"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augus...

Bakti Seorang Yahudi kepada Indonesia, Bacaan Antimainstream Menjelang Hari Kemerdekaan


"Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman saja." - Saint Augustine

Siang kemarin, ditemani oleh seorang kawan, M. Reza Affandi, saya mencoba membaca satu halaman lain dari sebuah bab buku besar berjudul 'Bumi', yang bertajuk 'Surabaya'.

Halaman yang saya baca kali ini mungkin hanya diminiati satu dua orang saja, sedang yang lain melewatinya, atau bahkan tak pernah mengira bahwa halaman ini pernah ada. Pada halaman ganjil ini ada satu subbab kecil dengan huruf dicetak tebal terbaca "Pemakaman Kembang Kuning" dan satu sub dari subbab kecil itu tertulis miring "Bakti Seorang Yahudi kepada Indonesia".

Kompleks makam orang-orang Yahudi di Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya

Hal yang membuat saya tertarik membaca halaman ini adalah kisah di halaman-halaman sebelumnya yang bercerita tentang sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan yang begitu kompleks antara saya dan saudara-saudara saya, anak cucu spiritual Ismail, dengan mereka, anak-cucu Israil. Hal lain yang membuat saya tertarik membacanya adalah sudah tentu, rasa ingin tahu saya tentang sejarah negeri ini.

Mari akan saya ceritakan sedikit tentang subbab kecil ini.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan juga konflik antara Israel dan Palestina, orang-orang Yahudi telah datang ke Indonesia. Meskipun tidak ada catatan resmi mengenai komunitas Yahudi yang datang sebelum orang-orang Eropa, tetapi menurut sebuah catatan dari abad pertengahan, orang-orang Yahudi telah berdatangan di pulau Sumatra untuk tujuan perdagangan. Salah satunya adalah berasal dari Fustat, Mesir, yang kemudian meninggal di Barus, Sumatra pada tahun 1290. 

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/ba/Selamat_Datang_Di_Kota_Barus_Kota_Bertuah.JPG

Pada kemudian hari, orang-orang Yahudi banyak berdatangan ke Indonesia bersama orang-orang Portugis, Belanda dan Eropa lainnya. Mereka utamanya adalah Yahudi Askhenazi dan beberapa Sefardi.

Tetapi, bukan soal itu yang hendak diceritakan halaman ini. Sub dari subab kecil ini bercerita tentang sosok Yahudi Mizrahi yang pernah memiliki sebuah peran dalam salah satu babak sejarah Indonesia, dia adalah Charles Mussry.

Charles Mussry adalah seorang Yahudi keturunan Iraq, sehingga disebut dengan Yahudi Mizrahi. Beliau adalah putra dari Jacob Mussry. Peran yang membuat beliau berbeda dan kemudian diceritakan pada halaman ini adalah keikutsertaan beliau menyumbang pada dapur umum selama pertempuran Surabaya tertanggal 27 Oktober-20 November 1945.

Yahudi Iraq Surabaya (jewsofjava.com)

Peran semacam itu sangat wajar dilakoni oleh beliau. Beliau adalah seorang pengusaha kaya di Surabaya. Pada masa itu, beliau memiliki bengkel mobil yang terletak di sebelah Rumah Sakit Simpang. Dan selain sangat berkecukupan, istri beliau, Jujuk, adalah seorang pejuang. Beliau memasok makanan untuk para pejuang di medan tempur, termasuk menyelundupkan senjata. Jujuk, yang berasal dari Madiun, sangat dikenal di kalangan pejuang Surabaya. Beliau tergabung dalam Corps Wanita Pejuang.

Perayaan Bar Mitzvah di rumah Charles Mussry (jewsofjava.com)

Aneh? Saya rasa tidak. Setiap orang memiliki rasa kemanusiaan yang universal. Hanya saja pertanyaannya maukah ia mewujudkannya? Dan beliau, Charles Mussry, mau mewujudkannya.

Berbeda dengan sebagian besar komunitas Yahudi yang memilih meninggalkan Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia, keluarga beliau memilih tetap tinggal di Surabaya. Pada batu nisannya yang beraksara Ibrani, tertulis beliau lahir pada 9 Oktober 1919 dan wafat pada 23 Agustus 1971.

Sebuah surat yang beliau ketik untuk Gabriel Dwek yang memilih meninggalkan Indonesia (jewsofjava.com)
Batu Nisan Charles Mussry

Rumah dan bengkel mobil milik beliau kini tinggal kenangan setelah dijual pada kisaran tahun 1960-an. Bersama Rumah Sakit Simpang, saat ini tempat itu telah disulap menjadi pusat perbelanjaan Delta Plaza atau Plaza Surabaya.

Selain rumah dan bengkel, Sinagoge di Jalan Kayun yang dulu pernah beliau bina kini juga tinggal kenangan. Melalui serangkaian peristiwa hukum, hak milik atas tanah dan bangunan rumah ibadah itu berpindah tangan. Tahun 2013, sinagoge yang berstatus sebagai bagunan warisan cagar budaya itu diratakan dengan tanah.

Sinagoge Kayun (jewsofjava.com)

Tulisan di halaman ini tampaknya berhubungan dengan tulisan di halaman yang lain. Ada ekspatriat-ekspatriat lain yang karena kecintaan dan kepeduliannya pada negeri yang indah ini pernah mengorbankan waktu, kesempatan, fikiran, harta dan bahkan nyawa mereka. Membaca halaman ini membuat saya semakin faham tentang makna nasionalisme, merdeka, dan cinta.

Sedang tentang 'sejarah, fakta, fenomena, harapan dan bahkan ketakutan' yang sempat saya sebut diatas, sebelumnya saya berharap bahwa dengan membaca halaman ganjil ini saya  semakin faham akan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kini, semoga pada kau pula. Setidaknya pada kemudian hari (dan mungkin kini) kita tidak lagi serta merta dan dengan membabi buta menyalahan, menebar kebencian dan berlaku tidak adil pada yang satu karena yang tiga dari mereka menzalimi yang satu dari kita. Berlakulah adil! Begitu tulis Penulis dan sabda Penutur buku ini.

Baru sedikit yang saya baca dari buku super tebal ini, dan bahkan mungkin tak akan pernah selesai hingga kepulangan saya nanti. Semoga berkesempatan membacanya kembali. Sampai jumpa!

ditulis di malam menjelang Hari Kemerdekaan ke 71
Selamat HUT RI! Barakallah fi umrik, Indonesiaku

2 komentar: