kitab suci dengan notasi atau lagu tertentu jamak dalam tradisi nasrani denominasi apapun. Bahkan pada tradisi ortodoks, hampir semua liturgi dilagukan. Notasinya pada umumnya disesuaikan dengan konteks teks yang dibaca, pada bacaan tentang surga misalnya, suara akan dinyaringkan, sementara pada bacaan tentang neraka akan diturunkan. Pada masa ottoman nada-nadanya juga disesuaikan dengan nada timur tengah [6].


Jadi bagaimana? Apakah kemiripan ini hanya karena budaya? Atau karena memang kita masih pernah sebapa, bapa Abraham -atau Ibrahim dalam lisan Arab- sehingga masih ada benang merah diantara kita? Pertanyaan itu boleh memiliki jawaban yang berbeda pada kita masing-masing. Tapi yang jelas, dari posting ini saya berharap akan munculnya pemahaman baru diantara kita. Terutama ialah untuk menghindari frasa-frasa klise seperti "ibadah atau ritual contekan" atau "upaya pemurtadan terselubung" yang kerap kali dilontarkan beberapa kawan diantara kita. Semoga kedamaian selalu atas kami dan kamu sekalian! Salam!

0 komentar: