player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio) . . . dan perjalanan berlanjut . . . Tahun (pelajaran) baru, semester baru, seman...

Semua Tak Lagi Sama #4

player mp3 di bawah (untuk pause atau stop audio)

. . . dan perjalanan berlanjut . . .

Tahun (pelajaran) baru, semester baru, semangat baru. Bismillah! Kegiatan pada awal semester ini ditemani oleh bulan Ramadhan. Ada hal yang sangat berkesan di Ramadan tahun ini, yakni NgaOS, Ngaji On School. Semacam sekumpulan anak-anak caper (cari perhatian, red) yang ingin lebih caper lagi, caper kepada Penciptanya. Dan itulah mereka, ke-empat sahabat dakwah saya, yang tiga diantaranya adalah 'si tiga sehat' dan 'empat sempurna' bersama saya, dan satu lainnya, seorang akhwat sekelas saya yang luar biasa. Mereka Gania, Shella, Erlina, dan Arifatul. Tentang si trio 'tiga sehat', Ghania, Shella, dan Erlina, mereka adalah sahabat sevisi dan setujuan. Kami memiliki visi yang sama. Kami dikenalkan oleh KIR. Semoga persahabatan ini akan terus berlanjut, hingga tua nanti, hingga anak cucu kami kelak, dan hingga jannah! Aamiin.



They are so amazing! Banyak hal yang saya pelajari saat bersama mereka mengelola NgaOS ini, terutama adalah : saat ada niat, jangan pernah takut, Tuhan takkan membiarkanmu begitu saja, Ia kan tunjukkan jalan! Faidza 'azamta fatawakkal 'ala Allah! Istimewanya Ramadhan tahun ini bahkan membuat saya percaya bahwa NgOS adalah salah satu hikmah kenapa Tuhan tidak meloloskan saya di seleksi AFS beberapa waktu lalu.

Oops, i was too semangat sampai-sampai akhirnya saya jatuh sakit. Ya, di semester pertama kelas tiga ini saya dianugrahi kesemmpatan beristiirahat lebih bersama si mungil salmonella typhi. Saya direhatkan di rumah sakit selama dua minggu dan di rumah selama dua minggu juga, sehingga total waktu rehat saya adalah satu bulan penuh. Kebayang tuh tumpukan tugas dan susulan ulangan yang harus segera ditunaikan :') . Dan karena ke-rehat-an ini, saya mem-php banyak orang, mulai dari Zulvie, Shella, Afifah, Dwi, Ditto, dan yang paling tersakiti adalah Gozzy dan Oka, I apologize. Tetapi, ada hikmah yang coba saya raba: masih untung sakitnya di semeter pertama kan, ngggak di semester kedua? Ini sebuah peringatan bahwa sibuk boleh, tapi jangan sampai kau menzalimi dirimu sendiri, ok?

Ke-spesial-an semester ini tidak berhenti disini, ada lagi yang lain. Kau tahu, dulu sewaktu kelas satu, kami 'takut' [apa bahasa yang tepat ya] kepada seorang guru: Bu Rivone (aduh maaf bu, kalau ibu membaca artikel ini dan tidak berkenan). Di mata kelas satu kami, beliau serem-serem gimana gitu. Dan yang membuat saya inspired kemudian, beliau kemudian menjadi salah satu guru yang kami nanti kehadirannya (maaf untuk kealayan ini). She made our class full of fun, dilumasi dengan kekonyolan rizal dan agus,"Bu, Agus!". Haha, I’ll surelly miss that time (and I do -per 7/20/2016-). It was so heartwarming saat melihat beliau dengan sangat sabar menjelasakan pada kami kenjlimet-an si Kimia kimia takado takado. Beliau menguatkan saya bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia.

Bicara soal profesi, kelas tiga adalah waktu yang sudah tepat utuk membicarakan cita-cita. Membicarakan cita-cita berarti membicarakan apa yang akan kita lakukan selepas SMA; kerja, kuliah, atau menikah #eh? Bicara kuliah, pertanyaan pamungkas yang mebuat saya bingung di tahun ketiga ini adalah “Mau kuliah dimana?” inilah salah dua kegalauan saat memilih yang sempat saya ceritakan di ataaaaaaaaaaas.

Saya galau, semua jurusan pernah saya inginkan, dari teknik, tapi tidak tahu teknik apa yang harus di ambil, FMIPA, pendidikan guru, desain, hingga HI dan sejarah. Apa-apaan coba? Setelah ikut seminar fakultas X pasti bawaannya ingin masuk fakultas tersebut. Dan kegalauan itu terus berlanjut hingga beberapa hari sebelum finalisasi SNMPTN ditutup. Soal cita-cita menjadi seorang guru, idealisme itu sempat tak tergoyahkan. Sebab menurut saya, guru adalah profesi yang sangat mulia (dan nyatanya memang mulia). Namun ia kemudian tergoyahkan atas 'rayuan' (with apostrophe) guru BK saya yang menyarankan kedokteran dengan beberapa pertimbangan.

Segala macam pertimbangan kemudian dikerahkan; evaluasi diri, konsultasi ke orang tua, ke guru, dan tentunya ber-istikharah. Hingga akhirnya mengerucut menjadi dua pillihan, FMIPA Biologi atau FK. Beberapa saat sebelum finalisasi SNMPTN tetap digalaukan dengan kedua pilihan tersebut. Bismillah, akhirnya saya milih FK. Pertimbanga saya: "kamu tetep bisa jadi guru aka dosen, kamu tetep bisa mengabdi di negara dan masyarakat (bahkan mungkin lebih gereget), jangan takut soal lamanya pendidikan; darah dan nanah diawal akan dibayar mahal di kemudian hari insyaaAllah, jangan takut soal biaya ada banyak beasiswa asal kamu mau berusaha"

Oh, satu step selesai dilakukan, but we still have another steps.

Di sekitar masa pendaftaran SNMPTN ini, we have done several things, together. Ya bersama GRANAT, saya menjalankan kesibukan kelas 3, jalan jalan #loh, mempersiapkan try out menjelang UN, mempersiapkan ujian praktek, ujian tulis, menggalaukan SNMPTN, dan sudah tentu, bersama mereka saya berjuang dalam UN. Merekalah teman seperjuangan saya dalam menggapai mimpi. Dan mereka yang lain adalah pembakar semangat kami dalam meraih itu, terima kasih bapak dan ibu guru, yang sudah rela mengorbankan waktunya untuk membantu kami menyiapkan tank dan amunisi.







Pasca UN, sudah? No! Masih ada banyak hal yang kami lakukan setelah UN. Mulai dari menyiapkan buken, bumper, sampai nubir. Terima kasih buat Nanda dan Fungi yang sudah ewuh menyiapkan buken sampe si Nanda jatuh sakit.



Dan do you know, keribetan itu saya rasakan saat menyiapkan bumper kelas. Bumper bikin baper. Haha. Jadi, si bumper itu semacam video kelas yang akan ditampilkan di acara perpisahan nanti. Itu semacam kombinasi dari kenangan, harapan, dan doa kami. Kita mengambil lagu Pasti Bisa dari Fade to Black dan Bondan sebagai tema bumper kami. Ya kita pasti bisa, menggapai mimpi dan cita yang telah kita gantung disana, semua itu dapat mewujud dengan mengkombinasikan secara tepat niat yang bulat, usaha yang kuat, dan doa yang ikhlas. Bismillah




. . . menuju bagian 5 . . .

5 komentar: