"Kapanpun kamu ingin membaca Taurat, Injil, Suhuf Ibrahim, Musa, Shalih, atau nabi dan rasul yang lain, lalu bacalah Al Quran. ...

Yaumul Asyura, Ketika Umat Islam Memperingati 'Id Yahudi


"Kapanpun kamu ingin membaca Taurat, Injil, Suhuf Ibrahim, Musa, Shalih, atau nabi dan rasul yang lain, lalu bacalah Al Quran. Sebab ia adalah jalan lurus Allah yang semua (utusan) sebelumnya dibimbing.” Ibn Barrajan, 1141

Assalamu alaykum, shalom alechem, damai sejahtera atas kita semua! Bagaimana kabar? Semoga senantiasa dalam keadaan baik iman, jiwa, dan kesehatan. Aamiin. Setelah sekian lama tidak  mengunggah tulisan baru, alhamdulillah, kali ini bisa mengunggahnya kembali. Pada suasana bulan Muharram ini saya mencoba mengompilasi informasi dan menulis perihal Puasa Asyura. Bahasan ini sebenarnya pernah saya unggah di posting terdahulu, Hari Asyura: Yom Kippur atau Pesach? Muharram atau Rabiul Awwal? , namun kali ini saya mencoba membahasnya lebih dalam. InsyaaAllah Tunggu apalagi, segera sediakan secangkir minuman hangat, dan selamat menikmati! Semoga bermanfaat


Puasa Asyura: Sunnah Rasulullah


Rasulullah tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya : “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.” Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” [HR.Bukhari: 2004, Muslim: 1130]

Yaum Asyura adalah salah satu hari yang disunnahkan di dalamnya berpuasa karena keutamaan hari tersebut. Bahkan menurut beberapa riwayat, puasa di hari Asyura disebutkan sebagai bentuk puasa 'wajib' pertama umat Islam sebelum perintah puasa wajib di bulan Ramadhan turun. 

‘Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, puasa Ramadhan itulah yang beliau kerjakan. Lalu beliau tinggalkan puasa Asyura. “Siapa yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa.” [HR. Bukhari: 2002 dan Muslim:1125]

Apakah ini berarti Rasulullah bertasyabbuh?

Imam Nawawi menjelaskan, “Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian beliau tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa Asyura, lalu beliau pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”

Selain keutamaan historis religiusnya, seperti yang tercantum dalam hadits di atas, terdapat pula keutamaan spiritual berpuasa di hari Asyura yakni puasa di hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Rasulullah ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim: 1162]

Namun demikian sebagai bentuk pembeda antara umat Islam dan ahlul kitab, Rasulullah berkeinginan untuk menambah puasa di hari ke-9 di tahun berikutnya. 

Ibnu Abbas berkata: saat Rasulullah berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat melapor: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga.” Ibnu Abbas bercerita, “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” [HR. Muslim: 1134]


Asyuranya Ahlut Taurat


Pada hadits yang menjelaskan alasan orang Yahudi berpuasa di hari Asyura, para ulama, terutama yang mendalami perbandingan agama dan kajian kitab-kitab samawi, berbeda pendapat berkenaan dengan hari apakah sebenarnya ‘hari itu’. Terdapat ulama yang menisbatkannya pada ‘Idul Fatir atau ‘Idul Fishu, yakni Pesach atau Passover. Namun ada juga yang menisbatkannya pada Yaumul Ghufran, yakni Yom Kippur.

Ulama yang menisbatkannya pada ‘Idul Fatir menyebutkan bahwa ‘hari itu’ adalah sebuah perayaan atas diselamatkannya Bani Israil dari musuh mereka, yakni peristiwa eksodus atau hijrah. Hari raya dalam syariat Yahudi yang dikhususkan untuk memperingati peristiwa tersebut adalah ‘Idul Fatir atau Pesach. Akan tetapi berdasarkan kalender Yahudi, ‘Idul Fatir diperingati pada tanggal 15 bulan Nisan (bulan pertama dalam kalender keagamaan, atau bulan ketujuh dalam kalender sipil) bukan tanggal 10 seperti yang dilestarikan oleh umat Islam saat ini. Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah hari raya ini tidak dirayakan dalam bentuk puasa, tetapi justru dalam bentuk pengurbanan dan makan malam khusus yang disebut makan seder dengan roti khusus yang disebut matza (roti tak beragi).

Sementara itu, ulama dengan pendapat yang kedua menyatakan bahwa ‘hari itu’ adalah Yom Kippur yang terjadi pada tanggal 10 di bulan pertama, yakni 10 Tisyri (bulan pertama kalender sipil Yahudi), dan juga diperingati dengan cara berpuasa bahkan selama 25 jam lamanya. Akan tetapi, keterangan bahwa ‘hari itu’ diperingati sebagai hari diselamatkannnya Bani Israil dari musuh mereka tampak tidak relevan dengan tema Yom Kippur sebagai hari Pendamaian / Pertaubatan dan menjadi antitesis bagi pendapat ini.

Namun, seorang hakham Yahudi, Rabbi Ben Abrahamson, memberikan penjelasan bahwa hal itu masih relevan. Beliau menyebutkan bahwa setiap hari raya dalam syariat Yahudi juga diperingati dengan cara dan untuk mengenang kisah eksodus karena eksoduslah yang menjadi awalan bagi turunnya semua perintah Taurat yang lain. Selain itu, keterangan lain yang dapat ditambahkan adalah bahwa Yom Kippur disebut juga Shabbat Shabbaton atau Sabatnya Sabat.

“Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh (shabbat shabbaton), bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.” [Wayyiqra 16: 31]

Dalam kitab Taurat Yahudi, ada disebutkan bahwa hari Sabat diperingati bukan karena Allah ‘beristirahat’ setelah penciptaan pada hari tersebut, tetapi ia dikuduskan sebagai sebuah peringatan akan peristiwa eksodus:

“Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Allah, Tuhanmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Allah, Tuhanmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.” [Devarim 5: 14]

Maka, bila hari Sabat biasa saja dirayakan untuk mengenang peristiwa eksodus, maka Yom Kippur sebagai Shabbat Shabbaton dapat dimaknai sebagai sebuah ‘maha’ peringatan akan peristiwa eksodus.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, kami menjumpai kesimpulan bahwa ‘hari itu’ lebih dekat hubungannya dari Yom Kippur atau Yaumul Ghufran, hari Pengampunan. Wallahu a’lam


Rumor Hadits Palsu


Terdapat sebagian ulama dan umat Islam yang berkeberatan dengan hadits yang menjadi dasar diperingatinya hari Asyura tersebut. Sebagian dari mereka berkeberatan dengan penisbatannya kepada tanggal 10 Asyura karena peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Sebagian yang lain, terutama dari kelompok Syi’ah, menyampaikan bahwa hadits hari Asyura, seperti yang disebutkan diatas, adalah fabrikasi dan dibuat-buat untuk menjadi tandingan peringatan duka atas wafatnya Imam al Hussain di Karbala. Dan sebagian yang terakhir berpendapat bahwa dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang-orang Yahudi bersuka cita pada hari itu, sedang hal ini tidak cocok dengan tema Yom Kippur sebagai hari Pertaubatan. Lalu, bagaimana penjelasannya?

Perihal keberatan yang pertama, bahwa peristiwa hijrah Rasulullah terjadi di bulan Rabiul Awwal sehingga seharusnya puasa Asyura tidak jatuh pada tanggal 10 Muharram, terdapat beberapa alternatif penjelasan untuk mendamaikannya. Penjelasan pertama disampaikan oleh ulama Islam Imam Ibn Hajar al Asyqalani. Beliau menyatakan bahwa hal ini dapat bermaksud Rasulullah mengetahui perihal puasa Asyura yang dilakukan umat Yahudi adalah setelah beliau sampai di Madinah dan mengamati Yahudi berpuasa pada hari itu untuk yang kali pertama. Dengan kata lain, Rasulullah tiba di Madinah, tinggal di sana sampai Asyura, dan menjumpai umat Yahudi berpuasa. Penjelasan berikutnya disampaikan oleh seorang hakham Yahudi, Rabbi ben Abrahamson. Beliau menyampaikan bahwa terdapat perbedaan dasar penanggalan di Jazirah Arab sebelum peristiwa Haji Wada’ dan setelahnya. Sebelum Haji Wada’, orang-orang melakukan interkalasi pada sistem penanggalan yang dipakai. Interkalasi adalah penambahan satu bulan ekstra untuk menyesuaikan kalender dengan musim atau hal yang lain. Pada saat Haji Wada’, sistem interkalasi kalender dilarang oleh Allah karena kebiasaan orang Arab ialah melakukan interkalasi sesuai dengan keinginannya sendiri (hal ini berhubungan dengan bulan-bulan haram yang pada bulan tersebut perang dilarang). Setelah Haji Wada’ inilah penanggalan Islam dihitung berdasarkan perputaran bulan secara murni. Perbedaan sistem lunar murni dan lunisolar inilah yang menjadikan Muharram saat ini adalah Rabiul Awwal saat peristiwa hadits puasa Asyura itu terjadi.

Keberatan yang kedua menyatakan bahwa hadits puasa Asyura, seperti yang disebutkan diatas, adalah fabrikasi dan dibuat-buat untuk menjadi tandingan peringatan duka atas wafatnya Imam al Hussain di Karbala. Hadits ini diriwayatkan tidak hanya dalam satu riwayat namun ada di banyak riwayat: Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, dan Ath-Thoyalisi 928. Periwayatan yang banyak ini menandakan tingkat keshahihan (kemungkinan hal tersebut terjadi dan benar) hadits tersebut adalah besar. Sehingga kemungkinan hadits tersebut adalah fabrikasi semakin kecil, insyaaAllah.

Perihal Tragedi Karbala, sudah sepatutnya seorang muslim ikut berduka dengan tragedi tersebut. Akan tetapi tidak berlebihan didalamnya insyaaAllah adalah yang lebih tepat. Beristirja’ adalah salah satu hal yang dianjurkan saat mendapatkan musibah, bukan meratap terlalu berlebihan atau merobek baju dan melukai diri sendiri.

Keberatan berikutnya adalah ketidakcocokan Yom Kippur sebagai Hari Pertaubatan dengan perayaan dan baju bagus. Terdapat keterangan yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah menjadikan ‘hari itu’ sebagai hari raya dan mereka memakaikan perhiasan dan pakaian indah kepada kaum wanitanya.

Ibnu Abbas berkata: saat Rasulullah berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat melapor: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga.” Ibnu Abbas bercerita, “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” [HR. Muslim: 1134]

Hal ini tampak tidak cocok dengan tema Yom Kippur sebagai Hari Pertaubatan yang seharusnya diperingati dengan khidmat dan tenang. Akan tetapi, terdapat sebuah keterangan menarik dalam kitab Yahudi yang menyatakan bahwa hari Yom Kippur adalah hari dimana gadis-gadis muda di Yerusalem akan memakai baju putih dan menari di kebun-kebun.

Rabbi Shimon ben Gamaliel mengatakan “Tidak ada hari raya yang lebih menggembirakan di Israel daripada Perayaan Tanggal 15 Av dan Yom Kippur, yakni ketika gadis-gadis Yerusalem keluar rumah dengan baju putih. Mereka menggunakan baju pinjaman agar tidak membuat malu orang-orang yang tidak memilikinya.” [Misynah Ta’anit 4: 8]

Keterangan ini menjadi ‘pendamai’ akan pendapat tersebut sekaligus menjadi informasi bahwa konsep hari raya dalam syariat Yahudi (boleh jadi pemahaman di saat itu saja atau sampai kini) sedikit berbeda dengan konsep hari raya dalam Islam, dimana pada semua hari raya Islam (tidak termasuk hari puasa-puasa sunnah) seorang muslim diharamkan berpuasa.

Akan tetapi, di luar keberatan-keberatan diatas yang menjadi pembeda dalam teknis melaksanakan ataupun memaknai hari Asyura, sebagai muslim sudah sepatutnya kita saling menghargai pendapat yang diambil oleh saudara muslim yang lain meskipun berbeda (asal berdasar dan apalagi perbedaannya hanya terletak pada hal furu serta khazanah) dan tidak menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai penghalang bersatunya umat. Wallahu a’lam


Yom Kippurnya Al Quran


Meskipun bukan sebuah kitab sejarah, Al Quran mendokumentasikan sebagian sejarah umat-umat terdahulu untuk diambil darinya ibrah dan pembelajaran bagi para pembacanya. Sebagian kisah-kisah tersebut ternyata juga terdokumentasikan di kitab-kitab sebelumnya. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan ketika beberapa ayat Al Quran menceritakan bagaimana kondisi ahlul kitab yang membaca Al Quran dan kemudian seperti bernostalgia, mereka menangis dan tersedu membaca firman Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” [Al Isra’ 17: 107-109]

Yom Kippur dalam syariat Yahudi merupakan hari kudus yang di hari itu dosa-dosa umat Yahudi diampuni. Sebab hal tersebut, ia dikenal dengan nama Yaumul Ghufran atau Hari Pengampunan di kalangan umat Yahudi Arab. Selaras dengan hal tersebut, penghapusan dosa juga diidentikkan dengan keutamaan berpuasa di hari Asyura. Pengidentikkan ini ternyata tidak tak beralasan, ada sejarah dibalik hari tersebut yang ternyata diceritakan di Taurat dan juga Al Quran.

Kisah ini bermula dari sampainya Bani Israel di padang Sinai pada awal bulan Sivan setelah perjalanan panjang di padang pasir di bawah perlindungan Allah. Perjalanan panjang yang penuh keajaiban itu, seperti terbelahnya laut merah, manna dan salwa, air yang terpancar, dan terkalahkannya Amalek, meneguhkan iman di hati orang-orang Bani Israil dan sekaligus ukhuwah diantara mereka.

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). [Al Baqarah 2: 40] 
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. [Al Baqarah 2: 47] 
Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. [Al Baqarah 2: 49-50] 
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘”Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al Baqarah 2: 55-57] 
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al Baqarah 2: 60]

Setelah berbagai keajaiban tersebut, di padang Sinai, Allah mengambil perjanjian dari Bani Israil untuk senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lalu kemudian, Nabi Musa dipanggil menghadap Allah untuk menerima Taurat. 

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa’.” [Al Baqarah 2: 64]

Namun apa yang terjadi berikutnya?

“Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” [Al Baqarah 2: 65]

Apakah yang terjadi sehingga tanpa karunia dan rahmat Allah mereka tergolong orrang yang merugi? Yang terjadi adalah sebuah tragedi yang umat Yahudi menyebutnya sebagai Chet ha 'Eggel, Dosa Anak Lembu.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.” [Al Baqarah 2: 51]

Kisah ini didetailkan dalam beberapa ayat lain di dalam Al Quran, diantaranya:

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”. [Al Araf 7: 142] 
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” [Al Araf 7: 145] 
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”. 
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”  
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Araf 7: 148-153]

Dan ini klimaksnya,

Maka Musapun berdiri di pintu tempat kemah itu serta berkata: “Barangsiapa yang sebelah Allah marilah kepadaku.” Maka berhimpunlah kepadanya semua anak Lewi. Maka kata Musa kepadanya: “Demikianlah firman Allah, Tuhan Israel: ‘Hendaklah masing-masing kamu sandangkan pedangnya dan hendaklah kamu pergi datang dalam tempat kemah ini dari pada suatu pintu kepada suatu pintu dan hendaklah masing-masing kamu membunuh saudaranya dan masing-masing membunuh sahabatnya dan masing-masing membunuh orang sekampungnya’.” 
Maka diperbuatlah oleh anak-anak Lewi seperti kata Musa itu maka pada hari itu matilah dari pada kaum itu kira-kira tiga ribu orang banyaknya. Maka kata Musa: “Sucikanlah dirimu bagi Allah pada hari ini bahkan masing-masing kamu atas melawan anaknya dan masing-masing atas saudaranya supaya pada hari ini dikaruniakan-Nya kepadamu suatu berkat.” [Syemot 32: 27-29]

Hari itu, beribu orang Bani Israel saling membunuh dan terbunuh. Ada seseorang yang berhadapan dengan bapaknya atau saudaranya, lalu membunuhnya sedangkan ia dalam keadaan tidak mengetahuinya. Pada saat itu mereka saling berseru, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada hamba yang bersabar atas dirinya sampai ia mendapatkan ridha-Nya. Akhirnya mereka yang terbunuh gugur sebagai syuhada’, sedangkan orang-orang yang masih hidup diterima taubatnya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, 945, dengan sanad yang shahih). Kemudian dibacakanlah firman Allah, 

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’.” [Al Baqarah 2: 54] 
Maka pada keesokkan harinya kata Musa kepada kaum itu: “Bahwa kamu sudah berbuat suatu dosa yang besar maka sekarang aku hendak naik menghadap Allah kalau-kalau dapat aku mengadakan perdamaian karena dosamu itu.” [Syemot 32: 30] 
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya”. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. ... " [Al Araf 7: 148-156] 
Maka firman Allah kepada Musa: “Barangsiapa yang telah berdosa kepada-Ku ialah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku. Maka sekarang pergilah engkau hantarkanlah kaum itu ke tempat yang telah Aku katakan kepadamu maka ingatlah bahwa malaikat-Ku akan berjalan di hadapanmu tetapi pada hari pembalasan-Ku maka Aku akan membalas dosanya itu ke atasnya.” [Syemot 32: 34] 
... Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". [Al 'Araf 7: 156]

Setelah Nabi Musa kembali, Allah memerintahkan baliau untuk menulis luh-luh baru yang sama seperti luh-luh pertama. Pada hari pertama bulan Elul, Nabi Musa kembali menghadap (hal ini diisyaratkan di dalam Al Quran, dimana disebutkan beberapa kali perihal Allah memberikan Taurat kepada Bani Israil), selama 40 hari 40 malam, menatah kembali perintah Allah di luh-luh batu dan Allah mengampuni Bani Israil.

Memegang luh-luh yang baru di tangan beliau, Nabi Musa berdiri di Bukit Sinai dan Allah mengajarkannya cara bagaimana Bani Israil melakukan pendamaian, yakni dengan taubat dan shalat. Lalu Allah berfirman:

“Allah, Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih, yang panjang sabar dan limpahlah rahmat-Nya dan kebenaran-Nya. Yang menyimpan rahmat bagi beribu-ribu orang serta mengampuni kejahatan dan dosa dan yang sekali-kali tidak membenarkan orang jahat melainkan membalaskan kejahatan segala bapa ke atas anak cucunya sampai keturunannya yang ketiga dan yang keempat.” [Syemot 34: 6-7]

Lalu bersujudlah Nabi Musa, menundukkan kepalanya sampai ke bumi serta menyembah. Hari itu adalah hari ke 10 bulan Tisyri, hari Pertaubatan, Yaumul Ghufran, Yom Kippur. Kemudian dilanjutkanlah firman Allah:

"... Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al Araf 7: 156 – 157]

Maha Benar dan Maha Agung Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu a’lam.

0 komentar: