Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, ce...

02122016 | Aku Saksi


Hari ini badanku menjadi saksi atas luapan cinta dari selaksa manusia yang hatinya penuh dengan rasa cemburu. Cemburu yang murni, cemburu yang suci, cemburu yang wajar dirasakan para pecinta saat apa yang mereka cinta dihina dan dicela begitu saja. 

Hari ini tubuhku menjadi saksi atas wujudan kasih dari luapan manusia yang hatinya penuh dengan rasa rindu. Rindu akan persahabatan yang sejati, persaudaraan yang abadi, dan persatuan yang hakiki. Rindu yang tersampaikan tatkala mereka bersama merapatkan barisan, mepertemukan ujung kaki, dan menyatukan hati dalam seruan doa pada Ilahi.

Hari ini ragaku menjadi saksi atas kebesaran hati dan kekuatan jiwa sebuah umat yang sedang banyak dirundung uji. Umat yang sebagiannya dilaku dzalim dan lalim di ujung-ujung bumi, bahkan di tanah air mereka sendiri. Umat yang kini sebagiannya sedang terbangun, yang kau tahu, saat terbangun sudah tiada lagi yang dapat menakut-nakuti, pun bahkan ancaman mati.

Hari ini aku gembira luar biasa, sebab aku boleh berharap bahwa nanti aku tak akan berakhir hanya sebagai sebuah benda mati, tetapi tubuhku dibangkitkan, ragaku diberi lisan, dan badanku berkekuatan. Aku akan berlari bersama sahabat-sahabatku menuju mereka, menguatkan hujjah mereka di persidangan maha agung, dan menjadi saksi untuk mereka di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil. Pada saat itu, ketika lisan mereka terkunci, aku berharap, pasir-pasir yang menyusunku, batu-batu yang membentukku, dan tiang-tiang pancang yang meninggikanku dapat bercerita penuh haru akan sebuah peristiwa di masa lalu.

Jumat, 2 Desember 2016

Aku, bangunan kuno kebanggaan bangsa
Sebuah lambang perjuangan kemerdekaan
Monumen Nasional.

0 komentar: